Loading...

PERANAN PENYULUHAN DALAM RANGKA PENGENDALIAN OPT UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN

PERANAN PENYULUHAN  DALAM RANGKA PENGENDALIAN OPT UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN PERKEBUNAN
Budidaya pertanian khususnya tanaman perkebunan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik seperti tanah, varietas tanaman, teknik budidaya, faktor iklim dan interaksi diantara faktor-faktor tersebut. Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan salah satu penyebab tidak tercapainya sasaran produksi, dilain pihak teknologi pegendalian OPT belum dikuasai secara baik oleh petani sehingga hasilnya belum sesuai harapan. Mengacu pada UU No.12/1992 tentang sistem budidaya tanaman bahwa perlindungan tanaman menjadi tangung jawab masyarakaat/petani dan pemerintah. Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu upaya agar petani melakukan budidaya pertanian secara baik dan benar adalah melalui kegiatan penyuluhan. Dengan kondisi tersebut, maka petani perlu diberdayakan agar mandiri dan tangguh dalam berusaha tani tanaman perkebunan. Pemberdayaan petani membutuhkan dukungan tenaga penyuluh pertanian lapangan, namun pada kenyataannya jumlah penyuluh pertanian sangat terbatas, untuk itu pemerintah telah merekruit Tenaga Honor Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian THL-TBPP) dan Penyuluh Swadaya. Peran penyuluhPenyuluhan dan pendampingan merupakan proses pembelajaran bagi petani /pekebun agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses teknologi, permodalan, sumberdaya dan harga pasar sebagai upaya meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya. Penyuluh PNS/THL-TBPP/Swadaya selaku penyuluh pendamping mempunyai peran cukup penting yaitu: sebagai pembimbing petani,organisator dan dinamisator petani dan sebagai penghubung antara stakeholder/pemangku kepentingan dengan petani. Dalam menjalankan tugas, para penyuluh juga menjalankan fungsinya sebagai komunikator dan motivator bagi para petani padi. Kegiatan pendampingan dapat dilakukan dengan cara kunjungan ke tempat petani berada melalui sistim latihan dan kunjungan dan supervisi (LAKU-SUSI). StrategiGuna memperkuat sumberdaya manusia pertanian, pemerintah melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian telah menetapkan stategi yaitu:1. Mengintensifkan kerjasama dengan eselon I lingkup pertanian seperti Ditjen Perkebunan, Litbang dan instansi terkait seperti BMKG, BPS, dan lain-lain dalam mengantsipasi serangan OPT dalam rangka pengamanan produksi tanaman perkebunan.2. Mengintensifkan peranan kelembagaan penyuluhan di tingkat pusat dan provinsi, kabupaten/kota dan kecamatan untuk melakukan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi program penyelenggaraan penyuluhan pertanian dengan program peningkatan produksi perkebunan.3. Bekerjasama dengan eselon I terkait untuk mensosialisasikan gejala/fenomena dan dampak serangan OPT melalui penyebarluasan bahan informasi tentang pencegahan dan antisipasi/pengendalian OPT dalam bentuk media cetak (leaflet, brosur maupun poster) maupun media elektronik (radio dan cyber extension) 4. Memasukkan isu gejala/fenomena dan dampak serangan OPT ke dalam sistim informasi internet BPPSDMP/Pusat Penyuluhan. 5. Melakukan monitoring secara intensif untuk daerah-daerah khususnya sentra produksi tanaman perkebunan yang rawan serangan OPT.6. Memperkuat BP3K sebagai Pusat Koordinasi Pengendalian OPT 7. Melaksanakan Diklat teknis Agribisnis tanaman perkebunan bagi aparatur dan non aparatur (petani)8. Melakukan pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra tanaman perkebunan. Dengan pendampingan ini diharapkan petani padi dapat meningkat kemampuannya terutama dibidang teknis administratif, manajerial dan organisasi. BP3K Pusat Koordinasi Pengendalian OPT Adanya kebijakan BPP sebagai Pusat Koordinasi Program & Kegiatan pembangunan di Wilayah, diharapkan petugas POPT/penyuluh (THL-TBPP/Swadaya) menjadi bagian dari tim penyuluhan yang ada di kecamatan. Dengan mengaktifkan kembali sistem kerja LAKU-SUSI diharapkan tercipta mekanisme tata hubungan kerja antara kelembagaan teknis, penelitian dan pengembangan dan penyuluhan pertanian dalam mendukung pencapaian produksi komoditas perkebunan sesuai target yang ditetapkan. Dalam rangka tercapainya target komoditas perkebunan, perlu meningkatkan sinergitas antara kelembagaan teknis yang membidangi tanaman perkebunan, kelembagaan penelitian dan pengembangan serta kelembagaan penyuluhan diseluruh tingkatan mulai dari kecamatan, kabupaten/kota, provinsi sampai pusat dan secara bersama-sama melakukan sinergi, koordinasi dan supervisi secara terpadu. Guna mendukung peningkatan produksi komoditas perkebunan, BPPSDMP telah menetapkan strategi yaitu: Penguatan Balai Penyuluhan Kecamatan, Pemberdayaan Penyuluh PNS, THL-TBPP dan Swadaya/Swasta, Pemberdayaan Petani, pengembangan dan Penyebaran Informasi/Materi Penyuluhan Pertanian, Penguatan Program dan Kerjasama serta Peningkatan Dukungan Sarana dan Prasarana penyuluhan. Kegiatan pendampinganDalam rangka pengendalian OPT, kegiatan penyuluhan dan pendampingan yang dilakukan oleh para penyuluh (PNS/THL-TBPP dan Swadaya) antara lain:1. Mencari informasi tentang dampak fenomena iklim faktor klimatologis seperti infromasi tentang kapan awal musim hujan dan berapa bulan lamanya?, kapan awal musim kemarau dan berapa bulan lamanya?, dan berapa curah hujan tiap bulan dalam satu tahun? 2. Melakukan pemetaan dan inventariasi faktor hidrologis di wilayah kerjanya tentang adakah lokasi banjir, kekeringan?, adakah kerusakan jaringan irigasi dan/atau drainase? bagiamana kondisi pasokan air irigasi?3. Melakukan pemetaan terhadap faktor agronomis diwilayah kerjanya tentang bagaimana pola tanam saat ini?, Melakukan pemetaan dan inventarisasi terhadap wilayah rawan OPT di wilayah kerjanya. 4. Melakukan pembinaan/bimbingan teknis dan penyuluhan mengenai teknologi produksi ramah lingkungan sesuai dengan kondisi iklim daerah/lokasi, misalnya dalam:a. Pemilihan tanaman yang sesuai dengan pola hujan, misal: menggunakan tanaman atau varietas yang tahan serangan OPT, tahan genangan, tahan kering, umur pendek dan persemaian kering; kombinasi tanaman, sehingga kalau sebagian tanaman mengalami puso, yang lainnya tetap bertahan dan memberikan hasil.5. Mengaktifkan kegiatan pengendalian hama terpadu dalam aktivitas kelembagaan petani 6. Bersama PHP, POPT memonitor dan melakukan pengamatan secara intensif dan terkoordinasi dalan rangka memberikan peringatan dini. 7. Mengadakan temu lapang 8. Menyampaikan laporan kepada institusi terkait apabila ada serangan OPT 9. Membantu tersedianya bantuan pestisida/obat-obatan kepada petani yang membutuhkan Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : Dihimpun dari berbagai sumber