Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang sudah banyak ditanam petani hampir diseluruh kepulauan Indonesia antara lain Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Saat ini nilam termasuk komoditas utama tanaman perkebunan yang oleh Kementerian Pertanian akan terus dikembangkan. Luasan tanaman nilam telah mencapai sekitar 150 ha yang tersebar di 10 provinsi lokasi khusus pengembangan nilam di Indonesia yaitu Aceh, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, DI Yogyakarta, Bali dan Gorontalo. Pola tanam Agar tanaman nilam lebih menguntungkan, sebaiknya dalam berusahatani nilam dilakukan secara monokultur dan tidak sebagai usahatani sampingan. Dengan pola tanam monokultur sehingga memerlukan budidaya yang intensif baik dari kesesuaian lahan dan iklim, penggunaan jenis/varietas, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta cara dan waktu panen yang tepat. Jarak tanam dan dosis pemupukan disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan yang digunakan. Mengenal serangan virus yang merugikan Untuk menjaga kualitas nilam, perlu mewaspadai serangan virus yang biasa menyerang yaitu: Potyvirus, Fabavirus, Potexvirus, Cucumber mosaic virus (CMV) dan Tobacco mosaic virus (TMV). Serangan virus bersifat sistemik. Virus umumnya menyerang sel-sel tanaman nilam hidup, namun demikian ada virus (TMV) yang mampu bertahan dalam keadaan tanamanyang sudah kering dan bila lingkungan memungkinkan, virus akan aktif kembali dan bersifat infeksius. Infeksi virus bersifat sistemik. Untuk menghidari serangan virus, hendaknya sebelum ditanam stek tanaman dipastikan bebas dari infeksi virus. Gejala infeksi tergantung pada tingkat kerentanan tanaman inangnya, jenis virus dan lingkungan tempat tumbuh tanaman. Tanaman nilam yang terinfeksi virus menunjukkan gejala daun mengalami khlorosis dan berubah bentuk, serta ukuran daunnya tidak normal (lebih kecil). Virus sangat merugikan petani nilam, karena produksi nilam diambil dari daun dan batang (biomasa) tanaman sehingga bila terjadi serangan akan menurunkan produksi nilam.Pada beberapa varietas (Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan), tanaman yang terkena serangan virus dapat menurunkan bobot terna (daun dan batang nilam) nilam basah sampai 35% dan terna kering sebesar 40%, kadar minyak turun 9% dan kadar paschouli alkohol turun sebesar 5%. Bila serangan berat kerugian petani nilam akan semakin besar. Bibit tanaman yang sehatSecara umum perbanyakan nilam dilakukan dengan cara vegetatif/stek (pucuk atau batang). Untuk mencegah penyebaran serangan virus yang lebih luas, petani nilam harus memperhatikan bahan stek pucuk/batang yang akan ditanam harus benar-benar bebas dari virus dengan memilih induk tanaman yang akan dipergunakan untuk perbanyakan benar-benar sudah bebas dari infeksi virus. Cara menanggulangiCara menanggulangi virus Pogostemon dapat dilakukan dengan menghilangkan virus pada jaringan tanaman antara lain dengan kultur meristem, terapi panas dan penggunaan antivirus sintetis (ribavirin), asikloguanosin, azidotimidin dan 2-tiourasil. Cara lain adalah: 1) dengan melakukan isolasi daerah meristem yang memiliki kandungan antivirus alami dan belum terinfeksi virus; 2) menghilangkan (eliminasi) virus dengan teknik kultur meristem apikal; 3) membrantas/mengurangi kutu daun Aphis gossyypii (karena kutu ini dapat menyebarkan virus/Potyvirus secara alami) dengan cara penyemprotan insektisida, musuh alami namun paling tepat adalah dengan pengendalian hama terpadu (PHT); 4) pemilihan bahan tanaman (stek pucuk/batang) yang sehat dan bebas virus. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006; Teknologi Budidaya Nilam, balai Besar Pengkajian Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008; Warta Peneltian dan Pengembangan Pertanian, Volume 35 tahun 2013.