v:* {behavior:url(#default#VML);} o:* {behavior:url(#default#VML);} w:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;} I. Latar belakang Budidaya cabe merupakan usahatani yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, dimana bertanam cabe dapat memberikan keuntungan yang melimpah,oleh karena banyak petani yang bersedia mengorbankan apa yang mereka miliki hanya untuk modal bertanam cabe, memang sangat menggiurkan. Seperti yang terjadi pada saat sekarang dimana sejak bulan Nopember 2010 sampai dengan sekarang, semua orang di Negeri ini tidak ada yang tidak membicarakan masalah cabe, dikarenakan harga cabe yang ada sangat tinggi, bahkan melampaui batas kewajaran, disinilah petani yang bernasib baik akan mendapatkan keuntungan sangat berlipat. Beberapa hal mendasar yang mengakibatkan tingginya harga cabe adalah dikarenakan keadaan alam yang kurang bersahabat, baik itu bencana erupsi gunung Merapi dan Bromo, serta anomali musim . Salah satu faktor penentu keberhasilan usahatani cabe adalah tersedianya bibit cabe yang bermutu baik, sebagian besar petani cabe menggunakan bibit yaitu membeli bibit jadi yang tidak jelas kualitasnya, ketrampilan petani membuat rendah. Di sisi lain media tanam bibit cabe beragam sumber pupuk organiknya. Kita ketahui bahwa kontribusi bibit adalah pokok dan utama dalam budidaya tanaman. Oleh karena itu kami selaku Penyuluh terdorong untuk mengadakan kaji terap hubungan pupuk organik dengan pertumbuhan bibit. II. Masalah Masalah yang ditemukan dilapangan diantaranya ketrampilan petani dalam pembuatan bibit belum baik, banyaknya petani cabe yang dalam usahanya membeli bibit yang sudah jadi. III. Tujuan Tujuan dari riset ini untuk mengetahui pengaruh dari media semai terhadap pertumbuhan awal bibit dan pertumbuhan bibit cabe sampai siap tanam,pupuk orgnaik apa yang paling baik dipergunakan IV. Tinjauan Pustaka Jen Hshun Chen (2010) , kelebihan pupuk organic ialah pasok hara yang berimbang, meningkatkan aktivitas biologis tanah,mendorong pertumbuhan akar, meningkatkan daya retensi air tanah dsb. Kelemahannya adalah tingkat kandungannya hara rendah. Pupuk hayati digambarkan sebagai bahan yang mengandung jenis jenis mikroorganisme yang membantu perkembangan perakaran dan meningkatkan pertunasan benih. Pemberian bahan organik ke dalam tanah memberikan dampak yang baik terhadap tanah tempat tumbuh tanaman. Bahan organik tersebut menyediakan zat pengatur tumbuh tanaman yang memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman seperti vitamin, asam amino auksin dan gibrelin yang terbentuk melalui dekomposisi bahan organik (Brady, 1990). Dan bahan organik mengandung karbon yang tinggi, pengaturan karbon di dalam tanah meningkatkan produktivitas tanaman dan berkelanjutan, karena dapat meningkatkan kesuburan tanah dan penggunaan unsur hara secara efisien. Selain itu juga perlu diperhatikan bahwa ketersediaan hara bagi tanaman tergantung pada tipe bahan yang termineralisasi dan hubungan antara karbon dan nutrisi lain. Bahan organik telah terbukti banyak meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil penelitian Duong et al (2006) yang membrikan kompos jerami pada tanaman sudah memberikan pengaruh setelah 30 hari diaplikasikan, selain itu juga ditemukan dampak positif lain seperti keterdiaan makro dan mikro nutrein bagi tanaman. Pelapukan bahan organik menghasilkan asam-asam organik seperti asam humat dan fulfat yang bersifat polielektrolit. Kedua asam ini memegang peranan penting dalam pengikatan Al dan Fe sehingga P menjadi tersedia. Keefektifan pengikatan tersebut dipengaruhi oleh struktur bahan organik yang ditambahkan dan pH medium (Ruseel, 1978). Supardi (1983) menyatakan bahwa adanya senyawa bahan organik yang cukup meningkatkan terjadinya khelat yaitu senyawa organik yang berikatan dengan kation logam, (Fe, Mn dan Al). Terbentuknya khelat logam akan mengurangi pengikatan P oleh oksida maupun lempung silikat, sehingga P menjadi lebih tersedia. Pupuk memegang peranan yang sangat penting didalam budidaya tanaman, tanaman membutuhkan pupuk yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan hara dan agar dapat tumbuh serta berkembang dengan baik. Tabel 1. Kandungan Unsur Hara Berbagai Limbah Peternakan Bahan Kandungan N Kandungan P Kandungan K Kotoran sapi 0,3 “ 1,57 0,08 “ 0,48 0,16 “ 0,43 Kotoran Kerbau 0,28 0,08 0,14 Kotoran kambing 0,70 “ 3,75 0,22 “ 0,82 0,24 “ 1,04 Sumber : HBA Mix Farming&Enviromental V. Metode Metodologi yang dipergunakan dalam riset,dengan menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok,dengan perlakuan 4 macam dan ulangan 3 kali, analisa statistika dengan tingkat kepercayaan 95 %. VI. Hasil dan pembahasan 6.1. Daya tumbuh bibit cabe Tabel 2. Daya Tumbuh Bibit Cabe dengan berbagai macam pupuk organik (%) No Perlakuan Rerata 1 Tanah 84 2 Tanah dan PO Kerbau 84,66 3 Tanah dan PO Sapi 83,33 4 Tanah dan PO Kambing 84,66 Sumber : data primer 2010, diolah Dari data tersebut diatas,dihitung secara statistik ternyta tidak berbeda nyata dengan adanya ragam daya tumbuh benih cabe tersebut, F hitung 0,46 lebih kecil dari F tabel 4,07 Rata rata daya tumbuh bibit cabe adalah untuk media semai tanpa pupuk kandang 84 %, kotoran kerbau 84,66%, kotoran sapi 83,33% dan kotoran kambing 84,66%. Pada dasarnya, pembuatan bibit cabe dengan menggunakan media semai yang yang tidak campur dengan kotoran ternak dengan yang dicampur kotoran ternak tidak ada perbedaan daya tumbuh awalnya semua tumbuh dengan baik, dikarenakan untuk awal pertumbuhan benih cabe masih menggunakan nutrisi yang ada pada lembaga benih cabe tersebut, serta belum keluar akar yang akan memanfaatkan pupuk organik yang ada pada media semai. Bibit yang tidak dihitung tumbuh diantaranya tumbuh tidak normal, tumbuh terlambat,dikarenakan bibit tersebut nantinya akan mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. 6.2. Tinggi tanaman Tabel 3. Tinggi tanaman bibit cabe dengan berbagai pupuk organik (cm) No Perlakuan Rerata 1 Tanah 6,06 2 Tanah dan PO kerbau 9,10 3 Tanah dan PO Sapi 9,43 4 Tanah dan PO kambing 10,73 Sumber : data primer 2010, diolah. Dari data tersebut diatas, analisis statistik F hitung 9,66 lebih besar dari F tabel 7,59 menunjukkan adanya perbedaan yang nyata. Setelah benih cabe tumbuh menjadi bibit, maka bibit cabe akan terus tumbuh dan menyerap unsur hara yang ada di media semai seiring perkembangan akar. Untuk tinggi bibit cabe pada umur 17 hari diperoleh rata rata tinggi bibit, untuk tanpa pupuk kandang 6,06 cm, kotoran ternak kerbau 9,10 cm, kotoran sapi 9,43 cm dan kotoran kambing 10,73 cm. Untuk tinggi tanaman pada media semai yang menggunakan kotoran kambing lebih tinggi dari yang menggunakan kotoran ternak lainnya 10,73 cm, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan unsur pada kotoran ternak terutama unsur utama, maka pertumbuhan bibit akan semakin baik (B.Sarwono,2001). Untuk kotoran kerbau dengan unsur hara lebih rendah dari kotoran sapi dan kambing ,menunjukkan tinggi tanaman yang lebih rendah, demikian juga untuk kotoran sapi kandungan unsur haranya lebih rendah dibanding kotoran kambing. VII. Kesimpulan dan saran 7.1. Kesimpulan 1. Media pembibitan cabe dengan pupuk organik tidak berpengaruh nyata pada pertumbuhan awal cabe. 2. Pupuk organik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit cabe sampai siap tanam, berdaun 4 helai. 3. Pupuk organik kambing yang terbaik sebagai media pembibitan cabe. 7.2. Saran 1. Untuk mensukseskan agribisnis cabe diharapkan petani membuat bibit sendiri dengan media pembibitan dari pupuk organik dari bahan baku kotoran kambing. 2. Perlu diadakan pelatihan pembuatan bibit cabe dengan media dari pupuk organik. VI. DAFTAR PUSTAKA Sahidu,Sirajuddin,1983,Kotoran Ternak Sebagai Sumber Energi,Dewaruci Press,Jakarta Setiawan,Adean,1996,Memanfaatkan Kotoran Ternak,Penebar Swadaya,Jakarta Indriani,Yovita Hety,1999, Mmebuat Kompos Secara Cepat,Penebar Swadaya,Jakarta. Duong et al (2000), Brasy (1990) dalam Sri Nuryani H U dan Suci Handayani (2003), Sifat Kimia Entisol pada System Pertanian Organik, UGM, Jogyakarta. Suntoro Wongso Atmojo,2003,Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah,UNS,Solo. ( oleh Turoso, SP Penyuluh Pertanian Muda Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo)