Loading...

Pengelolaan Produksi Kedelai melalui Intensifikasi

Pengelolaan Produksi Kedelai melalui Intensifikasi
Dalam upaya mendukung peningkatan produksi kedelai nasional, pemerintah telah memberikan bantuan berupa sarana produksi benih, rhizobium, bahan organik atau kapur pertanian untuk kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi kedelai, yang akan dimanfaatkan kepada kelompok tani/gabungan kelompok tani.Bantuan Pemerintah untuk kegiatan intensifikasi kedelai dimanfaatan untuk: 1. Mendorong petani menerapkan teknologi budidaya kedelai sesuai rekomendasi, untuk mencapai tingkat produktivitas tinggi. 2. Meningkatkan minat dan motivasi petani berusaha tani kedelai.3. Meringankan beban petani dalam mengeluarkan biaya usaha tani kedelai.Program intensifikasi tersebut ditempuh melalui kegiatan penerapan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Dalam menerapkan PTT tentunya harus memperhatikan komponen teknologi dasar dan pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan, dan kemampuan petani setempat. Komponen Teknologi Dasar tersebut meliputi: 1. Varietas unggul baru.Varietas unggul baru kedelai berbiji besar yang cocok digunakan adalah Anjasmoro, sebagai bahan baku tempe. Varietas unggul baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama atau toleran deraan lingkungan setempat dan dapat juga memiliki sifat khusus tertentu. VUB kedelai antara lain adalah Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Gepak Kuning, dan Detam. Pemilihan varietas perlu disesuaikan dengan agroekosistem setempat dan permintaan pengguna. 2. Benih bermutu. Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi (>85%). Pada umumnya benih bermutu dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak. Benih bermutu menghasilkan tanaman yang sehat, pertumbuhan lebih cepat dan seragam. 3. Pembuatan saluran drainase. Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup dan tidak menghendaki kelebihan air/tanah becek selama pertumbuhannya. Saluran drainase diperlukan untuk mengalirkan air ke areal pertanaman guna menjaga kelembaban tanah optimal dan mengalirkan kelebihan air pada saat hujan. Jarak antarsaluran ditentukan oleh jenis tanah, umumnya 2- 5 m dengan lebar dan kedalaman sekitar 30 cm. Pada lahan kering, saluran drainase berfungsi sebagai pematus air pada saat hujan. Saluran drainase diperlukan untuk mengalirkan air ke areal pertanaman guna menjaga kelembaban tanah agar pertumbuhan tanaman kedelai optimal.4. Pengaturan populasi. Pengaturan populasi tanaman berkisar antara 350.000-500.000 tanaman/ha, kebutuhan benih 40-60 kg/ha, bergantung pada ukuran biji. Tanam dengan cara ditugal, jarak tanam 40 cm antarbaris, 10-15 cm dalam barisan, 2-3 biji per lubang. Pada musim hujan gunakan jarak tanam lebar (populasi sedang), pada musim kemarau gunakan jarak tanam rapat (populasi tinggi). Penanaman benih kedelai pada jarak tanam yang tepat akan menghasilkan populasi tanaman yang optimal bagi upaya peningkatan hasil kedelai. 5. Pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) secara terpadu. a. Pengendalian hama secara terpadu meliputi: Identifikasi jenis dan penghitungan kepadatan populasi hama; Menentukan tingkat kerusakan tanaman; Taktik dan teknik pengendalian, yang meliputi : mengusahakan tanaman selalu sehat, pengendalian secara hayati, penggunaan varietas tahan, pengendalian secara fisik dan mekanis, penggunaan feromon, penggunaan pestisida kimia. Hama utama kedelai yang harus diwaspadai dan dikendalikan yaitu lalat bibit (Ophiomyia phaseoli), ulat grayak (Spodoptera litura) penghisap polong (Riptortus linearis), penggerek polong (Etiella zinckenella). b. Pengendalian penyakit secara terpadu. Pengendalian penyakit secara terpadu langkahnya meliputi: Identifikasi jenis penyakit, apakah disebabkan oleh Cendawan, Bakteri, Virus. Kemudian menentukan tingkat kerusakan tanaman serta Taktik dan teknik pengendalian yang meliputi: Mengusahakan tanaman selalu sehat; Pengendalian secara hayati; Penggunaan varietas tahan; Pengendalian secara fisik dan mekanis; Penggunaan pestisida kimia (fungisida, bakterisida, dan sebagainya). Penyakit utama kedelai yang seringkali merusak dan menurunkan hasil panen adalah Karat daun (Pakopsora pachyrhizi) dan Hawar daun (Pseudomonas syringae). c. Pengendalian gulma secara terpadu : Identifikasi jenis gulma apakah Rumput atau, Teki, Daun lebar; Menentukan tingkat kepadatan gulma; Taktik dan teknik pengendalian: Cara mekanis; Kultur teknis; Kimiawi (herbisida); Terpadu, mengkombinasikan beberapa komponen pengendalian Pengendalian OPT secara terpadu tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan produktivitas kedelai tetapi juga melestarikan lingkungan.Komponen Teknologi Pilihan 1. Penyiapan lahan. Pengolahan tanah tidak diperlukan jika kedelai ditanam di lahan sawah bekas tanaman padi, jerami dapat digunakan sebagai mulsa. Mulsa berguna untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi serangan lalat kacang, dan menekan pertumbuhan gulma. Pengolahan tanah di lahan kering perlu optimal, dengan dua kali bajak dan satu kali garu (diratakan). Gulma atau sisa tanaman dibersihkan pada saat pengolahan tanah. Pada lahan kering, pengolahan tanah perlu optimal agar tanaman kedelai tumbuh dengan baik. 2. Pemupukan sesuai kebutuhan. Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman. Pupuk diberikan secara ditugal di sebelah lubang tanam atau disebar merata pada saat tanah masih lembab. Kedelai yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk. Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N2 (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan, perhatikan waktu kadaluwarsa pupuk hayati. PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan takaran pupuk dan amelioran. 3. Pemberian bahan organik. Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cair. Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada Permentan No. 02/2006, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri. 4. Amelioran pada lahan kering masam. Penggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah. 5. Pengairan pada periode kritis. Periode kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif). Pada lahan sawah, pengairan diberikan secukupnya menjelang tanaman berbunga dan fase pengisian polong. Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Pada kondisi kelebihan air dan kekeringan, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. 6. Panen dan pascapanen. Panen yang tepat menentukan mutu biji dan benih kedelai. Panen dilakukan jika tanaman sudah masak, atau 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning. Brangkasan kedelai segera dihamparkan dan dijemur dengan ketebalan sekitar 25 cm. Biji dirontok setelah brangkasan kering, secara manual atau menggunakan threser (perhatikan kecepatan silinder perontok dan kadar air biji). Panen tepat waktu dan penggunaan alat-mesin untuk merontok biji akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.Dengan menerapkan teknologi PTT tersebut secara tepat, maka diharapkan akan dicapai hasil yang maksimal.Penyunting :Yulia Tri SSumber: 1. PETUNJUK TEKNIS KEDELAI DAN BANTUAN PEMERINTAH 2016, Ditjen Tan Pangan2. http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/789-teknik-prosesing-penyimpanan-dan-teknologi-pasca-panen-benih-kedelai3. http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/pedumpajale/pttkedelai.pdf4. http://tanamanpangan.pertanian.go.id/assets/front/uploads/document/