Pengaruh Kulit Buah Jengkol (Phitecellobium lobatum (Jack) Prain ) terhadap Tingkat Konsumsi Makan Tikus Sawah (Rattus argentiventer (Rob & Kloss) Oleh : Golda T.S Harianja Pengaruh larutan kulit buah jengkol (Phitecellobium lobatum ((Jack) Prain) terhadap tingkat konsumsi makan tikus sawah (Rattus argentiventer (Rob & Kloss) di laboratorium. Pengendalian kimiawi nampaknya dapat memberikan hasil yang lebih baik dibanding teknik lain, namun bahan-bahan kimia yang digunakan membahayakan bagi makhluk hidup lain yang bukan sasaran seperti manusia atau hewan piaraan maka dari itu penggunaan repelan dari bahan nabati yaitu kulit buah tanaman jengkol diharapkan dapat menekan serangan tikus sawah di lapangan. Penelitian ini Tikus sawah (Rattus argentiventer (Rob & Kloss) merupakan hama padi utama di Indonesia, kerusakan yang ditimbulkan cukup berarti . Di Indonesia, kehilangan hasil akibat serangan tikus sawah diperkirakan dapat mencapai 200.000 – 300.000 ton per tahun .Tikus merupakan salah satu binatang hama yang sulit dikendalikan dibandingkan dengan hama lainnya. Daya adaptasi hama ini terhadap lingkungannya sangat baik, yaitu dapat memanfaatkan sumber makanan dari berbagai jenis (omnivora). Hewan inipun berperilaku cerdik. Segala aktivitas dilakukan malam hari dengan dukungan indera terlatih sehingga mobilitasnya tinggi dan dalam habitat yang memadai cepat berkembang biak dengan daya reproduksi tinggi dan berumur panjang dibandingkan hama lainnya. Berbagai teknik pengendalian telah dilakukan oleh masyarakat petani seperti kultur teknis, sanitasi, maupun secara fisik dan biologis . Namun teknik-teknik pengendalian tersebut tidak selalu memberikan pengaruh yang besar terhadap menurunnya populasi dari hama tersebut . Begitu pula halnya dengan pengendalian kimiawi yang menggunakan bahan-bahan kimia baik berupa umpan beracun, bahan fumigan, penolak dan penarik maupun pemandul. Dalam upaya menjaga kelestarian alam dan keamanan serta mengurangi penggunaan pestisida sintetik telah dikembangkan alternatif lain yang berasal dari tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif. Penggunaan alternatif ini berasal dari tanaman yang dapat diperoleh dari biji, buah, daun, kulit kayu maupun bagian akar secara ekstraksi perlu dikembangkan di masa mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang berpotensi dalam pengendalian dengan menggunakan bahan nabati yaitu tanaman jengkol. Jengkol banyak mengandung zat, antara lain adalah sebagai berikut: protein, kalsium, fosfor, asam jengkolat, vitamin A dan B1, karbohidrat, minyak atsiri, saponin, alkaloid, terpenoid, steroid, tanin, dan glikosida. Pemberian larutan kulit buah jengkol dalam penelitian ini diharapkan mampu menekan serangan tikus sawah di lapangan. Pemberian kulit buah jengkol didasari oleh prinsip pemanfaatan limbah pertanian serta upaya menjaga kelestarian alam dan keamanan untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik yang menyebabkan berbagai efek pada lingkungan dan hewan lain yang bukan sasaran. Keuntungan menggunakan pengendalian ini adalah adalah penggunaannya tidak berbahaya karena toksisitasnya terhadap mamalia relative rendah. Relatif mudah dan murah untuk digunakan oleh petani dan tidak meninggalkan residu. BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan antara lain adalah plastik, lakban, pakan tikus umpan dibuat dari campuran tepung gandum, gula pasir, gula merah, parafin, tepung ikan, tepung kemiri, minyak goreng, telur, MSG, kalsium propionat, sodium benzoate, vitamin E, tikus sawah, air, sekam, dan kulit buah jengkol yang sudah tua. Alat-alat yang digunakan adalah timbangan, blender,sendok, gelas ukur, nampan,ember, pisau, gunting, meteran, cetakan umpan, gelas ukur, termometer, kompor, kuali, wadah baskom, saringan, kalkulator, kandang tikus, perangkap tikus yang sudah di modifikasi dari kawat dan bumbung dari pipa... Kemudian di pilih kulit buah jengkol yang sudah tua lalu dicuci dengan air dan ditiriskan ± 15 menit. Pembuatan pakan tikus Umpan dibuat dari campuran tepung gandum, gula pasir, gula merah, parafin, tepung ikan, tepung kemiri, minyak goreng, telur, MSG, kalsium propionat, sodium benzoate, vitamin E dan air. Semua bahan yang telah ditimbang (kecuali parafin,gula merah dan gula pasir) dicampurkan sampai rata, sedangkan gula merah dan gula pasir dicairkan pada air 150 ml kemudian dimasak sampai berbentuk karamel.Setelah gula merah sudah mengental kemudian dicampur dengan parafin lalu dimasak sampai parafin mencair. Kemudian bahan (tepung gandum, tepung ikan, tepung kemiri, minyak goreng, telur, MSG, kalsium propionat, sodium benzoate, vitamin E ) yang telah diaduk rata kemudian dimasak sambil digonseng selama 20 menit pada suhu maksimal 60 oC. Kemudian diangkat dan dicetak dengan menggunakan cetakan umpan yang telah disediakan. Umpan yang telah dimasukkan kecetakan ditunggu sampai dingin kemudian baru bisa dikeluarkan dari cetakan.