Kegiatan pascapanen yang tidak boleh dilupakan adalah grading atau pengkelasan dan pengemasan sebelum buah pisang diangkut (dikirim). Dengan pengkelasan ini maka kita dapat membedakan mutu atau kualitas pisang yang dihasilkan dengan merujuk pada standar atau persyaratan tertentu. Sedangkan pengemasan bertujuan untuk melindungi dari kerusakan dan memudahkan penanganan selama pengangkutan dan distribusi serta pemasaran. Pengemasan yang baik akan menekan kehilangan kualitas maupun kuantitas buah pisang.1. PengkelasanPengkelasan dilakukan sesuai dengan permintaan pasar, berdasarkan asal sisir tandan atau bobot buah. Sebagai contoh pisang mas kirana yang dikembangkan Asosiasi Petani Sridonoretno, Malang dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas A (berat > 8 ons/sisir tanpa cacat), kelas B (2. PengemasanKemasan harus mampu melindungi buah pisang terhadap kerusakan selama distribusi, mampu mempertahankan bentuk dan kekuatan kemasan meskipun terkena kelembaban dan ditumpuk selama waktu penggunaannya, mampu mengeluarkan panas dan uap air yang dihasilkan oleh buah pisang yang tetap melakukan respirasi. Kemasan dari keranjang yang terbuat dari kotak kayu, boks karton dan keranjang plastik. Untuk pengiriman jarak dekat, digunakan keranjang bambu dengan kapasitas 3 - 4 sisir atau peti kayu berisi 150 pisang gandeng (per 2 buah). Sedangkan untuk ekspor umumnya menggunakan karton berventilasi dengan lapisan plastik. Kapasitas kemasan 18 kg dan 11 kg. Untuk pemasaran dalam negeri menggunakan kemasan plastik polipropilen atau peti kayu ukuran 19 x 33 x 23 cm, lapisan lembaran plastik berlubang dan bantalan kertas potongan dianjurkan dalam bentuk sisiran. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengemasan adalah kemasan harus mampu memberikan perlindungan pada buah pisang dari kerusakan seperti luka, tertusuk dan memar.Beberapa penyebab memar pada buah pisang, adalah:a. Memar karena benturan, terjadi akibat dijatuhkan pada permukaan yang lebih keras, seperti buah pisang dalam kemasan jatuh atau dilemparkan saat memuatnya ke dalam angkutan. Untuk mengurangi kerusakan ini, dapat digunakan lapisan atau bantalan pada dasar kemasan dan penanganan yang lebih hati-hati, b. Memar akibat tekanan. terjadi karena kemasan tidak kuat menahan tumpukan dari kemasan diatasnya, pisang pada bagian bawah dapat tertekan pisang yang berada di atasnya jika tidak disusun dengan baik dan diberi lapisan penyekat, c. Memar akibat gesekan, yang dapat dihindari bila penyusunan buah pisang dalam kemasan rapat dan tidak memungkinkan buah bergerak. Kemasan harus cukup memiliki ventilasi atau lubang-lubang untuk membuang panas yang dihasilkan oleh buah pisang. Panas tidak boleh terakumulasi di sekeliling buah yang dapat merangsang respirasi yang lebih cepat. Umumnya kemasan dengan ventilasi sekitar 5% sudah mencukupi. Kemasan harus mampu menekan kehilangan air, susut bobot dan penampilan buah seperti layu atau kurang segar. Susut bobot dapat diatasi dengan menggunakan lembaran plastik polietilen tipis yang diberi lubang perforasi untuk membungkus seluruh pisang sebelum dimuat dalam kotak karton berkorugasi. Disarikan oleh : Lasarus KL, Pusat Penyuluhan Pertanian.Sumber : 1. Pedoman Penanganan Pascapanen Pisang, 2012. Direktorat Budidaya dan Pascapanen Buah, Ditjen Hortikultura. 2. Suyanti, A. Supriyadi, 2008. Pisang. Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.