Pengawetan Dalam Bentuk hijauan segar ( Silase.) Hasil pengawetan segar dari hijauan disebut silase. Dibandingkan dengan hay, selase mempunyai kelebihan antara lain : (1) proses pengawetannya tidak tergantung pada cuaca, (2) tempaat pengawetannya dapat dibuat dari bahan yangmudah didapat dan murah harganya, (3) silase sebagai hasil hasil pengwetan segar merupakan bahan makanan ternak yang basah, lembut dan disukai ternak disamping itu tidak mengganggu kelancaran sistim pencernaan ternak, (4) kandungan vitamin A dan Mineral relatif tinggi, sehingga tetap baik sebagai makanan ternak, (5) tidak mudah terbakar. Bahan dan alat yang digunakan yaitu silo tempat pembuatan silase, alat pemotong hijauan /timbangan, hijauan makanan ternak, bahan pengawet berupa dedak halus, tepung jagung, ampas sagu. Plastik atau bahan lainnya yang tahan rembesan air sebagai penutup silo. Cara pembuatan silase, (1) hijauan makanan ternak (rumput leguminose) dipotong-potong 5 – 10 cm, sebelum dipotong hijauan tersebut terlebih dahulu dilayukan semalam. (2) bila tidak dicampur dengan bahan pengawet hijauan dapat langsung dimasukkan kedalam silo. Kalau memakai bahan pengawet, susunan antara hijauan dan bahan pengawet harus bersselang-seling. Bahan pengawet yang digunakan dapat dipilih dari bahan pengawet yang tersedia dengan takaran sebagai berikut a). Dedak halus % kg/100 kg hijauan, b) tepung jagung 3,5 kg/100 kg hijauan, c) ampas sagu 2,5 kg/100 kg hijauan. (3) hijauan dalam silo dipadatkan dengan cara menginjak-injaknya sehingga padat dan ruang udara hilang sama sekali, (4) silo yang sudah padat ditutupdengan plastik,, kemudian dtimbun dengan tanah sehingga udara atidak dapat masuk. Usahakan permukaaan rumput yang sudah dipadatkan lebih tinggi dari permukaaan silo. Hal ini dimasksudkan agar tidak terjadi genangan air diatas permukaan silo. (5) setelah dua bulan silo dapat dibuka danselase dapat dibeirkan pada ternak setelah diangin-anginkan selama 1 hari 1 malam. Pemberian silase pada ternak , (1) Pembongkaran silo : pembongkaran silo dapat dilakukan setiap saat setelah silase terbentuk silase yang diambil disesuaikan dengan kebutuhan p ada saat itu. Setelah selesai pengambilan, silo harus dituup kembali. (2) cara pemberian silase, silase diberikan, terutama untuk sapi dara, sapi kering (sapi yang tidak menyusui ataupun pejantan), apabila pemberiannya untuk sapi perahan, selase diberikan setelah selesai pemeraham. Pemberiaan silase3 dilakukan diluar kandang. Pemberian selase per ekor per hari adalah sebagai berikut a) sapi laktasi 15 – 20 kg b) sapi dara 25 – 30 kg c) Kuda 10 -15 kg d) Kambing dan domba 1 – 2 kg. Sapi yang sudah terbiasa memakan hijauan seagar, biasanya akan menolak makan silase. Oleh karena itu pemberian seilase sebaiknya dicampur dengan hijauan segar atau makanan penguat. Penyusun :Sad Hutomo PribadiSumber bacaan : BIP Sulut.