Loading...

PENGGUNAAN VARIETAS JAGUNG TAHAN TERHADAP PENYAKIT BULAI MENDUKUNG PROGRAM PENGEMBANGAN PRODUKSI JAGUNG

PENGGUNAAN VARIETAS JAGUNG TAHAN TERHADAP PENYAKIT BULAI MENDUKUNG PROGRAM PENGEMBANGAN PRODUKSI JAGUNG
Jagung merupakan komoditas pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras, sangat penting untuk ketahanan pangan. Jagung juga berperan penting dalam industri pakan ternak dan industri pangan. Dalam kurun lima tahun terakhir, kebutuhan jagung nasional untuk bahan industri pakan, makanan dan minuman meningkat ±10%-15%/tahun. Pengembangan jagung diarahkan untuk mewujudkan Indonesia menjadi produsen jagung yang tangguh dan mandiri pada tahun 2025 dengan ciri-ciri produksi yang cukup dan efisien, kualitas dan nilai tambah yang berdaya saing, penguasaan pasar yang luas, meluasnya peran stakeholder, serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. Dalam periode 2005-2025, produksi jagung nasional diproyeksikan rata-rata tumbuh sebesar 4,26%. Kondisi di atas menggambarkan bahwa komoditi jagung mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan melalui agribisnis. Produk jagung banyak diolah dalam bentuk tepung, makanan ringan atau digunakan untuk bahan baku pakan ternak. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Sejalan dengan perkembangan industri pengolah jagung dan perkembangan sektor peternakan, permintaan akan jagung cenderung semakin meningkat. Sejalan dengan banyaknya penganerakaragaman bahan olahan produk jagung dan banyaknya permintaan pasar serta harapan pengembangan produk jagung ke depan harus diimbangi dengan inovasi teknologi budidaya jagung spesifik lokasi yang handal. Namun dibalik itu pastilah takluput dengan adanya daerah-daerah endemic penyakit bulai pada tanaman jagung.Dengan meningkatnya populasi OPT akibat perubahan iklim menuntut adanya varietas jagung yang adaptif terhadap perkembangan dinamika hama dan penyakit di lapangan. Penyakit Bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Peningkatan suhu dan kelembaban akhir-akhir ini diperkirakan akan semakin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora bulai melalui media udara, tanah ataupun benih. Ciri umum yang ditimbulkan dari serangan bulai adalah munculnya butiran putih pada daun yang merupakan spora cendawan pathogen tersebut. Masa kritis tanaman jagung terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari. Sejumlah daerah di Indonesia seperti Bengkayang, Kalimantan Barat, Kediri Jawa Timur dan Sumatera Utara dilaporkan telah menjadi daerah endemic bulai. Upaya pencegahan yang dilakukan petani melalui perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil dilaporkan tidak membawa hasil karena adanya efek resistensi atau kekebalan terhadap bahan aktif tersebut. Selain penyakit, serangan hama utama jagung seperti penggerek batang dan kumbang bubuk. Kerusakan biji oleh kumbang bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji 17%. Siklus hidup berkisar antara 30-45 hari pada suhu optimum 37oC, kadar air biji 14% dan kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila kadar air biji jagung yang disimpan di atas 15%.Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. Untuk menanggulangi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) jagung khususnya penyakit bulai telah dilakukan pencarian gen-gen yang tahan terhadap hama dan penyakit tersebut. Sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan jagung maka pemerintah telah mengeluarkan varietas jagung; Adapun varietas jagung toleran cekaman abiotik penyakit bulai sejumlah galur dengan ketahanan spesifik terhadap penyakit dan hama jagung seperti Bima 3 Bantimurung (Hibrida) yang tahan serta toleran hama/penyakit bulai dengan produksi hasil mencapai 10 t/ha. Varietas Lagaligo (Komposit) tahan dan toleran hama/penyakit bulai dengan produksi 7,5 t/ha dan varietas galur G10104428, G101044-46, Mal 01-2, Mal 04-1, dan G-193-1toleran terhadap hama/penyakit bulai serta mampu berproduksi 8 t/ha. Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Bacaan Badan Litbang Pertanian dan Balitserealia MarosSumber gambar : Foto: Balitsereal Maros