Pengendalian organism pengganggu tanaman menanam tanaman yang sama berulang-ulang pada tempat yang sama akan menghasil-kan penurunan kondisi agro-ekologi. Hara tanah dan air akan terkuras, serangan serangga bisa terjadi bersamaan dengan menyebarnya penyakit patogen. Penggunaan pestisida kimia untuk menanggulangi masalah ini akan memperburuk dan menciptakan lebih banyak masalah. Pengendalian hama alternatif untuk pertanian sayuran meliputi beberapa cara berikut: ? Melakukan penganekaragaman tanaman untuk mengurangi resiko hama, mengoptimalkan lahan, dan penggunaan air. Contoh tumpangsari adalah (1) kubis tumpangsari dengan cengkeh untuk mencegah trip, lalat putih, ulat; (2) kubis dengan tomat; (3) wortel dengan bawang prei. ? Melakukan rotasi tanaman yang dapat mengendalikan serangan hama, mencegah patogen dan penyakit, serta memperbaiki hara tanah. ? Melakukan metode pengendalian sederhana dan tradisional seperti jala penangkar, pagar, menggunakan umpan, kurungan, perangkap cahaya, dan sebagainya. ? Pengendalian biologi dengan cara penggunaan makhluk hidup lain seperti kumbang kepik, predator atau parasit serangga, dan hewan pemakan lainnya dalam sistem ekologi. ? Menggunakan pestisida organik atau tanaman obat yang tidak ada residu, murah, serta aman. Beberapa contoh pestisida organik dapat dilihat di bawah ini. ? Semprotan Biologis Untuk Ulat Pemakan Daun Bahan-bahan: 1. Batang atau daun nimba : 2 bagian 2. Lengkuas : 1 bagian 3. Sereh : 1 bagian 4. Sabun : 1 batang (sebagai perekat) Cara Pembuatan: 1. Campurkan semua bahan dan rendam dalam air yang cukup semalam 2. Saring dan campur dengan 15-20 bagian air. Pemakaian: - Semprotkan larutan pada subuh atau senja. Bila serangan hama serius, gunakan setiap hari. - Terbukti manjur pada kacang panjang dan sayuran berdaun. Larutan ini dapat mengurangi populasi hama. - Limbah atau endapannya dapat digunakan sebagai kompos. ? Semprotan Biologis Untuk Kumbang Pemakan Daun Bahan-bahan: 1. Umbi kering dringo : 200 gram 2. Kunyit : 200 gram 3. Sabun : 1 batang (sebagai perekat) Cara Pembuatan: 1. Campur semua bahan dengan air selama 30 - 45 menit, lalu didihkan. 2. Saring dan gunakan cairan dan endapannya. Pemakaian: - Campur dengan air pada perbandingan 4 bagian ekstrak dan 11 bagian air. - Semprotkan pada kumbang pemakan daun pada malam hari atau subuh. ? Semprotan Biologis Untuk Kutu dan Semut Bahan-bahan: 1. Bunga cengkeh : 2 kg + 5 Itr air panas 2. Lengkuas diparut : 2 kg + 5 Itr air 3. Sirih segar dihaluskan : 2 kg + 3 Itr air 4. Sabun asepso diparut : 2 batang + 2 Itr air Cara Pembuatan 1. Rendam semua larutan secara terpisah selama 24 jam. 2. Saring dan campurkan semua bahan hingga diperoleh larutan. Pemakaian - Apabila akan digunakan, campurkan 30 ml larutan dengan 1 liter air. - Semprotkan pada kutu dan semut pada malam hari atau subuh. ? n mentah Proses penguraian yang terjadi pada bahan mentah berupa campuran berbagai macam bahan organik tanaman akan terjadi relatif lebih cepat dibanding bahan organik yang hanya terdiri dari tanaman sejenis. Semakin kecil ukuran potongan bahan mentah akan semakin cepat terjadinya proses penguraian. Ukuran ideal potongan bahan mentah sekitar 4 cm. Bila potongannya terlalu kecil maka timbunan akan menjadi padat sehingga tidak sirkulasi udara. Pembuatan kompos adalah menumpuk bahan organik sehingga terjadi proses pelapukan. Penumpukan tidak boleh terlalu padat sehingga sirkulasi udara berjalan lancar dan kelembapannya terjada agar proses pelapukan berjalan sempurna. ? Kondisi mikro (suhu, pH, tinggi tumpukan) Pengaturan suhu merupakan faktor penting dalam pengomposan. Salah satu faktor yang sangat menentukan suhu adalah tingginya tumpukan. Tumpukan bahan yang terlalu rendah akan berakibat cepatnya kehilangan panas. Sebaliknya bila timbunan terlalu tinggi, akan terjadi kepadatan bahan organik yang diakibatkan oleh berat bahan sehingga suhu menjadi sangat tinggi dan tidak ada udara di dalam timbunan. Tinggi timbunan yang memenuhi syarat adalah 1,2-2,0 meter dan suhu ideal selama proses pengom-posan adalah 40°-50° C. Untuk mempercepat terjadinya proses pengomposan maka pH timbunan harus diusahakan tidak terlalu rendah. Namun, pH timbunan yang rendah dapat dicegah dengan pemberian kapur, abu dapur, atau abu kayu. Penulis : Agus Hariyadi Email : ahariyadi54@yahoo.com Sumber : Budidaya Kunyit (Curcuma domestica),Departemen Pertanian, Ditjen Hortikultura, Ditjen Budidaya Tanaman Sayuran & Biofarmaka, Kementan, 2009