Loading...

PERKANDANGAN DALAM BETERNAK KAMBING

PERKANDANGAN DALAM BETERNAK KAMBING
Kandang mutlak diperlukan dalam usaha peternakan kambing. Perkandangan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan tingkat keberhasilan suatu usaha peternakan kambing. Kandang sangat berpengaruh dalam produktifitas ternak kambing. Kandang yang nyaman akan membuat kambing juga merasa nyaman. Dampaknya kambing menjadi tidak mudah stress. Selain itu bebrapa fungsi kandang diantaranya sebagai berikut : Melindungi ternak kambing dari sinar matahari yang berlebihan, angin dan hujan ; Melindungi ternak kambing dari bahaya-bahaya luar, seperti pencuri, hewan-hewan liar sebagai pemangsa maupun pembawa penyakit sehingga penularan penyakit dapat dicegah; Memudahkan dalam melakukan tatalaksana pemeliharaan, penanganan limbah dan aktifitas keseharian kambing seperti makan, minum, tidur, kencing, atau buang kotoran; Mempermudah peternak dalam melakukan pengawasan dan menjaga kesehatan ternak; Mengontrol ternak agar tidak merusak tanaman dan fasilitas lain di lokasi peternakan. A. Persyaratan Teknis Kandang Konstruksi dan Bahan Penyusun Kandang)Sesuai dengan fungsinya untuk memberikan kenyamanan bagi ternak, manusia dan lingkungan, maka pembuatan kandang harus direncanakan secara baik dan memenuhi beberapa syarat, sebagai berikut :• Lokasi ideal kandang harus jauh dari pemukiman warga, agar tetap tenang dan aman. • Kandang dibuat di daerah yang relatif tinggi dari daerah sekitarnya (agar air hujan tidak tergenang) serta berada di atas tanah yang padat atau tidak mudah becek ketika hujan.• Apabila lokasi peternakan berada di daerah yang hembusan anginnya kencang, peternak hendaknya menanami sekeliling kandang dengan pepohonan agar dapat melindungi kandang dari hembusan angin keras secara langsung.• Pertukaran udara baik sehingga udara dalam kandang selalu segar serta cukup sinar matahari dengan kelembapan sekitar 60 – 70%.• Kandang sebaiknya dibauat membujur dari arah timur ke barat, diusahakan menghadap timur agar sinar matahari pagi diusahakan masuk dalam kandang. Sinar matahari sangat berguna membunuh bibit penyakit, membantu proses pembentukan Vitamin D dan mengurangi kelembaban kandang• Jauh dari sumber mata air yang dipergunakan masyarakat sehingga kotoran ternak tidak mencemari air. B. Konstruksi dan Bahan Penyusun KandangUntuk ukurang kandang, perlu disesuaikan dengan jumlah kambing yang akan diperlihara. Seekor kambing dewasa membutuhkan 1 x 1,5 m. Dengan begitu kandang seluas 1,5 x 10 m cukup untuk menempatkan 10 ekor kambing. Model kandang panggung merupakan model terbaik untuk pemeliharaan kambing. Pada kandang panggung, kotoran kambing akan jatuh ke bwah panggung sehingga lantai kandang akan tetap bersih. Dasar kolong kandang dibuat dari bahan semen untuk menampung kotoran dan memudahkan peternak membersihkan kotoran. Permukaan tanah di kolong kandang dibuat miring sehingga urine kambing bisa mengalir. Urine dibuatkan saluran dan dialirkan ke wadah penampungan agar tidak mencemari lingkungan. Selanjutnya urine bisa diolah menjadi pupuk cair atau kompos bersama kotoran kambing. Tiang kandang harus juga dipilih dari bahan yang kuat dan kokoh. Tiang kandang bisa terbuat dai kayu atau bambu. Agar tidak busuk dan dimakan rayap, tiang kandang diberi alas atau dasaran dengan beton atau pasangan batu bata. Lantai kandang dibuat dari papan kayu yang disusun berjajar dengan jarak 1 – 1,5 cm. Jarak antar kayu atau bambu harus memudahkan jatuhnya kotoran tetapi tidak membuat kaki kambing terperosok. Tinggi lantai kandang dari permukaan tanah 75 -100 cm. Dinding kandang berfungsi unttuk menahan kambing agar tidak keluar dari kandang. Dinding harus kuat menahan beban tubuh kambing karena sering kali kambing membenturkan kepala atau menggosokkan tubuhnya ke dinding kandang. Dinding kandang bisa dibuat dari papan kayu, bilah bambu atau anyaman bambu. Dinding dibuat lebih tinggi agar kambing tidak bisa melompat keluar. Atap kandang dapat menggunakan genteng. Atap bisa pula dibuat dari alang-alang, ddau kelapa, rumbia atau tebu yang disusun secara rapi sehingga tidak bocor. Atap dari dedaunan bisa menyerap panas sehingga pada siang hari ruang kandang tidak terlalu panas namun sayangnya tidak tahan lama. Untuk itu tetap lebih baik menggunakan genting sehingga pada siang hari tidak terlalu panas dan malam hari tidak terlalu dingin serta tahan lama. Bila memakai atap seng, ternak mudah stress, karena siang hari terlalu panas, malam terlalu dingin serta bising bila hijan turun. Atap kandang dibuat miring 45º, sehingga bila hujan segera jatuh ke tanah.Di tengah tengah kandang, kira-kira 1-1,5 m dibuat celah atau ruang sebagai lorong. Lorong kandang diperlukan untuk kandang yang memiliki dua baris kandang individual atau lebih. Lorong ini penting bagi peternak untuk melakukan pemeliharaan. Untuk itu lorong kandang dibuat tidak boleh terlalu sempit. Apabila panggungnya tinggi, lorong dibuat agak lebar, ( lebih dari 1,5 m) dan bak pakan diletakkan di dinding kandang pada sisi lorong. Pada kedua ujung lorong dibuatkan tangga. Lantai kandang dibuat miring kearah tengah (bagian belakang ternak). Untuk memudahkan naik ke kandang panggung, maka tangga perlu untuk dibangun. Tangga bisa dibuat dari katu atau bambu yang kuatWadah pakan biasanya dibuat dari bambu atau kayu papan yang dibentuk seperti bak memanjang. Wadah pakan diletakkan menempel di sisi kandang dengan ukuran lebar bawah 30 cm, lebar bagian atas 50 cm dan tinggi 50 cm, serta panjang disesuaikan dengan panjang kandang. Lebar celah kandang untuk tempat mengeluarkan kepala kambing ketika makan sekitar 30 cm. jarak antara dasar tempat pakan dengan lantai kandang setinggi 25 cm. Untuk tempat minum yang biasa digunakan adalah ember plastik atau wadah lain yang serupa. Tempat minum ini setelah diisi air bersih disimpan di luar kandang menempel di dining kandang tetapi disisi yang ebrlainan dengan penempatan waa=dah pakan. Wadah pakan dan air minun harus terlindungi dai sinar matahari langsung dan air hujan. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM . Sumber : Kaleka, Norbertus. Beternak Kambing Tanpa : Bau, Angon, dan Ngarit, 2013 ; Mulyono, Subangkit. Penggemukan Kambing Potong, 2007 ; Redaksi Agromedia. Petunjuk Praktis Menggemukan Domba, Kambing dan Sapi Potong, 2009.)