Lada (Piper nigrum Linn) merupakan tanaman rempah yang berasal dari Ghat Barat, India. Usaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi lada, dapat bersaing di tingkat dunia, maka dilakukan sistem budidaya yang baik dengan mempertimbangkan dan meningkatkan strategi potensi sumber daya alam, lingkungan, dan sosial ekonomi. Dengan sistem tersebut diharapkan mampu menghasikan lada berkualitas tinggi (bebas dari senyawa/polutan an organik racun), melalui penggunaan varietas unggul, sehat, tahan hama penyakit, memaksimalkan penggunaan pupuk organik, menggunakan pestisida nabati dan penggunaan agensia hayati. Serangan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan produksi lada. Hama utama yang menyerang tanaman lada adalah penggerek batang, pengisap bunga, dan pengisap buah. Sedangkan penyakit utama lada adalah penyakit kuning, busuk pangkal batang (BPB), dan penyakit keriting/kerdil. Strategi pengendalian hama dan penyakit utama lada dapat dilakukan dengan menerapkan teknik budidaya sesuai anjuran, menanam Arachis pintoi sebagai tanaman penutup tanah, dan pengendalian secara hayati yang dipadu dengan kimiawi.Gejala Serangan dan Kerusakan yang Ditimbulkan1. Penggerek Batang Lada (Lophobaris piperis)Penggerek batang lada (Lophobaris piperis) merupakan hama yang paling merugikan. Larvanya menggerek batang dan cabang. Gejala awal berupa layu dan daun menguning kemudian bagian yang digerek mengering dan mudah patah. Serangan berat dapat menyebabkan tanaman mati. Stadia dewasa menyerang pucuk, bunga, dan buah sehingga produksi dan kualitas buah menurun.2. Hama pengisap bunga (Diconocoris hewetti)Hama pengisap bunga (Diconocoris hewetti) merusak bunga dan tandan bunga baik pada stadia nimfa maupun dewasanya. Gejala serangan ringan berupa kerusakan tandan, salah bentuk, dan buah menjadi sedikit. Bila serangan berat menyebabkan bunga rusak, tangkai hitam, dan bunga gugur.3. Hama pengisap buah (Dasynus piperis)Hama pengisap buah (Dasynus piperis) aktif pada waktu pagi dan sore hari, sedangkan siang bersembunyi pada bagian dalam tajuk tanaman. D. piperis menyerang hamper di seluruh sentra lada di Indonesia dan menyebabkan kerusakan buah 14,72-36%. Hama ini merusak pada semua stadia pertumbuhan dengan cara mengisap cairan dari bunga, buah, pucuk muda, dan tangkai daun. Gejala kerusakan berupa bercak kehitaman pada buah, buah menjadi hampa. Dan buah muda berguguran sehingga tandan buah menjadi kosong. Strategi PengendalianMengingat lada merupakan komoditas ekspor yang penting serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pengendalian hama harus diperhatikan untuk mencegah terjadinya kehilangan hasil sehingga merugikan petani. Namun demikian, pengendalian yang diterapkan harus tetap bersifat ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pengendalian kimiawi hanya dilakukan jika populasi hama tinggi atau intensitas serangan tinggi melebihi ambang ekonomi.Teknik budidaya Sesuai AnjuranPertanaman lada yang sehat diawali dengan penggunaan bahan tanaman yang sehat. Bibit lada yang sakit akan menjadi sumber inokulum di daerah yang baru. Sampai saat ini, belum ditemukan varietas lada yang tahan dengan semua jenis hama . Penggunaan varietas yang toleran hama diharapkan mampu menekan kerugian akibat serangan hama . Bibit yang ditemui gejala kerdil tidak boleh ditanam dan harus dimusnahkan.Tanaman lada tidak membutuhkan pencahayaan matahari penuh dan hanya membutuhkan 50-75% pencahayaan, sehingga tajar yang digunakan sebaiknya adalah tajar hidup. Kelebihan tajar hidup antara lain mudah didapat, mudah dipelihara, dan harga yang tidak terlalu tinggi. Pemangkasan sulur cacing dan sulur gantung dapat menekan infeksi P.capsici dan penggunaan A.pintoi sebagai tanaman penutup tanah yang disiang terbatas (bebokor) diketahui dapat meningkatkan populasi musuh alami hama penggerek batang lada. Tanaman yang terserang BPB selain dimusnahkan dengan cara dibakar, dan lubang bekas tanam yang terserang juga dibakar dan disiram dengan bubur bordo.Pengendian Hayati dan KimiawiBeberapa agens hayati diketahui dapat mengendalikan hama penggerek batang dan hama pengisap buah , sebaiknya diberikan pada awal tanam yang ditambahkan bahan organik atau potongan alang-alang secara berkala. Di sekitar tanaman yang menunjukkan gejala serangan hama diberi fungsida sistemik atau disiram bubur bordo, selanjutnya dilakukan aplikasi T.harzianum 2-4 minggu kemudian.Pengendalian hama penggerek batang dan pengisap buah dapat dilakukan dengan memberikan pestisida berbahan aktif karbofuran 30-50 g/tanaman yang dikombinasikan dengan bahan organik.Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu WSumber : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Bangka Belitung, Jl.Mentok Km. 4, Pangkalpinang, Indonesia (2011)