Loading...

Pengelolaan Air Pada Lahan Sawah Irigasi

Pengelolaan Air Pada Lahan Sawah Irigasi
Oleh : Yuniar Nuraeni, S.P (Penuluh Pertanian BPP Palabuhanratu) Air dibutuhkan tanaman untuk proses metobelisme di dalam tubuh tanaman itu sendiri. Kelebihan air disuatu areal pertanaman akan mengakibatkan terjadinya penggenangan. Hal ini akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang berada di areal tersebut. Dampak paling buruk yang akan dialami adalah tanaman tersebut mati. Sama hal juga ketika tanaman padi mengalami kondisi cekaman air maka produksinya akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, pengelolaan air berperan sangat penting dan merupakan salah satu kunci keberhasilan peningkatan produksi padi di lahan sawah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa padi sawah tidak membutuhkan air yang melimpah, kelebihan air dari pengelolaan air irigasi dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti peningkatan intensitas tanam, perluasan areal tanam dan mengurangi pemberaan tanah terutama di musim kemarau. Tanaman padi membutuhkan air yang volumenya berbeda untuk setiap fase pertumbuhannya. Variasi kebutuhan air tersebut tergantung pada varietas padi dan sistem pengelolaan lahan sawah. Kebutuhan air tanaman ditentukan oleh umur tanaman, waktu atau periode pertanaman, sifat fisik tanah, teknik pemberian air, jarak dari sumber air sampai lahan pertanian, luas areal pertanian yang akan diairi. Oleh sebab itu, agar penggunaan air lebih efisien dan efektif, maka sangat penting mengetahui pemakaiaan air konsumtif tanaman (evapotranspirasi). rata-rata jumlah air yang dibutuhkan untuk memproduksi padi yang optimal adalah 180–300 mm bulan-1. Dalam satu periode tanam juga dilaporkan bahwa kebutuhan air untuk seluruh operasional pengelolaan sawah beririgasi (pembibitan, persiapan lahan, dan irigasi) adalah 1.240 mm. Jumlah air yang diperlukan di dalam proses produksi padi tergantung pada iklim, posisi lanskape, periode pertanaman, karakteristik drainase tanah, dan pengelolaan irigasi. Pengelolaan air di lahan sawah sangat ditentukan oleh kondisi topografi dan pola curah hujan. Berikut ini adalah beberapa cara pengelolaan air yang dilakukan di lahan sawah. Penggenangan Rendahnya tingkat efisiensi penggunaan air selama proses pemakaian diantaranya disebabkan oleh kebiasaan petani yang masih senang menggunakan genangan yang tinggi sampai 15 cm secara terus-menerus (continous flow). Genangan dalam (10-15 cm) seperti yang dilakukan petani pada umumnya dapat menyebabkan tingginya kehilangan air lewat perkolasi yang didalamnya juga terlarut unsur hara yang bersifat mobil, sehingga tingkat kehilangan hara juga menjadi tinggi. Irigasi bergilir Sistem irigasi bergilir merupakan teknik irigasi dimana pemberian air dilakukan pada suatu luasan tertentu dan untuk periode tertentu, sehingga areal tersebut menyimpan air yang dapat digunakan hingga periode irigasi berikutnya dilakukan. Jumlah air yang diberikan dan interval irigasi adalah setara dengan unit luasan lahan yang diirigasi dan jumlah air yang hilang melalui evapotranspirasi, rembesan (seepage), perkolasi dan komponen kehilangan air lainnya. Meskipun efisiensi hasil padi yang dicapai pada lahan dengan irigasi bergilir lebih besar dibanding irigasi terus-menerus (continue irrigation), tetapi sistem ini memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya adalah pengaruhnya terhadap reaksi tanah. Lahan yang di irigasi secara bergilir ini cenderung memiliki pH tanah yang lebih rendah dibanding pada lahan yang diirigasi secara terus-menerus dan digenangi Irigasi berselang Sistem irigasi berselang merupakan sistem pemberian air ke lahan sawah dengan level tertentu kemudian pemberian air berikutnya dilakukan pada periode tertentu setelah genangan air pada level tersebut surut hingga tidak terjadi genangan. Pengaruh irigasi berselang 3 hari tergenang dan 3 hari kering serta 5 hari tegenang dan 3 hari kering memberikan pengaruh baik terhadap tinggi tanaman umur 40 hst dan 80 hst, jumlah anakan umur 40 hst dan 60 hst, serta jumlah gabah isi per malai. (Warman & Dani, 2016). Pada penelitian lainnya ditemukan bahwa penggunaan irigasi berselang 3 hari basah dan 8 hari kering dapat menghasilkan 6,77 ton/ha varietas Inpari 13 (Regazzoni dkk., 2013). Produksi ini sedikit lebih tinggi dari yang disebutkan pada deksripsi varietas Inpari-13 yang tertulis bahwa produksi rata-rata sebesar 6,59 ton/ha. Kebutuhan air irigasi untuk sistem irigasi dengan penggenangan terus-menerus adalah sebesar 725 mm, sedangkan untuk irigasi bergilir dan berselang masing-masing adalah 659 mm dan 563 mm. Irigasi dengan penggenangan terus-menerus membutuhkan air yang lebih banyak, kemudian secara berurutan diikuti dengan irigasi berselang, sistem penjenuhan pada bedengan, irigasi dengan penggelontoran (flush irrigation) pada lahan kering (tanah dalam kondisi aerobik), dan irigasi padi lahan tadah hujan. Irigasi berselang lebih tinggi kontribusinya dalam peningkatan jumlah anakan padi, lebar daun (leaf area) dan produksi biomassa. Produktivitas lahan pada sistem irigasi berselang lebih tinggi 6,73% dibanding penggenangan, dan dengan sistem tersebut penggunaan air irigasi dapat dihemat hingga 21% lebih tinggi dari sistem penggenangan. Efisiensi irigasi dengan sistem irigasi berselang mencapai 77%, lebih tinggi dibanding pada sistem penggenangan terus-menerus (52%) dan sistem irigasi bergilir (68%). Sistem pengairan berselang menyebabkan pertumbuhan akar tumbuh memanjang, sementara sistem penggenangan menghasilkan akar yang lebih pendek dan bercabang banyak (Munarso, 2011). Pengairan berselang dan pengairan macak-macak pada budidaya padi sawah dapat menekan emisi gas CH4. Gas Metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca di atmosfer yang berpengaruh terhadap peningkatan suhu bumi. Tanah tergenang seperti lahan padi sawah merupakan salah satu sumber gas CH4 di atmosfer. Pengairan berselang mampu memitigasi emisi gas CH4 sebesar 56,3%, sedangkan pengairan macak-macak dapat memitigasi gas CH4 sebesar 54,6% (Naharia, dkk., 2005). Dalam penelitian lain disebutkan bahwa pengairan berselang dapat menurunkan emisi gas CH4 sebesar 37,5% serta menurunkan potensi global warming sebesar 5,7% (Hidayah, et.al, 2008). Pola pengairan berselang juga dapat mengurangi intesitas serangan hama tikus karena membuat tikus hanya menyerang padi pada saat digenangi serta berpengaruh juga terhadap jumlah gabah berisi perrumpun (Siregar & Nasution, 2019). DAFTAR PUSTAKA Balittan. 2004. Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Hidayah, S, Agustina, D.A., Marasi, D.J., Soekrasno. 2010. Intermittent Irrigation in System of Rice Intensification Potensial As An Adaptation and Mitigation Option of Negative Impact of Rice Cultivation in Irrigated Paddy Field. Conference Proceeding. Munarso, Y. P. 2011 Keragaan Padi Hibrida Pada Sistem Pengairan Intermittent dan Tergenang. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, Vol. 30(3): 189 – 195. Naharia, O., Saeni, S.M., Sabihan, S., Burhan, H. 2005. Teknologi Pengairan Dan Pengolahan Tanah Pada Budidaya Padi Sawah untuk Mitigasi Gas Metana (CH4). Berila Biologi Vol. 7(4): 173-180. Regazzoni, O., Sugito, Y., Suryanto. 2013. Sistem Irigasi Berselang (Intermittent Irrigation) Pada Budidaya Padi (Oryza sativa L.) Varietas Inpari-13 ddalam Pola Sri (System Of Rice Intensification). Jurnal Produksi Tanaman Vol. 1(2): 42-51. Siregar, E.S. & Nasution, F.E. 2019. Peranan Pola Pengairan Dan Metode Pengendalian Hama Tikus (Rattus argentiventer) Terhadap Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.). AGROHITA Vol 4(2): 44-52. Subagyono, K., Dariah, A., Surmaini, E., Kurnia, U. 2004. Pengelolaan Air Pada Tanah Sawah. Pusat Penelitian dan PengembanganTanagcental. Warmani, A & Dani, U.2016. Modifikasi Jarak Tanam Legowo dan Irigasi Berselang (Intermittent) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Kultivar Inpari 30. Agrivet Journa, Vol 4(2): 247-259