LATAR BELAKANG Cabe rawit (Capsicum frutescens) merupakan tanaman dari benua Amerika. Tanaman ini cocok dikembangkan di daerah tropis terutama sekitar khatulistiwa. Tanaman ini paling cocok ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 meter dpl. Meskipun begitu, cabe rawit bisa tumbuh baik hingga ketinggian 1000 meter dpl. Untuk tempat yang terlalu tinggi, produktivitas tanaman akan berkurang. Di dataran tinggi, tanaman cabe rawit masih bisa berbuah. Hanya saja periode panennya lebih sedikit dibanding dataran rendah. Selain itu, produksi biji pada buah cabe rawit lebih sedikit. Ini bisa dianggap keunggulan atau kelemahan. Karena tentu saja konsumen menyukainya namun bobot buah menjadi ringan. Menghadapi meningkatnya permintaan konsumen dan persaingan pasar, maka penerapan budidaya cabai rawit secara komersial perlu dilakukan sesuai prosedur yang dianjurkan agar menghasilkan produk aman konsumsi, bermutu dan ramah lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah adanya perbaikan varietas cabai rawit lokal melalui seleksi, hal ini sangat perlu dilakukan di karenakan tanaman cabai rawit sudah beradaptasi dengan lingkungannya sehingga mempermudah petani dalam proses produksi terutama pada toleransi terhadap serangan OPT. Varietas local cabai rawit sudah di sukai pasar sehingga perlu dipertahankan dan dikembangkan menjadi produk cabai rawit yang spesifik lokasi. Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai 5 kg/ kapita/ dan 90 persen cabai dikonsumsi dalam bentuk segar. Untuk itu diperlukan budidaya cabai sesuai dengan Good Agriculture Practices (GAP) yang mengedepankan keamanan pangan dengan mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia untuk beralih ke pupuk kandang/ kompos dan pertisida nabati (organik) serta dapat menurunkan biaya produksi. Tantangannya adalah bagaimana caranya agar produksi cabai terus meningkat agar petani cabai bisa untung ke depannya. Demikian penulisan ini bertujuan untuk pengembangan tanaman Horticultura terutama Cabai Rawit dilahan tegal dan tadah hujan di wilayah kecamatan Semanding. A. Tahapan proses perbaikan varietas lokal cabai rawit melalui seleksi: 1. Introduksi (banyak petani yang kurang cocok) yakni mendatangkan varietas baru dari luar daerah untuk dibudidayakan.2. Persilangan (petani belum trampil) 3. Seleksi (mudah dilaksanakan) yakni :a. Memilih tanaman, buah, biji yang sehat dan tidak cacat sesuai dengan identitas varietas b. Membuang tanaman, buah, biji yang tidak sehat, cacat dan atau menyimpang dengan identitas varietas. B. Prosedur dalam melakukan seleksi: a. Memilih tanaman, buah, biji yg sehat dan tidak cacatb. Benih hasil seleksi dr lapang, ditanam dalam screen dgn teknik budidaya yg optimal c. Buah/benih hasil seleksi dr rumah kasa, ditanam kembali dalam rumah kasa d. Penanaman dalam rumah kasa dilakukan 3-4 periode sambil dilakukan seleksi sampai didapatkan hasil buah sesuai dgn identitas varietas (yg dikehendaki petani) Setelah didapatkan hasil yg stabil, benih ditanam di lahan untuk diperbanyak. C. Waktu Seleksi: 1. Kecambah (+ 7 hari setelah dikecambahkan): kecambah yg pertumbuhannya abnormal2. Vegetatif (30 - 40 hst): tipe percabangan, tinggi tanaman, bentuk daun, tanaman terserang penyakit 3. Berbunga (45 – 60 hst): warna bunga, kedudukan bunga, jumlah bunga per ruas, umur berbunga, tanaman terserang penyakit 4. Berbuah (70 – 90 hst): warna buah muda, buah matang, kedudukan buah, bentuk buah, tanaman terserang penyakit 5. Saat panen: buah yg besar dan bentuk tidak sesuai dengan identitas varietasnya serta terserang hama penyakit6. Saat prosessing: membuang biji kecil, cacat dan terapung saat pencucian. D. Tahap Isolasi 1. Jarak: Mengatur jarak antara varietas yg satu dengan yg lain, minimal 500 m2. Waktu tanam: menghindari waktu berbunga bersamaan antara varietas satu dengan yg lain, minimal 75 hari3. Bunga/tanaman: menutup bunga terpilih dng kantong kertas minyak atau memberi tanaman dng kurungan yg terbuat dari kasa nyamuk4. Tempat: setiap varietas ditanam tersendiri di dalam rumah kasa/rumah kaca5. Barier tanaman: setiap varietas, di sekeliling ditanami jagung sebanyak 6 – 12 baris dng jarak tanam 10 x 20 cm. setiap 1000 m2 tanaman diisolasi E. Panen Buah Benih a. Tingkat kemasakan buah, 70 – 90% berwarna merahb. Ukuran dan bentuk buah seragamc. Buah sehat, bentuk normal, tidak cacat maupun terserang hama penyakit. F. Prosesing Benih a. Memilih buah masak dari tanaman sehat, berbuah lebat, seragam, bebas OPTb. Potong kedua ujung buah + 2 cm, belah membujur c. Rendam dalam air selama 3 – 4 harid. Biji dicuci, yang terapung dibuange. Celupkan biji ke dalam larutan Redomilf. Biji dikering-anginkan sampai k.a 6 – 9%g. Biji keriput dan hitam dibuangh. Mengemas biji kering dalam kantong plastik, disimpan ditempat kering dan bersuhu rendah. G. Pembibitan a. Rendamlah benih dalam air hangat (50?C) semalam atau larutan Previcur N (1 ml/l air) 1 jamb. Kemudiaan buanglah biji mengambangc. Sebarkan benih pada media pesemaian (tanah halus dan pupuk kandang 1:1), sudah disterilkan (Furadan 2 sendok makan per 10 kg media campur), ditutup tanah halusd. Tutuplah pesemaian dengan kasa nyamuk e. Buatlah atap bedengan rumbia/jerami/plastikf. Atap menghadap ke timur, cukup sinar pagi g. Siramlah 2 hari sekalih. Pindahkan kecambah ke polibag kecil, berisi media sterili. Siramlah 2 hari sekali dan disiangj. Semprotkan fungisida dan insektisida 0,1 – 0,2%, 3 hari sekalik. Umur + 20 hari atau telah berdaun 3 – 4 helai bibit siap tanam H. Pengairan Pengairan saat pertumbuhan vegetatif sebanyak 200 ml tiap 2 hari sekali. Pengairan saat pembungaan dan pembuahan sebanyak 400 ml tiap 2 hari sekali. I. Pemupukan Urea 150 – 200 kg, ZA 450 kg, TSP 250 kg, KCl 200 kga. Pupuk dasar (TSP dan separuh KCl) serta dolomit, sehari sebelum tanam b. Pupuk Urea, ZA diberikan 3 kali (2, 4 dan 6 minggu)c. Sisa KCl , 4 minggu. Pedoman pupuk anjuran lain a. 800 – 1000 kg NPK/ha sebagai pupuk dasarb. 200 – 300 kg NPK/ha sebagai pupuk susulan (secara kocor) J. Panen Pertama kali umur 90 hari, 1 minggu sekali, + 15 kali panenMenghamparkan hasil panen di tempat teduh + 2 jam (curing) untuk memaksimalkan pembentukan dan kestabilan warnaSortasi (bentuk) dan grading (ukuran)Pada kegiatan perbaikan varietas cabai rawit ini diharapkan petani atau pelaku utama mampu melakukan Perbaikan varietas cabai rawit melalui seleksi sendiri sesuai dengan bentuk, fisik yang dikehendaki terutama disukai pangsa pasar. Hal ini diperlukan ketrampilan dan SDM yang mandiri dalam usaha dan peningkatan mutu hasil cabai rawit serta kearifan local.