Dalam upaya memenuhi kebutuhan kedelai yang semakin meningkat dan mengurangi ketergantungan impor, pemerintah akan terus berupaya keras untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, sehingga secara bertahap dapat dicapai swasembada. Dalam upaya mendukung peningkatan produksi kedelai nasional, pemerintah selalu mengupayakan kegiatan baik secara intensifikasi maupun ekstensifikasi kedelai. Untuk intensifikasi antara lain akan melaksana pilot proyek penerapan teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA). Untuk penerapan teknologi budidaya jenuh air, pemerintah memberikan bantuan untuk pengadaan sarana produksi yang diberikan berupa benih kedelai, pupuk dan organik bersubsidi (NPK, SP-36, Urea, KCL), Rhizobium, Pestisida organik/anorganik, herbisida dan kapur pertanian. Pelaksanaannya di areal pasang surut di luar pulau Jawa. Luas lahan pasang surut di Indonesia sekitar 20,1 juta hektar, dan sekitar 9,53 juta hektar berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian. Lahan pasang surut yang mempunyai potensi tinggi untuk ditanami kedelai seluas 2,08 juta ha, sedangkan yang berpotensi menengah/sedang seluas 1,33 juta ha. Lahan pasang surut dibagi menjadi empat golongan menurut tipe luapan air pasang, yaitu Tipe A, lahan terluapi oleh pasang besar (pada waktu bulan purnama maupun bulan mati), maupun oleh pasang kecil (pada waktu bulan separuh). Tipe B, lahan terluapi hanya oleh pasang besar saja. Tipe C, lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya cukup dangkal, yaitu kurang dari 50 cm. Tipe D, lahan tidak terluapi oleh air pasang besar maupun pasang kecil, namun permukaan air tanahnya dalam, lebih dari 50 cm.Permasalahan pengembangan kedelai di lahan pasang surut adalah tingginya kadar pirit yang menyebabkan rendahnya pH tanah pada saat kondisi teroksidasi. Kadar pirit yang tinggi menyebabkan produktivitas kedelai di lahan pasang surut masih rendah hanya sekitar 800 kg/ ha. Rendahnya produktivitas tanaman di lahan pasang surut disebabkan oleh tingginya kemasaman tanah, kelarutan unsur Fe, Al dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K. Oleh karena itu perlu adanya usaha penurunan kadar pirit dan penambahan hara makro untuk meningkatkan produktivitas kedelai dilahan pasang surut.Usaha penurunan kadar pirit di lahan pasang surut dapat dilakukan dengan cara pengaturan tinggi muka air agar kondisi tanah lebih reduktif. Adanya "Teknologi Budidaya Jenuh Air" memberikan peluang untuk menurunkan kadar pirit. Penurunan kadar pirit juga dapat dilakukan melalui "Tanpa Olah Tanah" atau "Pengolahan Tanah Ringan", sehingga pirit tidak terangkat ke permukaan, serta pemberian kapur dan pupuk Kandang.Budidaya jenuh air merupakan penanaman dengan memberikan irigasi terus-menerus dan membuat tinggi muka air tetap. Air diberikan sejak tanaman berumur 14 hari sampai polong berwarna coklat. Tinggi muka air tetap akan menghilangkan pengaruh negatif dari kelebihan air pada pertumbuhan tanaman, karena kedelai akan beraklimatisasi dan selanjutnya tanaman memperbaiki pertumbuhannya.Tinggi muka air yang tepat di lahan pasang surut 15 cm di bawah permukaan tanah, dengan lebar saluran30 cm dan dalam saluran 25 cm. Saluran air dipersiapkan pada setiap lebar bedengan 2 m. Adanya airpasang di lahan pasang surut dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan budidaya jenuh air. Pada saat pasang besar air akan semakin mudah masuk ke petakan melalui parit (saluran) yang telah dipersiapkan,sedangkan jika pasang agak kecil dapat didorong sedikit dengan bantuan pompa air. Penerapan Budidaya Jenuh Air (BJA) dapat dilakukan pada areal penanaman dengan irigasi cukup baik maupun pada areal dengan drainase kurang baik seperti lahan pasang surut. Di beberapa tempat, budidaya jenuh air dapat memperbaiki pertumbuhan dan meningkatkan produksi dibandingkan budidaya kering. Pada saat penelitian dilakukan di lahan pasang surut, kedelai ditanam dengan jarak tanam 25 cm x20 cm, 2 biji/ lubang (400 000 tanaman/ ha) dengan dosis pemupukan 2 ton kapur/ ha, 2.5 ton pupuk kandang/ ha, 200 kg SP 36/ ha, dan 100 kg KCl/ ha, dan diberi inokulum Rhizobium sp sebanyak 5 g/ kg benih. Hasil pengujian varietas kedelai pada budidaya jenuh air di lahan pasang surut menunjukkan bahwa varietas yang memberikan hasil tertinggi adalah Tanggamus, kemudian Slamet, Anjasmoro, dan terendah adalah Wilis. Tanggamus dapat mencapai hasil sebanyak 4,51 ton biji kering/ha, karena mempunyai jumlah polong isi terbanyak, meskipun mempunyai bobot 100 biji hanya 10 gram. Oleh karena Tangamus merupakan varietas terpilih yang akan dikembangkan selanjutnya pada teknologi budidaya jenuh air di lahan pasang surut. Dengan menggunakan Varietas Tanggamus yang memberikan hasil 4,5 ton/ha pada skala penelitian, maka jika dikembangkan dengan skala usaha besar biasanya mengalami transfer teknologi dengan kehilangan hasil sekitar 40%, sehingga produktivitas kedelai tercapai 2,7 ton/ha. Untuk memenuhi kebutuhan nasional sebesar 2,4 juta ton dengan kemampuan produksi sebesar 0,7 juta ton, maka masih perlu menambah produksi sebesar 1,7 juta ton. Oleh karena itu jika ingin diusahakan di lahan pasangsurut dengan produkivitas 2,7 ton/ha perlu area seluas 630.000 ha dengan teknologi budidaya jenuh air. Untuk itu maka perlu diadakan kawasan budidaya jenuh air agar dapat dikelola secara terpadu dan tepat. Dalam pengelolaannya perlu diperhatikan beberapa hal. Tanam serempak dalam bentuk kawasan budidaya jenuh air, agar hama dan penyakit dapat ditekan terutama hama tikus. Penanaman dilakukan pada tipe luasan B dan C yang airnya tersedia tetapi tidak terkena luapan banjir. Pola tanam perlu diperhatikan agar kedelai ditanam pada bulan Februari sampai Juli di lahan pasang surut agar air tersedia tapi salinitas belum tinggi. Perlu perbaikan tata air makro dan mikro. Perlu disediakan sarana poduksi kapur, pupuk P,K, dan Inokulant dengan harga yang terjangkau bagi petani di lapangan. Perlu diajarkan cara penyimpanan benih kedelai sederhana di lapangan agar petani mampu mandiri dalam penyediaan benih. Disamping itu petani perlu difasilitasi agar kedelai dapat dipasarkan, karena yang terjadi di lapangan sudah terbentuk jaringan pemasaran kedelai impor, sehingga meskipun kedelai lokal mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan impor masih dibeli oleh pengarajin dengan harga lebih murah karena pengrajin sudah tergantung dengan pemasok kedelai impor melalui penyediaan dana pinjaman sebelumnya. Penyunting: Yulia Tri SEmail : yuliatrisedyowati@yahoo.co.id Sumber: 1. PETUNJUK TEKNIS KEDELAI DAN BANTUAN PEMERINTAH 2016, Ditjen Tan Pangan2. www.academia.edu/5622012/3_5_Budidaya_Jenuh_Air_Tanaman_Kedelai 3. http://majalahinovasi.com/inovasi-budidaya-kedelai/