Loading...

Pengendalian Hama Penggerek Buah Tanaman Kopi

Pengendalian Hama Penggerek Buah Tanaman Kopi
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis dengan potensi besar, baik di pasar lokal maupun internasional. Sebagai minuman yang digemari di seluruh dunia, kopi tidak hanya menjadi sumber pendapatan utama bagi jutaan petani, tetapi juga berkontribusi terhadap perekonomian daerah hingga nasional. Namun, di balik peluang besar ini, terdapat tantangan serius, terutama dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) baik hama maupun penyakit tanaman. Penggerek buah kopi atau biasa disebut PBKo (Hypothenemus hampei) menjadi salah satu hama utama pada tanaman kopi. Kehilangan hasil akibat serangan hama ini berkisar antara 20% hingga 80%, tergantung tingkat serangan dan metode pengendalian yang dilakukan. Kerugian akibat serangan hama PBKo tidak hanya mengurangi jumlah hasil panen, tetapi juga menurunkan kualitas biji kopi sehingga berdampak pada harga jual. Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei) Biologi Kumbang penggerek buah kopi (PBKo) Hypothenemus hampei (Ferrari) (Coleoptera: Scolytidae) bermetamorfosa sempurna (holometabola), yaitu telur–larva–pupa–dewasa. Telur berbentuk elips, putih transparan, dan berwarna kekuningan ketika akan menetas, berukuran sangat kecil, 0,52–0,69 mm. Larva membentuk seperti huruf “C”, tidak bertungkai, mempunyai kepala yang jelas, dan berwarna putih. Panjang tubuh larva instar terakhir1,88–2,30 mm. Bentuk prepupa mirip dengan larva, hanya bentuknya kurang cekung, dan berwarna putih susu. Ukuran pupa bervariasi, panjangnya 1,84–2,00 mm. Kumbang berwarna hitam kecokelatan dan tungkainya berwarna lebih muda dengan ukuran betina (1,7 mm x 0,7 mm) lebih besar daripada jantan (1,2 mm x 0,7 mm). Tubuh kumbang berbentuk bulat pendek dengan pronotum menutupi kepala. Kumbang betina meletakkan telur di dalam lubang gerekan sebanyak 35–50 butir selama hidupnya, dan apabila menetas 33–46 butir (92%) menjadi betina. Siklus hidup PBKo (dari telur sampai dewasa) 24–45 hari. Kumbang betina dapat bertahan hidup sampai 190 hari, sedangkan jantan maksimum 40 hari. Sebagian besar kumbang betina yang telah kawin akan keluar untuk mencari buah kopi baru sebagai tempat peletakan telur. Kumbang dapat bertahan hidup pada buah kopi kering yang telah menghitam, yang masih menempel pada pohon maupun telah berjatuhan ke tanah. Kumbang jantan tetap hidup di dalam buah yang terserang. Hama PBKo ini sangat merugikan karena dapat berkembang biak sangat cepat dengan jumlah yang banyak. Jika tidak dikendalikan, dari 1 ekor betina dalam waktu 1 tahun dapat menghasilkan keturunan mencapai 100.000 ekor. Gejala Serangan Hama PBKo menyerang semua jenis kopi (Arabika, Robusta, dan Liberika). Kumbang betina mulai menyerang pada 8 minggu setelah pembungaan saat buah kopi masih lunak untuk mendapatkan makanan sementara, kemudian menyerang buah kopi yang sudah mengeras untuk berkembang biak. Kumbang betina akan menggerek bagian ujung bawah buah, dan biasanya terlihat adanya kotoran bekas gerekan di sekitar lubang masuk. Ada dua tipe kerusakan yang disebabkan oleh hama ini, yaitu gugur buah muda dan kehilangan hasil panen secara kuantitas maupun kualitas. Serangan pada buah kopi yang bijinya masih lunak mengakibatkan buah tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur, sedangkan serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat 5 penurunan mutu biji kopi karena biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi yang akan memengaruhi citarasa Pengendalian Terpadu Hama PBKo Pengendalian secara kultur teknis, meliputi: - Pemupukan dilakukan secara berkala sesuai dosis anjuran, untuk memicu waktu pembungaan yang relatif seragam sehingga dapat memutus siklus hidup PBKo. - Pengendalian gulma setelah panen, agar memudahkan pengambilan sisa-sisa buah kopi yang jatuh ke tanah. - Pemangkasan tanaman kopi dan penaungnya dilakukan secara rutin untuk mengurangi tingkat kelembapan dan suhu lingkungan sehingga menciptakan kondisi yang kurang cocok untuk perkembangan PBKo. Pengendalian secara fisik dan mekanis, meliputi: - Petik bubuk, yaitu memetik semua buah yang sudah terserang PBKo pada saat 15–30 hari menjelang panen raya. Kemudian semua buah tersebut direndam dengan air panas atau dikubur untuk membunuh serangga yang ada di dalam buah. - Rampasan/racutan, yaitu memetik semua buah kopi yang ada, baik yang sudah matang maupun yang belum pada akhir masa panen raya. - Lelesan, yaitu mengumpulkan semua buah yang jatuh, kemudian dikubur untuk dijadikan kompos atau dibakar, agar PBKo yang terdapat dalam buah mati. - Menggunakan senyawa penarik serangga (atraktan) dan alat perangkap kumbang betina. Alat perangkap sederhana terbuat dari botol air mineral yang dicat merah dilubangi di bagian samping untuk masuk kumbang dan pada bagian dasar diisi air ditambah dengan deterjen sebagai tempat penampung hama. Senyawa atraktan berupa cairan dengan bahan dasar etanol dalam plastik atau botol kecil yang digantungkan di dalam alat perangkap. Pengendalian secara biologis/hayati, meliputi: - Pemanfaatan parasitoid Cephalonomia stephanoderis yang telah diperbanyak dan dilepas untuk mengendalikan PBKo di beberapa perkebunan kopi di Malang. Pelepasan parasitoid harus diulang secara berkala agar efektif mengendalikan populasi PBKo di lapang. - Pemanfaatan jamur patogen serangga Beauveria bassiana yang relatif lebih mudah untuk diisolasi dari lapangan, diperbanyak secara massal, diformulasikan dalam media padat, kemudian diaplikasikan. Cara aplikasi di lapangan sangat mudah, yaitu buah masak pertama yang terserang PBKo, dikumpulkan, dicampur dengan jamur, dan dibiarkan selama satu malam, kumbangnya akan keluar dan dilepas sehingga dapat menularkan jamur kepada pasangannya di kebun. Pengendalian dengan menggunakan insektisida nabati, seperti: mimba (Azadirachta indica), kacang babi (Tephrosia sp.), akar tuba (Derris eliptica), tembakau (Nicotiana tabacum), dan babadotan (Ageratum conyzoides). Cara membuatnya adalah 50–100 gram bahan tersebut dihaluskan, direndam selama 48 jam dalam 1 liter air, kemudian diperas. Air perasan tersebut diencerkan 10 kali dan ditambah dengan sedikit deterjen, kemudian disemprotkan pada dompolan buah kopi. Penulis : Ely Novrianty (BPSIP Lampung) Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2018 https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/28_penggerek-buah-kopi-pbko-dan-cara-pengendalianya