Pada tahun 2019 Balai Penyuluhan Kecamatan Jogorogo melaksanakan program Pengembangan Ubi Jalar di desa Brubuh, desa Tanjungsari dan Desa Macanan. Salah satu kegiatan dalam program ini adalah pengamatan OPT pada lahan percobaan. Adapun Organisme Pengganggu Tanaman yang ditemukan dalam lahan antara lain : Hama boleng, bongkeng, lanas – Cylas formicarius Deskripsi dan Biologi. Siklus hidup kumbang Cylas terdiri dari Telur – Larva – Pupa – Imago (metamorfosis sempurna : holometabola). Telur. Kumbang betina meletakkan telurnya satu per satu kedalam rongga kecil pada bagian pangkal batang atau umbi. Telur Cylas berbentuk bulat dan mengkilap. Rongga kecil tempat meletakkan telur ditutupi dengan lapisan pelindung sehingga sulit untuk dilihat. Larva berkembang dan membuat lubang gerekan di bagian dalam pangkal batang atau umbi. Larva berwarna putih, mempunyai bentuk tubuh melengkung dan tidak berkaki. Stadia pupa terjadi didalam umbi. Pupa berwarna putih. Beberapa hari setelah keluar dari pupa, kumbang dewasa muncul dari umbi. Kumbang betina mencari umbi sebagai tempat untuk bertelur dengan cara masuk melalui celah/retakan tanah karena kumbang betina tidak bisa menggali tanah. Jenis kelamin kumbang Cylas dapat dibedakan berdasarkan bentuk antenanya. Antena kumbang jantan berbentuk filiform, ruas-ruas antena memiliki ukuran sama dan silindris, sedangkan pada kumbang betina ruas terakhir/bagian ujung antena berbentuk seperti gada. Kumbang Cylas jantan memiliki mata faset lebih besar daripada betina. Pada suhu optimal yaitu sekitar 27°-30°C, satu siklus hidup C. formicarius memerlukan waktu sekitar 33 hari. Umur kumbang (serangga dewasa) berkisar antara 2,5 s/d 3,5 bulan. Pada periode tersebut, kumbang betina dapat menghasilkan telur sekitar 100 – 250 telur. Pada kondisi suhu dibawah suhu optimal, perkembangan Cylas membutuhkan waktu lebih lama. Kerusakan. Kumbang Cylas dewasa memakan epidermis pangkal batang dan bagian permukaan luar dari umbi sehingga menyebabkan terbentuknya lubang pada umbi. Lubang yang disebabkan oleh aktivitas makan kumbang dapat dibedakan dengan lubang yang diakibatkan oleh aktivitas oviposisi kumbang betina, karena lubang tersebut lebih dalam dan ditemukan adanya kotoran/bekas gerekan (Gbr. 5). Larva yang berkembang didalam umbi membuat lubang gerekan dan menyebabkan kerusakan. Akibat aktivitas larva pada saat membuat lubang gerekan mengakibatkan terbentuknya serbuk/tepung pada rongga bekas gerekan didalam umbi. Umbi yang rusak menghasilkan senyawa beracun (senyawa terpene) sehingga mengakibatkan umbi tersebut tidak dapat dikonsumsi meskipun kandungan senyawa terpene pada umbi kadarnya rendah dan tingkat kerusakan fisiknya pun relatif ringan. Gejala kerusakan yang timbul pada pangkal batang yaitu terjadinya malformasi, penebalan, dan adanya peretakan pada bagian dalam jaringan yang terserang (Gbr. 6). Namun gejala pada pangkal batang sulit ditemukan. Penyebaran. Kumbang Cylas merupakan hama penting pada tanaman ubi jalar di seluruh dunia, terutama di daerah-daerah yang beriklim kering. Dengan kata lain, kumbang Cylas merupakan hama utama pada ubi jalar. C. formicarius merupakan hama penting di India, negara-negara di Asia Tenggara, Oseania, Amerika Serikat dan Karibia. Di Afrika, C. formicarius ditemukan hanya di daerah Natal-Afrika Selatan dan di pesisir Kenya. Pengendalian. Pada kondisi populasi kumbang Cylas tinggi, tidak ada satu pun metode pengendalian yang dapat memberikan perlindungan memadai terhadap pertanaman ubi jalar. Integrasi beberapa teknik pengendalian, dengan penekanan pada pencegahan serangan dari kumbang Cylas merupakan tindakan perlindungan tanaman yang lebih efektif. Pengendalian secara kultur teknis. Pengendalian secara kultur teknis terhadap kumbang Cylas telah terbukti efektif dan harus menjadi dasar utama dari tindakan pengendalian yang dilakukan. Pengendalian secara kultur teknis meliputi : penggunaan bahan tanam (stek batang) yang terbebas dari infestasi kumbang Cylas, melakukan rotasi tanaman, membersihkan dan menyingkirkan sisa-sisa tanaman atau umbi sisa panen sebelumnya yang tertinggal di lapangan (sanitasi), melakukan penggenangan lapangan selama 24 jam setelah selesai panen, membersihkan dan menyingkirkan inang alternatif (tumbuhan inang liar), menanam ubi jalar jauh dari daerah sumber serangan kumbang Cylas, pengurugan guludan tanah di sekitar pangkal batang tanaman dan pengurugan retakan-retakan tanah, dan menerapkan sistem pengairan yang cukup untuk mencegah atau mengurangi retakan tanah. Perlakuan pada bahan tanam. Perendaman bibit tanaman kedalam larutan Beauveria bassiana atau insektisida (seperti karbofuran atau diazinon) selama 30 menit sebelum penanaman dapat mengendalikan kumbang Cylas pada periode awal musim tanam. Penggunaan varietas agak tahan. Varietas tahan atau varietas yang mempunyai tingkat ketahanan yang tinggi terhadap kumbang Cylas sampai dengan saat ini belum ada. Beberapa varietas memiliki tingkat ketahanan yang rendah hingga menengah. Varietas lainnya terhindar dari serangan kumbang Cylas karena umbi yang dihasilkannya terletak lebih dalam dari permukaan tanah atau karena varietas tersebut mempunyai masa panen yang singkat dan dapat dipanen lebih awal. Feromon seks. Feromon spesifik yang dihasilkan oleh kumbang Cylas betina untuk menarik kumbang jantan telah berhasil diidentifikasi. Feromon lures untuk C. formicarius sudah tersedia secara komersial. Perangkap feromon digunakan sebagai alat untuk memonitoring dan memantau keberadaan populasi kumbang Cylas. Banyak perangkap hasil rancangan petani dengan menggunakan bahan lokal efektif untuk menangkap kumbang Cylas. Hasil tangkapan perangkap bisa menjadi indikator ada tidaknya kumbang Cylas. Jika pada perangkap tidak ditemukan kumbang Cylas, itu merupakan indikasi bahwa pertanaman ubi jalar di lapangan aman dari serangan kumbang Cylas. Agensia hayati. Agensia hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan kumbang Cylas antara lain Beauveria bassiana, Metarrhizium anisopliae, nematoda Heterorhabditis spp. dan Steinernema spp. Jamur entomopatogen dapat menginfeksi dan membunuh serangga dewasa (kumbang), sedangkan nematoda dapat membunuh larva. Predator. Semut, laba-laba, kumbang Carabidae dan cocopet merupakan predator-predator umum yang mempunyai peranan penting sebagai musuh alami kumbang Cylas. Hama Penggerek Batang (Omphisa anastomasalis) Deskripsi dan Biologi. Sebagian besar telur diletakkan secara individual di permukaan bawah daun, terutama di bagian tepi daun. Ada juga telur yang diletakkan pada batang. Stadia telur, larva sampai dengan pupa membutuhkan waktu rata-rata 55-65 hari. Stadia larva terdiri atas enam instar. Larva yang baru muncul memiliki kepala berwarna coklat sedangkan bagian tubuhnya berwarna kemerahan atau merah muda. Setelah beberapa hari, tubuhnya berubah menjadi berwarna krem dan mempunyai bintik-bintik hitam. Ukuran larva besar mencapai 30 mm. Pada tanaman yang terserang biasanya terdapat tumpukan serbuk halus berwarna kecoklatan di sekitar pangkal batang. Sebelum menjadi pupa, larva membuat lubang keluar yang ditutupi dengan lapisan pelindung. Masa pupa berlangsung sekitar dua minggu, berada didalam kepompong yang tertutup oleh serat dan terletak didalam terowongan/lubang gerekan pada batang. Serangga dewasa penggerek batang yaitu berupa ngengat. Ngengat hidup selama 5-10 hari. Ngengat betina dapat meletakkan telur 150-300 telur. Ngengat berukuran 15 mm. Kepala dan bagian tubuh ngengat berwarna coklat kemerahan, sedangkan sayapnya berwarna coklat muda. Kerusakan. Larva membuat lubang dengan cara menggerek bagian dalam batang tanaman ubi jalar tidak lama setelah larva keluar dari telur, dan kadang-kadang menembus leher pangkal umbi. Akibat aktivitas makan larva menyebabkan terjadinya pembesaran dan lignifikasi pada pangkal batang dan terbentuknya rongga dimana rongga tersebut diisi dengan serbuk halus bekas gerekan. Tanaman menjadi layu dan mati. Serangan penggerek batang pada tahap awal pertumbuhan tanaman ubi jalar dapat menghambat pembentukan umbi. Penyebaran. Penggerek batang merupakan salah satu hama yang paling merusak pada tanaman ubi jalar di daerah tropis dan sub tropis Asia serta daerah Pasifik. Hama penggerek batang ubi jalar tersebar luas di Filipina, Indonesia, India, Sri Lanka, Malaysia, Taiwan, Hawaii, dan Vietnam. Serangan hama penggerek batang ubi jalar terjadi di negara Cina, Jepang, Kamboja, Laos, Burma (Myanmar) dan Thailand. Serangan pada saat fase pertumbuhan tanaman dapat mengakibatkan kehilangan hasil 30-50% atau lebih. Pengendalian. Penggunaan bahan tanam yang mengandung telur penggerek batang atau menanam tanaman baru yang berdekatan dengan pertanaman yang sudah terserang penggerek batang merupakan sarana utama terjadinya penyebaran hama ini. Perlakuan pada bahan tanam dan pergiliran tanaman mempunyai arti penting terhadap pengendalian hama ini. Pengurugan pada guludan sering dipraktekkan untuk mengurangi kerusakan dari serangan kumbang Cylas. Namun, selain itu ternyata pengurugan pada guludan juga memberikan kontribusi positif terhadap upaya pengendalian penggerek batang. Pengurugan pada guludan menjadi efektif karena lubang yang dibuat oleh larva sebagai jalan keluar serangga dewasa penggerek batang menjadi tertutupi oleh tanah. Cocopet dan semut dapat menyerang larva yang masih berkembang dalam batang tanaman ubi jalar. Sumber ketahanan genetik terhadap penggerek batang ubi jalar telah dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Sayuran Asia, Taiwan. Penyakit utama yang menyerang ubi jalar Kudis (Scab) Disebabkan oleh cendawan Sphaceloma batatas atau Elsinoe batatas. Patogen ini merupakan salah satu patogen penting di daerah tropik dan dapat menurunkan hasil hingga 30% pada varietas yang rentan terhadap penyakit kudis. Kondisi lingkungan yang lembab dan curah hujan yang tinggi sangat mendukung perkembangan cendawan Shpaceloma batatas atau Elsinoe batatas. Sumber inokulum berasal dari stek yang sakit, umumnya tanaman ubijalar ini diperbayak dari stek, maka penyebaran cendawan ini sangat mudah. Penyakit dapat berkembang biak dalam cuaca sejuk pada suhu 13–27 oC. Gejala kerusakan akibat kudis Gejala spesifik tanaman yang terserang cendawan ini adalah berupa kudis pada daun dan batang. Awalnya gejala ini berbentuk bercak bundar sampai elips pada batang, pada serangan yang berat panjang bercak mencapai 1 cm. Pada tingkat selanjutnya daun berubah bentuk menjadi keriting atau berkerut dan tunas-tunas menjadi keriting atau berkerut dan tunas-tunas muda menjadi kerdil. Akibat serangan ini daun ubi jalar menjadi tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga menurunkan hasil. Pengendalian Penyakit Kudis Menanam varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit kudis. Melakukan perbanyakan bibit dengan umbi dan pergiliran tanaman. Menanam ubi jalar dari klon campuran yang mempunyai daya hasil tinggi. Menyempurnakan drainase dapa musim penghujan. Memberikan mulsa jerami pada bedeng-bedeng tanaman ubi jalar. Menggunakan bibit ubi jalar yang berasal dari stek bebas penyakit. Membersihkan sisa-sisa tanaman (sanitasi kebun). Memangkas bagian tanaman yang sakit dan membakarnya. Penulis : AGNES DYAN PARAMITA, admin Cybex Kecamatan Jogorogo