Loading...

PERBANDINGAN PERLAKUAN PENANAMAN UBI KAYU ANTARA LAHAN BEDENGAN DENGAN LAHAN DATAR

PERBANDINGAN PERLAKUAN PENANAMAN UBI KAYU ANTARA LAHAN BEDENGAN DENGAN LAHAN DATAR
Pertanian merupakan salah satu sektor sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Berdasarkan luas lahan dan keragaman agroekosistem, peluang pengembangannya sangat besar dan beragam. Namun, sampai saat ini sektor pertanian belum handal dalam mensejahterakan petani, memenuhi kebutuhan sendiri, menghasilkan devisa, dan menarik investasi (Roja, 2004). Khusus untuk ubikayu, perannya dalam perekonomian nasional terus menurun karena dianggap bukan komoditas prioritas sehingga kurang mendapat dukungan, namun hal ini tidaklah menjadi masalah dalam pengembangan tanaman karena yang ingin diaharapkan masyarakat adalah penghasilan yang lebih. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik banyak perlakuan yang dilakukan petani dalam membudidayakan tanaman ubi kayu. Lahan yang diusahakan pun bervariatif yaitu lahan dataran rendah, dataran tinggi dan lahan gambut. Lahan yang banyak diusahakan adalah lahan dataran tinggi yang banyak mengandung mineral. Beberapa perlakuan lahan yang sering diterapkan petani adalah perlakuan datar dan perlakuan pembuatan bedengan. Istilah "bedengan" tersebut sama artinya dengan istilah "gulutan", keduanya memiliki sinonim sama dan pada beberapa keadaan pengunaan kedua kata tersebut. Dalam budidaya tanaman yang dilakukan pada lahan-lahan datar, pembuatan bedengan atau guludan sudah sangat lazim dilakukan. Semua petani bisa melakukannya dan dengan adanya traktor pembuatan bedengan menjadi semakin mudah. Meskipun mudah, pembuatan bedengan perlu perhitungan agar penggunaan luas lahan efisien. Hal ini penting dipahami ketika kita ingin meningkatkan produksi melalui intensifikasi. Bedengan atau gulutan dibuat dengan pertama kali membajak lahan serta menghaluskan tanah, baru kemudian setelah itu tanah yang halus disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah bangun ruang yang mempunyai panjang, lebar, dan tinggi, dengan ukuran tingi 30 cm dan lebar 1 m. Adapun fungsi dari bedengan adalah sebagai berikut:1. Sebagai media tumbuh untuk penanaman;2. Untuk mencegah tanaman dari serangan hama dan juga penyakit; 3. Untuk menjaga kelembaban, pH, suhu, dan juga ketercukupan air tanah;4. Supaya akar tanaman lebih kokoh dengan porsi bedengan yang serasi dengan ukuran morfologi tanaman;5. Supaya mempermudah dalam irigasi lahan. Dengan adanya bedengan maka pemanfaatan air akan efektif bagi tanaman, sehingga jika dilakukan dengan bijak dalam irigasi lahan, maka mencegah dari kebusukan akar ketika tanaman mendapat pasokan air irigasi yang berlebihan;6. Sebagai nilai estetika (keindahan), supaya tanaman tumbuh secara tertib, teratur, sesuai garis alur bedengan masing-masing;7. Mempermudah petani dalam pemantauan tanaman, dalam hal perawatan, termasuk dalam hal penyiraman, penyiangan, dan juga proses pemanenan tanaman. Penerapan bedengan pada lahan tanaman ubi kayu sangat dianjurkan. Hasil yang didapat sangat berbeda jauh dibandingkan dengan pola perlakuan lahan datar tanpa pembuatan bedengan yaitu >45%. Roja, Atman. 2009. Varietas dan Budidaya.. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat.