Pakan bagi ternak merupakan biaya produksi yang tinggi, sehingga perlu teknologi sederhana untuk membuat pakan alternatif. Sumber pakan Alternatif di daerah lahan kering adalah limbah pertanian, baik dalam keadaan segar maupun dalam keadaan kering seperti halnya rumput alam atau jerami,. Namun jerami tidak mudah dicerna karena mengandung kadar lignin yang tinggi. Disamping itu pola tanam di lahan kering yang umumnya mengandalkan air hujan untuk mendukung budidaya tanaman pangan. Hal ini yang mendukung tersedianya hijauan pakan dan limbah pertanian sebagai sumber utama hijauan pakan ternak dilahan kering pada musim kemarau. Menghadapi musim kemarau supaya ketersedian pakan tetap mencukupi petani mengantisipasinya melakukan tanam jagung dengan system rapat dan tanaman Tayuman dipagar-pagar disekeliling rumah, dalam rangka memenuhi hijauan pakan. Penanaman jagung system rapat direkomendasikan di daerah dekat sumber air seperti sungai, sumur, embung , dam parit, dll.Hijauan segar yang biasa diberikan pada ternak ruminansia berupa: rumput kolonjono, rumput alam, tebon (tanaman jagung muda), tayuman (tanaman yang biasa digunakan untuk pagar), ramban (daun mahoni, munggur,pisang, kesambi,turi, lamtoro), daun ubikayu, dan kulit ubikayu. Sedangkan hijauan yang umumnya diberikan dalam keadaan kering adalah : Jerami padi, jerami kacang tanah (rending), jerami kedelai).Pola Penyediaan pakan. 1) Pola tanam tanaman pangan dengan sistem tumpang sari dapat menyediakan hijauan pakan kontinyu sepanjang tahun; 2) Pola pakan pada saat musim kemarau didominasi oleh hijauan yang sudah dikeringkan seperti jerami padi,jermai kacang tanah dan kedelai;3) Penanaman pada musim tanam kedua dapat menyediakan hijauan kering untuk persediaan pakan pada saat musim kemarau; 4) Hasil ubikayu pada saat panen raya harganya murah, namun dapat digunakan sebagai pakan tambahan untuk sapid an kambing.Teknologi Penanaman Jagung sistem rapat. Manfaat penanaman jagung sistem rapat mempunyai dua fungsi yaitu dapat dipanen dalam bentuk tebon dan jagung pipilan. Penanaman jagung sistim rapat memerlukan sarana produksi sebagai berikut : Kebutuhan benih : 25 – 30 kg/ha, Pupuk Urea : 300 kg/ha, SP36 : 100 kg/ha, KCL : 50 kg/ha dan Pupuk organic : 2 ton/ha.Persiapan tanam : 1) Tanah diolah secara ringan dan dibersihkan dari rumput liar, tunggak, dan tanaman penggangu. 2) Pupuk kandang diberikan pada saat pengolahan tanah. 3) Tanah ditugal dengan jarak tanam 20X20 cm; 4) Dibuatkan larika arah timur – barat dan arah utara selatan; 6) Tanam 1 biji /lubang tanam ,selanjutnya lubang ditutup dengan pupuk kandang;7) Lakukan penyiraman 8 X yakni 1hari setelah tanam(HST), 3 HST, 7HST, 10 HST, 14 HST, 30-35 HST, 60 HST dan 70 HST; 8) Pupuk organic diberikan 2 kali yakni : Pertama tanaman umur 7-10 HST. Dosis pupuk /ha Urea : 200 kg, SP 36: 100 kg dan KcL : 50 kg. Pemupukan kedua dilaksanakan tanaman berumur 30-35 HST, pupuk yang diberikan Urea dengan dosis 100 kg/ha. 9) Penyiangan dilakukan 1 kali yaitu saat tanaman berumur 2-3 Minggu dan 28-30 hari. 10) Pengendalian hama dan penyakit disesuaikan dengan serangan pada tanaman. 11) Panen tebon : Penjarangan pertama dilakukan pada tanaman berumur 40 hari setelah tanam, dengan penjarangan arah timur barat . Penjarangan kedua tanaman berumur 50 hari yakni arah utara –selatan. Penjarangan ke-3 dilakukan pada tanaman berumur 60 hari, dengan penjarangan Timur- Barat. Jadi jarak tanam terakhir adalah 40 X 40 cm. Hasil panen tebon 22,5 ton/ha; 12) Panen Jagung pipilan ditandai dengan kelobot mulai mengering dan berwarna coklat atau tanaman mulai kering mati. Hasil panen jagung pipilan kering sebanyak 4,6 ton/ha. (Penulis :Suwarna) Sumber : Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pertanian Yogyakarta, 2011