Loading...

Pengendalian Hama Blas Pada Tanaman Padi Sawah

Pengendalian Hama Blas Pada Tanaman Padi Sawah
Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas :1) Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah.2) Hindarkan penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran.3) Hindarkan tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan varietas yang sama.4) Sanitasi lingkungan harus intensif, karena inang alternatif pathogen khususnya kelompok rerumputan sangat potensial sebagai inokulum awal.5) Hindari tanam padi terlambat dari petani disekitarnya.6) Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 40 hari setelah sebar.7) Penyemprotan fungisida sistemik minimum sekali pada awal berbunga untuk mencegah penyakit blas leher dapat dianjurkan untuk daerah endemik blas.8) Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).9) Pemakaian jerami sebagai kompos. Varietas Padi Tahan BlasUsaha pengendalian penyakit blas yang sampai saat ini dianggap paling efektif adalah dengan penggunaan varietas padi yang tahan seperti Inpari 34 Salin Agritan, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago7, Inpago 8, Inpago 10, Limboto, Way Rarem, dan Jatiluhur.Patogen P. grisea sangat mudah membentuk ras baru yang lebih virulen dan ketahanan varietas sangat ditentukan oleh dominasi ras patogen. Hal ini menyebabkan penggunaan varietas tahan sangat dibatasi oleh waktu dan tempat. Artinya varietas yang semula tahan akan menjadi rentan setelah ditanam beberapa musim dan varietas yang tahan di satu tempat mungkin rentan di tampat lain.Ketahanan varietas yang hanya ditentukan oleh satu gen (monogenic resistant) mudah terpatahkan. Untuk itu pembentukan varietas tahan yang memiliki lebih dari satu gen tahan (polygenic resistant) sangat diperlukan. Penggunaan varietas harus disesuaikan dengan kondisi struktur populasi ras yang ada. Pergiliran varietas dengan varietas unggul lokal yang umumnya tahan terhadap penyakit blas sangat dianjurkan. Penyakit blas merupakan penyakit yang terbawa benih (seed borne pathogen), maka untuk mencegah penyakit blas dianjurkan tidak menggunakan benih yang berasal dari daerah endemis penyakit blas.Mengingat ketahanan varietas terhadap penyakit blas tidak bisa berlangsung lama maka penggunaan varietas tahan perlu didukung dengan komponen pengendalian lain. Fungisida merupakan teknologi yang sangat praktis dalam mengatasi penyakit blas tetapi dalam penggunaannya harus dilakukan secara rasional yaitu harus diperhitungkan tentang jenis, dosis, dan waktu aplikasi yang tepat. Perlakuan Benih Pengendalian penyakit blas akan efektif apabila dilaksanakan sedini mungkin, hal ini disebabkan karena penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida sistemik seperti pyroquilon (5-10 g/kg benih). Perendaman Benih (soaking) Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan selama periode ini larutan diaduk selama merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1 : 2 (1 kg benih : 2 liter air). Benihyang telah direndam dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkansampai benih tersebut disebarkan di lahan gogo. Pada padi sawah perendaman dalamlarutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman. Pelapisan Benih (coating) Cara ini lebih efektif dari pada cara pertama dan lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih dibasahi dengan cara merendam beberapa jam kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida yang digunakan dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, benih dikeringanginkan dengan cara yang sama seperti metode sebelumnya dan selanjutnya siap tanam. Aplikasi FungisidaEfikasi fungisida untuk perlakuan banih hanya bertahan 6 minggu dan selanjutnya perlu diadakan penyemprotan tanaman. Aplikasi penyemprotan untuk menekan serangan penyakit blas leher adalah dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga (heading 5%). Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung bahan aktif propikonazol+triziklzol, isoprotionalane, benomyl mancoseb, kasugamycin dan thiophanate methyl. Penulis Bustanil, SSTPenyuluh kec. Tangse