Loading...

Peningkatan Capaian Produksi di Beberapa Sektor, Mentan Yakin Indonesia Tidak Akan kekurangan Bahan Pangan

Peningkatan Capaian Produksi di Beberapa Sektor, Mentan Yakin Indonesia Tidak Akan kekurangan Bahan Pangan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2018 hari ini, Senin, 15 Januari 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta. Rakernas yang mengusung tema: Mengangkat Kesejahteraan Petani” dihadiri oleh sekitar 1.700 peserta yang terdiri dari Kepala Dinas lingkup Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota sentra produksi pangan, Aster Kasad TNI, Kepala Staf Daerah Militer (Kasdam), Komandan Resort Militer (Korem), Komandan Distrik Militer (Kodim), pejabat Eselon 1, 2 dan 3 Kementerian Pertanian dan undangan lain. Narasumber: Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kemendesa PDTT), Dirjen Sumber Daya Air (Kemen PUPR), Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag), Dirjen Penanganan Fakir Miskin (Kemensos), Wakil Ketua KPK, Ketua Satgas Pangan.Pada Rakernas ini Mentan menyampaikan beberapa capaian kinerja yang telah diraih oleh Kementan yang ditandai dengan tidak impor beras medium, cabai segar dan bawang merah sejak tahun 2016. Pada 2017, Indonesia tidak impor jagung pakan ternak sehingga hemat devisa Rp10,6 triliun, bahkan telah ekspor bawang merah 7.561 ton kepada Thailand, Malaysia, Timor Leste dan lainnya. Selain itu di tahun yang sama Indonesia telah mencapai swasembada empat komoditas. Produksi padi, jagung dan bawang merah meningkat masing-masing 2,4%; 18,5%; dan 3,3% dibanding produksi tahun 2016. Produksi gula, daging sapi, sawit, dan karet masing-masing meningkat 10,9%; 2,6%; 6,4%; dan 2,3% dibanding tahun 2016. Realisasi anggaran tahun 2017 sebesar Rp. 21,9 triliun atau 90,4% terhadap pagu APBN 2018 sebesar Rp24,2 triliun. Capaian peningkatan produksi padi, jagung, bawang merah, gula, daging sapi, dan lainnya pada 2017 sudah on the right track menuju terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan. Peningkatan capaian produksi dan swasembada juga berdampak pada kesejahteraan petani. Indikasinya jumlah Rumah Tangga Petani sejahtera (tidak miskin) meningkat dari 85,25 persen pada Maret 2014 menjadi 85,87 persen Maret 2017. Tidak saja dalam persentase, jumlah absolute Rumah Tangga Petani miskin juga menurun dari 3,13 juta Rumah Tangga pada Maret 2014 menjadi 3,05 juta Rumah Tangga pada Maret 2017. Indikator kemiskinan di pedesaan juga menurun. Pada Maret 2017 penduduk miskin di perdesaan menjadi 17,10 juta jiwa turun 842 ribu jiwa atau 4,7% dibanding Maret 2015 sebanyak 17,94 juta jiwa. Rasio di perdesaan membaik pada Maret 2017 sebesar 0,320 menurun 0,014 poin atau 4,19% dibanding pada Maret 2016 sebesar 0,334. Berdasarkan hasil evaluasi The Economist Intelligence Unit (EIU), ketahanan pangan Indonesia 2017 menduduki ranking 69 dari 113 negara, dari aspek ketersediaan pangan peringkat 64 dari peringkat 76 pada tahun 2014. Sementara itu, hasil evaluasi EIU terhadap Food Sustainability Index, Indonesia pada peringkat 21 dari 25 negara, dan dari aspek keberlanjutan pada peringkat 16 di atas Amerika Serikat, China dan India.Mentan menyatakan, pada 2018 Kementan fokus pada replanting dan pembagian bibit guna mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia, di samping tetap memperkuat Upaya Khusus (Upsus) pangan strategis seperti padi, jagung, cabai, bawang merah, bawang putih, kedelai dan lainnya untuk menambah luas tanam dan produktivitasnya, sehingga produksi padi 2018 akan naik lagi dan kedaulatan pangan tetap terjaga. Tumpuan peningkatan produksi 2018 diperoleh dari kanalisasi/membangun sawah pada lahan rawa pasang surut, rawa lebak 1,0 juta hektar secara bertahap dari potensi 9,5 juta hektar tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Lampung dan lainnya. Demikian pula meningkatkan Indek Pertanaman (IP) dengan membangun embung, dam-parit dan lainnya pada lahan kering/tadah hujan (rainfed) potensi 4 juta hektar.Selain itu semua, Kementan akam melakukan kegiatan pengungkit produksi di tahun 2018 berupa penyiapan sarana produksi 3 juta hektar padi, 4 juta hektar jagung dan 1 juta hektar kedelai. Pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan petani dan fasilitasi bantuan ternak ayam, itik, kambing/domba, kelinci, benih/bibit hortikultura dan perkebunan serta alsintan. Sebagian besar (75%) kegiatan fisik di lapangan dengan pola Padat Karya menyerap tenaga kerja di 100 kabupaten, seperti rehab jaringan irigasi tersier, membangun jalan usaha tani, memproduksi benih/bibit hortikultura dan perkebunan, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan lainnya.Kementan tetap optimis, pada akhir Januari 2018 akan memasuki panen raya dan mencapai puncak pada Februari-April 2018. Luas panen pada Januari-April 2018 diprediksi akan mencapai 8,1 juta hektar dengan produksi 33,9 juta ton GKG dan surplus beras. Perlu antisipasi terhadap harga gabah akan jatuh di saat panen raya. Adanya penyerapan gabah petani (Sergap) oleh BULOG pada Januari-Desember 2018 diharapkan mencapai nilai 3,7 juta ton setara beras. Pada Februari-Juni 2018 diharapkan dapat menyerap 2,8 juta ton atau 76% dari total target 2018 dengan target stok akhir Desember 2018 mencapai 2,2 juta ton beras, berarti stok sangat aman.Harga gabah GKP di tingkat petani di 19 Provinsi pada Minggu I Januari 2018, rata-rata Rp. 5.124/kg dengan kisaran minimum Rp. 4.000/kg dan maksimum Rp. 6.300/kg. Namun, saat ini mulai terjadi penurunan harga GKP Rp 100/kg walaupun masih di atas HPP yaitu di Kabupaten Bekasi, Tasikmalaya, Wonosobo, Pemalang, Pati dan Hulu Sungai Selatan. Dengan berbagai capaian kinerja yang telah diperoleh oleh Kementerian Pertanian yang bersinergi dengan berbagai pihak, Mentan menyatakan Indonesia tidak akan kekurangan bahan pangan dan swasembada telah berhasil dicapai. Keberhasilan inipun diharapan dapat langsung dirasakan dan dinikmati oleh petani sebagai pelaku utama di bidang pertanian. Petani Sejahtera, Bangsa Berjaya”. (Nurlaily).