Pengobatan Ringworm, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan olesan atau melalui mulut. Dalam hal ini, dapat digunakan obat yang mengandung lemak, yodium sulfa atau asam salisilat. Penyakit pada ternak merupakan ancaman yang harus diwaspadai sejak dini. Kalau tidak diantisipasi segera dapat mengganggu produktivitas dan bahkan bisa menimbulkan kematian. Salah satu penyakit yang sering menyerang hewan ternak tersebut adalah Ringworm.Ringworm merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cendawan yang besifat keratinofilik pada permukaan kulit atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu, kuku, rambut dan tanduk) baik pada hewan maupun manusia. Beberapa spesies cendawan bersifat zoonosis karena hewan penderita dapat merupakan sumber penularan pada manusia dan sebaliknya. Sifat penyakit ini yaitu, ringworm cepat menular diantara kelompok hewan dengan mortalitas yang rendah. Zoofilik dermatophytosis dapat menyebabkan endemik pada manusia. Mortalitas penyakit rendah, namun kerugian ekonomis dapat terjadi karena mutu kulit yang menurun atau berat badan turun sebab hewan selalu gelisah. Penyakit ini sering dijumpai pada hewan yang dipelihara secara bersama-sama dan merupakan penyakit mikotik yang tertua di dunia.Spora ringworm tahan lama dalam kandang dan bebas ditempat hewan. Koloni cendawan dapat tetap hidup dalam koloni feces setengah kering. Cendawan tetap efektif di luar tubuh, misalnya di tanah, jerami, kayu dan bahan keratin. Cendawan akan rusak pada suhu tinggi (100°C). Cendawan ini umumnya tidak dapat tumbuh di bawah jaringan kulit atau jaringan yang lebih dalam. Cendawan hidup dipermukaan tubuh yang mengalami keratinisasi, seperti tanduk, rambut, kuku. Dalam hal ini, cendawan cenderung tumbuh menyebar menjauhi radang untuk mencapai jaringan normal hingga terbentuk zat inti yang membatasi pertumbuhannya.Bentuk yang dapat dikenali dari kulit manusia hampir sama dengan infeksi pada kulit kucing atau hewan lainnya. Bulat kemerahan dengan lesi menyerupai kawah yang terkadang berisi air, rasa gatalnya teramat sangat, apabila digaruk akan semakin besar dan melebar dengan lesi yang semakin dalam. Penyembuhan secara total pada hewan maupun manusia perlu dilakukan. Penanganan yang tidak tuntas memungkinkan cendawan tumbuh kembali sehingga lebih sulit dibasmi.Cara penularan penyakit Ringworm, dapat melalui kontak langsung bersentuhan antara hewan penderita dengan hewan sehat, meskipun persentuhan tersebut tidak selalu menimbulkan penyakit. Perkembangan penyakit tergantung interaksi antara inang dengan cendawan tersebut, sehingga perubahan kulit tidak selalu berbentu cincin. Penularan dari hewan ke manusia dan sebaliknya kadang terjadi terutama Microsporum canis. Peralatan untuk perawatan hewan, sadel dan pakaian kuda sering sebagai penyebab penularan penyakit.Di lokasi/tempat infeksi terdapat bentuk khas dari penyakit ini, yaitu terlihat seperti cicin, namun gejala klinisnya bervariasi dari bercak merah, eksudasi dan rambut patah atau rontok. Perkembangan selanjutnya sangat bervariasi. Dapat berupa benjolan kecil dengan erupsi kulit atau berbentuk seperti tumor. Adapun contoh gejala klinis pada beberapa hewan, sebagai berikut : 1) Gejala pada sapi. Erupsi kulit terjadi pada muka, leher, dengan permukaan yang meninggi, berkeropeng, bersisik atau berbentuk bungkul. Jika keropeng diangkat akan terjadi perdarahan; 2) Gejala pada kuda. Kuda yang terkena infeksi biasanya adalah bahu, muka, dada dan punggung. Perubahan kulit bervariasi dari erupsi kulit berbentuk eritrema, rambut rontok, bersisik atau berbentuk benjolan dengan luka yang cukup dalam. Gejala klinis lain, pada lesi awal berlanjut membentuk alopesia dan kerak atau keropeng dalam beberapa hari; 3) Gejala pada domba. Adanya perubahan pada kulit berupa erupsi disertai rambut rontok dengan pembentukan sisik dan biasanya terdapat pada muka dan punggung.Biasanya Ringworm jenis tertentu dapat sembuh dengan sendirinya tetapi kebanyakan perlu diobati dengan bahan kimia. Pengobatan Ringworm, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan olesan atau melalui mulut. Dalam hal ini, dapat digunakan obat yang mengandung lemak, yodium sulfa atau asam salisilat. Untuk sapi dapat digunakan Na-kaprilat 20 % dengan disemprotkan. Pada kuda dapat digunakan Na-trichloromethethyl-thiotetrahydropthalimide. Jika perubahan kulit hanya terbatas, dapat dipakai larutan asam lemak seperti Sapronal atau Naprylat. Untuk perubahan kulit yang akut dapat digunakan asam borax 2-5 % Kalium permanganat 1:5000. Untuk luka menahun, kulit tebal, hiperpigmentasi dan keropeng dapat digunakan Carbowax yang telah mengandung fungisida. Obat lain yang bisa dipergunakan adalah asam benzoat 6 % dan resareinol 1-10 %. Disamping obat olesan tersebut diatas, dapat juga dipergunakan gliserofulvin.Sedangkan untuk lesi kecil digunakan 2 % miconazole cream atau larutan thiabendazole setiap hari sampai sembu8h. Bila lesi berkembang dapat digunakan 0,5 % sulfur atau 1:300 larutan Captan sebagai pencuci 2 kali seminggu. Untuk penyakit kronis, diberikan obat sistemik, seperti microcrystallin griseofulvin. Dosis untuk anjing 40-120 mg/kbb/hari 1 kali dicampur dengan makanan yang berlemak tinggi. Pengobatan dilanjutkan selama 2 minggu setelah sembuh dari lesi atau pemeriksaan pada kultur negatif. Kucing tidak boleh lebih dari 60 mg/kbb/hari karena menyebabkan toksisitas pada sumsum tulang. Bagi hewan yang resisten terhadap griseofulvin diberi ketoconazole 10-30 mg/kbb/hari, walaupun obat ini belum dibuktikan pemakaiannya untuk hewan.Pencegahan Ringworm, dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan tubuh hewan dan kebersihan kulit hewan. Sedangkan hewan penderita harus dijauhi baik oleh hewan lain ataupun manusia kecuali yang ditugaskan merawat hewan tersebut. Disamping menjauhi juga mendesinfeksi tempat yang diduga menjadi sumber spora. Adapun vaksin yang dapat dibuat dari T. verrucosum pernah digunakan untuk pengebalan terhadap Ringworm pada anak sapi.Pengendalian dan Pembrantasan Ringworm, dapat dilakukan dengan memisahkan penderita dan mencegah kontak dengan hewan sehat. Selanjutnya peralatan bekas penderita harus dihapushamakan. Sisa pakan dan bahan yang tidak dipergunakan lagi harus dibakar. Sedangkan penderita Ringworm diobati secara tuntas dan sanitasi diperhatikan. Daging hewan penderita ringworm dapat dkonsumsi, namun harus dimasak terlebih dahulu sebelum diedarkan, sedangkan kulitnya harus dimusnahkan. (Inang Sariati) Sumber:1)Manual Penyakit Hewan Mamalia, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012;2)https://www.google.co.id/search?q=PENGOBATAN+DAN+PENGENDALIAN+PENYAKIT+RINGWORM&newwindow