Loading...

PENGAIRAN AIR TANAMAN PADI SAWAH

PENGAIRAN AIR TANAMAN PADI SAWAH
Air tidak hanya menentukan produktivitas tanaman, tetapi juga mempengaruhi intensitas pertanaman (IP) dan luas tanam potensial. Potensi penurunan hasil merupakan akibat tidak tercukupinya kebutuhan air tanaman selama masa pertumbuhannya. Kebutuhan air dalam satu siklus pertumbuhan tanaman padi, yaitu : kebutuhan untuk pengolahan tanah, pembibitan, tanam sampai primordial, primordial sampai pembungaan, Bunga 10% sampai penuh, bunga penuh sampai pemasakan dan pemasakan sampai panen. Kebutuhan air untuk penggenangan tanaman padi sawah, yaitu : Penggenangan 2-5 cm setelah bibit ditanam; Pada fase pembentukan anakan, ketinggian air dipertahankan antar 3-5 cm; Pada masa bunting, ketinggian air 10 cm; Pada masa pembungaan, ketinggian air 5-10 cm; Ketika tampak keluar bunga, sawah perlu dikeringkan selama 4-7 hari; Saat bunga muncul serempak air segera dimasukan kembali; Menjelang bunting sawah dikeringkan selama 4-5 hari. Teknik Penggunaan Air Tanaman Padi Sawah, Yaitu : Irigasi berselang (Intermittent); Pengairan Tergenang (Kontinyu). Pengairan Berselang Pengairan berselang adalah cara pemberian air pada sawah digenangi dan dikeringkan secara berselang. Pengairan berselang tergantung jenis tanah dan pola pengairan. Cara pemberiannya sebagai berikut : Tanam bibit air macak-macak; Secara berangsur tanah diairi 2-5 cm s/d 10 hari; Biarkan sawah mengering 5-6 hari; Setelah terlihat permukaan tanah retak, airi kembali 5 cm; Keringkan tanpa diairi 5-6 hari, lalu air kembali 5 cm; Ulangi hal diatas hingga Fase Stadia Pembungaan; Fase keluar bunga s/d 10 hari sebelum panen airi setinggi 5 cm, kemudian keringkan. Pengairan Basah Kering (PBK) Cara pengairan basah kering : Tekan paralon secara vertical; Gunakan balok/papan serta palu untuk memudahkan; Cek jarak di permukaan tanah 15 cm (tabung 35 cm) atau 20 cm (tabung 40 cm); Posisi paralon setelah tertanam; Keluarkan tanah dari dalam paralon sampai kedalaman 20 cm; Cek kembali kerataan dengan waterpas. Oleh : Rogerius P. Rao, SP Penyuluh Pertanian pada BPP Noemuti Kabupaten TTU