Loading...

Peranan Hara N, P, dan K pada Tanaman Kedelai

Peranan Hara N, P, dan K pada Tanaman Kedelai
Kedelai merupakan komoditas terpenting karena kaya protein nabati yang diperlukan untuk peningkatan gizi masyarakat. Protein nabati ini selain aman bagi kesehatan juga relatif murah dibandingkan sumber protein hewani. Sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang setiap tahun bertambah terus maka kebutuhan biji kedelai semakin meningkat untuk bahan baku industri olahan pangan (tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco dan sebagainya). Tanaman kedelai sampai saat ini perkembangannya berjalan sangat lambat. Pemberian Pupuk N, P, dan K petani kurang minat dikarenakan produktivitas kedelai masih rendah rata-rata sekitar 1,25 ton/ha mengakibatkan kalah bersaing dengan komoditas palawija lain seperti jagung hibrida. Oleh karena itu, tanaman kedelai dari tahun ke tahun terjadi penurunan luasan panen. Komoditas kedelai mampu bersaing dengan jagung, jika produktivitasnya bisa mencapai 2,18 t/ha dengan mendapatkan keuntungan lebih tinggi. Rendahnya produktivitas kedelai ini disebabkan masih menggunakan pemupukan anjuran yang bersifat sebagai pupuk starter.Padahal hara N diperlukan tanaman kedelai pada awal pertumbuhan untuk pertumbuhan bintil akar. Untuk itu, tanaman kedelai memerlukan hara N, P, dan K dalam jumlah banyak untuk mencapai produktivitas yang optimal. Produksi kedelai sampai saat ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, apalagi untuk mencapai swasembada kedelai. Oleh karena itu, target untuk swasembada kedelai perlu penggunaan varietas unggul baru (VUB) yang berbiji besar dan produktivitasnya tinggi atau ? 2,50 ton/ha. Rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahunnya sebanyak ± 2,2 juta ton biji kering, akan tetapi kemampuan produksi dalam negeri saat ini berdasarkan angka ramalan II BPS tahun 2015, baru mampu memenuhi sebanyak 982.967 ton atau 44,68 % terhadap kebutuhan, dan sisanya sebesar 53,32 % dipenuhi dari impor. Keadaan untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan perluasan panen kedelai baik dilahan kering maupun di lahan sawah seperti di lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan dan lahan pasang surut, serta pengembangan areal panen kedelai terutama di Sumatra dan Kalimantan dengan menerapkan tumpangsari kedelai dengan tanaman ubi kayu merupakan tambahan hasil kedelai yang cukup baik, di samping juga mampu memperbaiki kesuburan tanah pada areal tanaman ubi kayu. Adopsi teknologi yang paling mudah dan murah bagi petani adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB) yang mempunyai produktivitas tinggi. Selain itu, kualitas biji kedelai dalam negeri dan impor tidak terdapat perbedaan, bahkan kedelai dalam negeri berkadar protein lebih tinggi (>40%) dibandingkan kedelai impor (36%), sebaliknya untuk kadar lemak biji kedelai impor lebih tinggi (> 21 %), sedangkan kadar biji kedelai dalam negeri sekitar 19-20%. Apabila dilihat dari ukuran biji kedelai dalam negeri sama dengan ukuran biji kedelai impor. Varietas Bromo, Burangrang, Baluran, Panderman, Mahameru, dan Grobogan bobot 1.000 butir sekitar 13-18 g. Oleh karena itu, agar tercapai swasembada kedelai maka harus memperhatikan kedelai yang mempunyai ukuran biji besar dan produktivitasnya tinggi di atas 2,50 t/ha. Selain itu, kedelai berbiji besar banyak digunakan untuk bahan baku tempe. Dalam peningkatan produktivitas, perlu ditunjang oleh penambahan pupuk N, P, dan K yang optimal sehingga hasil yang diperoleh lebih meningkat lagi. Unsur N, P dan K diserap oleh tanaman dan digunakan dalam proses metabolisme. Suplai hara yang cukup, membantu terjadinya proses fotosintesis dan menghasilkan senyawa organik yang akan diubah dalam bentuk ATP pada saat berlangsungnya proses respirasi, selanjutnya ATP digunakan untuk membantu pertumbuhan tanaman. Selama pertumbuhan reproduktif akan terjadi pemacuan pembentukan bunga, polong serta biji kedelai. Sebaliknya bila pemberian hara N yang berlebihan akan memperpanjang fase vegetatif tanaman. Selain itu, unsur Nitrogen yang diberikan dalam jumlah minimum dapat memaksimalkan penambatan N oleh Rhizobium. Ketersediaan unsur P di dalam tanah dapat diserap oleh tanaman, dapat membentuk ATP, sehingga dapat mempercepat laju fotosintesis yang selanjutnya menghasilkan fotosintat. Peningkatan ketersediaan unsur P dan N dalam tanah melalui pemupukan dan fiksasi N oleh rhizobium, dapat memacu aktifitas fotosintesis. Hasil fotosintesis akan dirombak menghasilkan energi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Peningkatan laju fotosintesis akan meningkatkan jumlah asimilat yang dihasilkan sehingga energi yang tersedia menjadi lebih banyak yang dapat digunakan untuk peralihan dari fase vegetatif ke fase generatif. Proses pembentukan dan perkembangan biji berkaitan erat dengan pemberian Pupuk N, P, dan K. Ketersediaan asimilat atau fotosintat dari laju fotosintesis pada fase pertumbuhan. Apabila proses ini belum berjalan secara optimal akan mempengaruhi perkembangan bobot biji. Selain itu, peranan unsur phosfat untuk pertumbuhan sel, pembentukan akar dan rambut akar dapat memacu pertumbuhan akar, fotosintat akan ditranslokasikan ke polong, sehingga lebih cepat terisi dan umur panen lebih awal. Sedangkan pupuk kalium karena kalium terlibat dalam pembentukan protein dan lemak, menguatkan tanaman, akar, daun, bunga, dan buah tidak mudah rontok, serta sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit. Pemberian N yang berlebihan akan mempengaruhi proses fiksasi N oleh Rhizobium. Nitrat mempunyai kemampuan dalam meniadakan perubahan bentuk rambut-rambut akar yang diperlukan bagi masuknya bakteria, jadi mereduksi jumlah nodul dan mempengaruhi kegiatan nodula-nodula yang telah terbentuk dengan mereduksi volume jaringan bakteri dan dengan mempengaruhi keseimbangan karbohidrat dan nitrogen dalam tanaman. Memasuki fase generatif, tanaman sudah berbunga dan berbuah tidak lagi membutuhkan banyak unsur N. Dampak Kahat NPK Kahat N, pada tanaman muda (fase vegetatif) warna daun hijau pucat dan pada kondisi kekahatan yang parah berwarna kuning pucat, batang lemah dan memanjang. Pada daun tua bagian bawah berwarna kuning dan berguguran sebelum waktunya. Selain itu, pertumbuhan tanaman kerdil, warna batang kemerahan, pertumbuhan polong terhambat, daun mengecil dan berdinding tebal sehingga daun menjadi keras atau kasar dan berserat. Kahat P akan menyebabkan daun tua berubah menjadi berwarna gelap dan berubah menjadi kuning dan gugur sebelum waktunya. Batang berubah menjadi berwarna ungu, karena adanya akumulasi antosianin. Selain itu, menghambat pembentukan bintil akar, perkembangan akar, polong dan biji. Sedangkan kekurangan unsur K, pertama terlihat perubahan pada daun tua yaitu timbulnya klorosis diantara tulang daun atau tepi daun. Pada tingkat kekahatan yang parah, klorosis meluas sampai pangkal daun dan hanya meninggalkan warna hijau pada tulang daun, pada tingkat selanjutnya timbul nekrosis tepi daun tua menguning, menggulung ke atas dan selanjutnya mengering. Penyunting :Yulia Tri SEmail:yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber:1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian2.http://download.portalgaruda.org/article.phparticle=412535&val=924&title=Pemberian%20Pupuk%20N,%20P,%20dan%20K%20Berdasarkan%20Pengelolaan%