Loading...

PERLUASAN DAN PEREMAJAAN TANAMAN KAKAO

PERLUASAN DAN PEREMAJAAN TANAMAN KAKAO
Pengembangan perkebunan merupakan salah satu program pembangunan disektor pertanian yang berperan cukup besar dalam rangka perbaikan ekonomi wilayah termasuk ekonomi masyarakat yakni peningkatan pendapatan dan pemerataan usaha yang dapat menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat. Pembangunan perkebunan agar dapat berkembang secara baik, berkelanjutan dan berkesinambungan, sangat berkaitan dengan segala aspek pendukung seperti potensi sumberdaya lahan dan ketersediaan tenaga kerja yang ada diwilayah bersangkutan. Salah satu komoditas unggulan perkebunan yang prospektif serta berpeluang besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena sebagian besar diusahakan melalui perkebunan rakyat (+ 94,01%) adalah kakao. Sampai tahun 2010 areal kakao telah mencapai 1.650.621 Ha.Dalam rangka lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pekebun, berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya program peningkatan produksi, produktivitas dan mutu komoditas kakao berkelanjutan melalui pengembangan kakao rakyat pada wilayah sentra kakao dan berpenghasilan relatif rendah. Direktorat Jenderal Perkebunan talah mencanangkan program perluasan tanaman kakao pada tahun 2012, dengan menerbitkan buku pedoman teknis perluasan tanaman kakao. Pedoman ini secara garis besar memuat acuan pengelolaan kegiatan maupun anggaran bagi para pelaksana di pusat, provinsi, dan utamanya kabupaten sebagai penerima manfaat kegiatan. Berdasarkan Pedoman Teknis ini diharapkan para pelaksana dapat merencanakan kegiatan dan memanfaatkan anggaran secara efektif dan efisien. Beberapa provinsi di Indonesia masih memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan komoditas tersebut, dengan dukungan ketersediaan lahan cukup luas yang secara teknis memenuhi syarat dan SDM yang memadai. Oleh karenanya usaha pengembangan kakao tersebut sangat positif dan akan memberikan dampak yang mampu menggairahkan masyarakat petani pada umumnya. Sasaran secara nasional dari kegiatan perluasan tanaman kakao antara lain: Meningkatnya produksi, produktivitas,mutu produk dan pendapatan pelaku agribisnis; Berkembangnya usaha agribisnis dan agroindustri di kawasan pengembangan; dan Meningkatnya ketrampilan,kemandirian dan kerjasama kelompok. Prinsip-prinsip pendekatan pelaksanaan perluasan tanaman kakao secara garis besar adalah sebagai berikut : pelaksanaan kegiatan ditempuh melalui pendekatan kelompok pada satu wilayah pertanaman kakao, dimana pendapatan masyarakat setempat relatif rendah; Kelompok Tani terpilih adalah kelompok yang telah ada dan menjalankan usahataninya secara terpercaya serta mampu mengembangkan usaha melalui kerjasama kelompok dengan prioritas pada kelompok yang memiliki kendala modal karena terbatasnya akses terhadap sumber permodalan dengan jumlah anggota kelompok minimal 25orang. Pembinaan kelompok dilakukan secara berkelanjutan sehingga kelompok mampu mengembangkan usahanya secara mandiri. Peremajaan adalah penggantian tanaman tidak produktif (tua/rusak) dengan tanaman baru secara keseluruhan atau bertahap, teknisnya dengan menggunakan bahan tanaman unggul yang berasal dari perbanyakan. Peremajaan dilakukan pada tanaman yang berumur > 25 tahun, terserang OPT utama ( PBK, helopeltis, VSD, dan busuk daun), dan tanaman dengan produktivitas rendah. Pengajiran diperlukan untuk menentukan keteraturan pertanaman untuk mempermudah pemeliharaan. Ajir dibuat dari bambu atau kayu dengan panjang 50 cm dengan ujung runcing. Secara umum ada 3 tahap pengajiran yaitu air untuk lubang tanam, ajir untuk tanaman kakao, dan ajir untuk penyulaman pohon pelindung. Kebun kakao yang diremajakan dapat dimanfaatkan dengan menanam tanaman sela semusim sebelum tanaman baru menghasilkan. Jenis tanaman sela/ musiman berasal dari suku Leguminoceae, misalnya kedelai dan kacang tanah. Tanaman sela / musiman perlu dipelihara, dipupuk, dan disiangi, hama, dan penyakitnya dikendalikan. Limbah tanaman sela/ musiman disarankan dikembalikan ke kebun sebagai pupuk hijau. Secara garis besar tanaman pelindung dibedakan menjadi dua yaitu:a. Penaung SementaraPenaung sementara seperti Moghania macrophylla dipangkas pada jarak 10 cm diatas permukaan tanah selama musim hujan. Hasil pangkasan digunakan untuk mulsa kakao. Tanaman ini akan mati dengan senirinya setealh tertutup oleh tajuk tanaman kakao. Penaung sementara pisang (Musa spp.), jumlah anakan diatur sehingga setiap rumpun maksimum hanya berisi 2- 3 batang. Umur anakan agar diatur supaya periode panennya dapat teratur. Anakan yang tidak dikehendaki dipotong, ditugal, dan disiram minyak tanah 2,5 ml/anakan.Penaung sementara dimusnahkan apabila tanaman kakao sudah mulai berbuah yaitu setelah berumur 4 tahun. b. Penaung TetapLamtoro dan gamal semula sebagai penaung tanaman kakao dengan jarak 3 x 3 m atau 4 x 4 m. Populasi dikurangi secara bertahap dan sistematis. Pada saat tanaman kakao berumur 4 tahun Tanaman kakao muda memerlukan perawatan yang lebih intensif dibanding tanaman dewasa. Penyediaan nutrisi dan unsur hara yang cukup menjadi hal yang sangat penting. Pemupukan organik dilakukan pada saat cukup air yaitu awal dan akhir musim hujan. Pemberian pupuk pada peremajaan atau penanaman kembali perlu dilakukan sejak persiapan tanam. Pada saat pembuatan lubang tanam dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang atau humus sejumlah 1/4 sampai 1/3 dari volume tanam, dengan tujuan untuk memberikan lingkungan tumbuh perakaran yang baik. Kakao merupakan tanaman yang perlu dipangkas dalam perawatannya agar tanaman tidakkehilangan nutrisi pasa fase vegetatif maupun generatif sehingga mampu menghasilkan -produksi yang tinggi ( buah yang banyak) serta mengurangi intensitas serangan hama danpenyakit. ( Penulis: Nanik Anggoro P/ Penyuluh Pertanian BBP2TP. Sumber Bacaan:1) Peningkatan Mutu Kakao dalam Menunjang Industri Kakao Indonesia, Direktorat Rempah dan tanaman Penyegar, 2013; 2) Pedoman Teknis Perluasan Tanaman Kakao Tahun 2012; 3)Buku Pintar Budidaya Kakao, Pusat Penlitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2010; 4) Budidaya Kakao, BPTP Sulawesi tengah, BBP2TP, 2010; 5) Teknologi Budidaya Kakao, Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, 2008; 6) Pedoman Bertanam Cokelat, Tim Bina Karya Tani, Yrama Widya, 2008.)