Loading...

PENGOLAHAN LAHAN TADAH HUJAN PADA BUDIDAYA JAGUNG DI DESA TEGALREJO

PENGOLAHAN LAHAN TADAH HUJAN PADA BUDIDAYA JAGUNG DI DESA TEGALREJO
Pola tanam di Desa Tegalrejo Kecamatan Wirosari Kabupaten Grobogan berbeda dengan daerah lain. Hal tersebut dikarenakan lahan merupakan lahan tadah hujan dan tekstur serta kontur tanah yang berbeda pula. Dengan demikian tanaman yang dibudidayakan berbeda. Pola tanam yang diterapkan di desa ini yaitu MT I padi/jagung, MT II padi/jagung dan MT III (musim kemarau) kacang tanah. Pada musim kemarau sebagian besar petani menanam kacang tanah apabila masih ada hujan. Apabila sudah tidak ada hujan lahan bera (bahasa jawa). Kacang tanah yang dibudiyakan petani Tegalrejo adalah kacang tanah varietas lokal yang dibutuhkan perusahaan kacang Dua Kelinci, dengan ciri kacang tanah berisi dua polong. Selain ditampung oleh perusahaan mitra, kacang hasil panen petani digunakan untuk kacang rebus, kacang konsumsi dan untuk kebutuhan benih. Umur panen kacang tanah bervariasi sesuai dengan penggunaannya:1. Untuk perusahan kacang Dua Kelinci dipanen umur 85-90 hari2. Untuk konsumsi rumah tangga seperti dibuat kacang precet, sangrai atau dibuat sambal dipanen umur 85-90 hari3. Untuk kacang rebus dipanen umur 70-85 hari Kacang tanah untuk rebus akan dipanen lebih awal. Keuntungannya harga akan lebih tinggi karena belum memasuki panen raya. Pada awal panen kacang tanah untuk rebus, harganya mencapai Rp 250.000,- s/d Rp 280.000,- per karung, dan pada saat panen raya harganya akan turun menjadi Rp. 180.000,- s/d Rp 210.000,-. Tanaman kacang yang diperuntukkan sebagai kacang rebus akan panen lebih cepat, karena panen belum masak penuh. Hal tersebut menyebabkan lahan akan kosong (bera) lebih lama sampai menjelang musim tanam I atau musim hujan. Pada saat lahan bera petani memanfaatkan waktu tersebut untuk membersihkan gulma secara manual dan mengolah tanah dengan dicangkul. Setelah gulma bersih dan lahan selesai dicangkul, pupuk kandang disebarkan merata diatasnya.Selain mengusahakan lahan pertanian untuk tanaman pangan, umumnya petani di Desa Tegalrejo juga memelihara ternak sapi. Rata-rata mereka memelihara 2-4 ekor sapi. Kotoran dari ternak sapi disimpan di kandang dan sekitarnya selama satu tahun hingga menjadi pupuk kandang yang siap digunakan. Pupuk kandang inilah yang diangkut dan disebarkan ke lahan yang telah diolah dan sebagian lagi dipergunakan untuk tutup tanam jagung.Sambil menunggu datang hujan petani akan mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan walaupun belum bisa mulai menanam jagung. Setelah pupuk kandang disebar kemudian lahan dibuat guludan/bedengan. Apabila hujan belum turun, pekerjaan dilanjutkan lagi dengan membuat lubang tanam dengan cangkul (bahasa jawa koak). Apabila masih belum hujan petani meneruskan kembali dengan memberikan pupuk kandang ke koakan tersebut. Koakan dibuat sesuai jarak tanam yang diinginkan, misalnya jarak tanam 25 cm x 70 cm, satu lubang tanam satu benih, atau jarak tanam 40 cm x 80 cm dengan dua benih jagung per lubang tanam.Dengan demikian pada saat turun hujan lahan benar-benar siap ditanami. Semua pekerjaan tersebut dikerjakan oleh petani dan keluarganya setiap hari, jadi bisa mengurangi tenaga kerja yang dibayar atau mengurangi biaya pengeluaran.Pada saat hujan datang secara otomatis petani akan menanam semua, baik menanam padi gogo atau menanam jagung. Karena waktunya bersamaan sebagian besar petani yang mempunyai lahan lebih dari satu harus menyewa tenaga kerja, tetapi sebagian lagi bergantian dengan petani lainnya secara bergotong-royong. PENULIS : CAHYO MULYADI,SP Penyuluh Pertanian Kecamatan Wirosari