Dalam perdagangan dunia, Indonesia dikenal sebagai pemasok berbagai minyak atsiri sebagai bahan baku parfum, kosmetika dan farmasi, salah satu diantaranya adalah minyak nilam yang berasal dari tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth). Sebagai pemasok minyak nilam, Indonesia berhasil menguasai sekitar 70% pangsa pasar dunia yang menghasilkan devisa diatas 20 juta US$. Tanaman nilam di Indonesia tersebar di 12 provinsi, dimana sebagian besar (90%) berada di Sumatera dan sebagian kecil (10%) di Jawa dan Kalimantan. Dalam proses produksi tanaman, petani umumnya mengusahakan tanaman nilam dengan skala usaha kecil dan merupakan usahatani sampingan. Sampai saat ini pemahaman dan penerapan teknologi budidaya nilam masih kurang terutama dalam hal persyaratan tumbuh, belum menggunakan benih unggul, pemupukan yang baik dan pengendalian penyakit tanaman nilam. Nilam merupakan tanaman yang tidak tahan kekeringan dan memerlukan curah hujan sekitar 1,750 - 3.000 mmmm per tahun yang merata sepanjang tahun. Dengan iklim semacam ini, nilam rawan akan serangan penyakit. Beberapa penyakit yang menyerang nilam sebagai berikut: 1. Penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum, penyakit ini mengakibatkan kerugiian cukup besar bagi patani nilam (mencapai 60-90%). Tanaman yang terserang menunjukkan gejala sebagai berikut: tanaman muda atau tua layu dan dalam waktu singkat akan menyebabkan kematian tanaman. Pencegahan dan pengendaliannya dilakukan dengan cara: a) menggunakan benih sehat; b) tidak menanam di lahan bekas serangan penyakit; c) melakukan pergiliran tanaman guna selain untuk memutus siklus penyakit juga guna mempertahankan kesuburan tanah; d) bila ada tanaman yang yang terserang penyakit, harus segera dimusnahkan dengan cara dicabut dan dibakar dan bekas lubang tanaman dana tanaman disekitarnya disemprot dengan menggunakan bakterisida 2. Penyakit yang disebabkan oleh nematoda, nematoda akan merusak akar tanaman sehingga transportasi unsur hara menjadi terganggu yang menyebabkan daun berwarna kemerahan dan kerdil. Jenis nematoda yang menyerang antara lain: Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne incognita dan Radopholus similis. Cara pencegahan dan pengendaliannya adalah: a) menggunakan varietas yang toleran (sidikalang); b) agensia hayati (Pasturia penetrans, Arthrobotrys sp, jamur penjerat nematoda); c) menggunakan pestisida nabati (serbuk biji nimba, bungkil jarak); d) engikuti SOP budidaya nilam; e) menanam benih yang bebas dari nematoda. Kita kenal tanaman inang nematoda antara lain: a) pisang, kopi, keladi, ;ada (untuk Radopholus similis); b) kacang tanah, jagung, kentang (Pratylenchus brachyurus); c) tomat, lada, terung, kentang (untuk Meloidogyne incognita ) 3. Penyakit Budok (penyebab jamur Synchytrium sp), gejala penyakit ini antara lain batang tanaman membengkak dan menebal, daun berkerut dan tebal dengan permukaan bawah berwarna merah, permukaan atas daun menguning karena kekurangan unsur hara. Cara pencegahan dan pengendaliannya sebagai berikut: a) menggunakan benih sehat; b) melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi; c) tanaman yang sudah terserang budok tidak boleh diambil seteknya untuk benih; d) untuk gejala serangan berat, tanaman dicabut dan dibakar, tanah bekas tanaman disiram fungisida; e) untuk serangan ringan, bagian yang terserag dipotong, sisanya disemprot dengan fungisida benomil; dan f) pengendalian lebih diintesifkn pada musim hujan. Strategi lain dalam mengendalikan penyakit dapat dilakukan dalam berbagai cara yaitu: a) melakukan sanitasi dan eradikasi untuk mengurangi sumber inokulum; b) melakukan pergiliran tanaman; c) memperbaiki saluran drainase pada waktu curah hujan banyak; d) menggunakan benih yang berasal dari tanaman sehat pada kebun yang belum terserang; dan e) penggunaan insektisida sevbagai pencegahan penularan penyakit. Penggunaan agen hayati (Penggunaan agen hayati (Pseudomonas flurencens) dapat menekan perkembangan penyakit layu Bakteri hingga 68,75%. Penanggulangan serangan nematoda dapat dilakukan dengan menggunakan agen hayati Pasteuria penetrans dan Arthrobotrys sp., pestisida nabati seperti biji nimba, bungkil jarak dan nematisida. Sri Puji Rahayu (Penyuluh Pertanian) Sumber : Pedoman Budidaya Tanaman Nilam, Direktorat Budidaya Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, 2006; Teknologi Budidaya Nilam, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008. Pedoman Pembangunan Penangkar Benih Nilam, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan, 2010.