Pada budidaya kedelai pemberian pupuk masih berdasarkan rekomendasi yang bersifat umum yaitu 25-75 kgUrea/ha + 50-100 kg SP-36/ha + 50-100 kg KCl/ha. Padahal kondisi status dan keseimbangan hara N, P, dan K disetiap lokasi sangat beragam. Oleh karena itu, pemupukan N, P, dan K pada kedelai yang bersifat umum tidak efesien dan dapat mempercepat degradasi lahan, dikarenakan dosis pupuk yang diberikan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman dan daya dukung lahan. Keadaan ini akan terjadi gejala kekahatan hara tersamar karena tidak ada anjuran pemupukan kedelai pada lahan yang mengalami gejala tersebut. Oleh karena itu, perlu optimasi pemupukan N, P, dan K yang diberikan harus sesuai dengan target hasil yang ingin dicapai, dan berdasarkan pemupukan spesifik lokasi (PHSL) untuk tetap mempertahankan status kesuburan lahan. Kebutuhan optimal hara N, P, dan K bagi tanaman kedelai tergantung pada hasil analisis tanah untuk mencapai hasil optimal, dapat dilihat. Rekomendasi pemupukan N, P, dan K untuk tanaman kedelai pada setiap kelas hara tanah. Sebagai gambarannya sebagai berikut: Untuk kategori rendah, pemberian unsur N,P,K sebagai berikut.Unsur N sebanyak 174 kg/ha Urea (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST)Unsur P sebanyak 104 kg/haSP-36 (100% saat 10 HST)Unsur K sebanyak 210 kg/ha, KCl (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST) Untuk kategori sedang, pemberian unsur N,P,K sebagai berikut.Unsur N sebanyak 152 kg/ha Urea (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST)Unsur P sebanyak 80 kg/haSP-36 (100% saat 10 HST)Unsur K sebanyak 190 kg/ha, KCl (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST) Untuk kategori tinggi, pemberian unsur N,P,K sebagai berikut.Unsur N sebanyak 117 kg/ha Urea (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST)Unsur P sebanyak 40 kg/haSP-36 (100% saat 10 HST)Unsur K sebanyak 150 kg/ha, KCl (70% saat 10 HST dan 30% saat 30 HST) Dengan adanya kelas status hara yang dikatagorikan rendah, sedang, dan tinggi itu dapat memberikan informasi khusus tentang respon hasil yang diharapkan sebagai berikut : 1. Kelas status hara rendah mengidikasikan kebutuhan pupuk yang lebih banyak, respon pemupukan tinggi, tanpa pupuk gejala kahat akan muncul, pertumbuhan tanaman tanpa pupuk tidak normal, kemungkinan mati kecil meskipun tidak berbuah. 2. Kelas status hara sedang menunjukkan kebutuhan hara sedang, respon pemupukan sedang, tanpa pupuk pertumbuhan tanaman kurang normal, gejala kahat tidak muncul, dan produksi rendah. 3. Kelas status hara tinggi memerlukan pupuk yang sedikit, respon pemupukan rendah, tambahan pupuk hanya untuk pemeliharaan kesuburan tanah. Untuk mengetahui suatu hasil kelas hara tanah ini bila dilakukan baik dengan analisa secara analisis tanah di laboratoriun, maupun dengan menggunakan metode PUTS (Perangkat Uji Tanah Sawah) bagi lahan sawah, atau metode PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) untuk lahan kering. Analisis tanah dengan menggunakan metode PUTS atau PUTK dapat diperoleh lebih cepat sehingga pada saat itu juga diketahui kadar hara N, P, dan K hasilnya di lapangan bisa dibandingkan dengan analisis tanah di laboratorium. Akan tetapi hasil datanya sedikit kurang akurat dari hasil analisis tanah di laboratorium. Walaupun demikian, metode PUTS dan PUTK banyak digunakan untuk menjawab hasil analisa tanah secepatnya dalam menetukan kebutuhan hara N, P, dan K yang diberikan pada tanaman kedelai.Takaran pupuk N dan K diberikan dua kali, pertama masing-masing 2/3 bagian bersamaan dengan pupuk P pada tanaman berumur 10 hari setelah tanam, dan kedua pupuk N dan K sisa masing-masing 1/3 bagian diberikan pada tanaman kedelai menjelang berbunga atau umur 30 hari setelah tanam. Unsur hara N diberikan untuk menjaga pertumbuhan dan menyediakan karbohidrat yang cukup bagi pertumbuhan bakteri penambat N. Sedangkan kondisi lingkungan yang menghambat pertumbuhan bakteri penambat N antara lain suhu rendah, kandungan N tinggi, kondisi air (kekeringan maupun genangan), dan pemadatan tanah. Unsur P yang ada dalam kandungan pupuk NPK berperan penting dalam sintesis ATP dan NADPH sebagai suplai energi dalam pembentukan bintil akar dan proses penambatan N2 oleh Rhizobium. Untuk unsur K berperan penting dalam fotosintesis, karena secara langsung dapat meningkatkan pertumbuhan dan indeks luas daun, sehingga asimilasi CO2 juga meningkat dan berperan dalam meningkatkan translokasi hasil fotosintesis ke bagian akar yang digunakan oleh rhizobium. Perubahan P pada akar tanaman terdiri dari tiga fase, yaitu (1) Perubahan P anorganik diserap tanaman menjadi bentuk senyawa organik, (2) Perubahan P dari ATP menjadi ADP dan (3) Pemecahan dari pirofosfat atau fosfat secara hidrolisis. Selanjutnya dalam upaya untuk mencapai target swasembada kedelai maka pemerintah perlu adanya kebijakan agar petani berminat lagi untuk bertanam kedelai. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah untuk meningkatkan minat petani adalah dukungan subsidi input yang menjadi sarana produksi utama (benih, pupuk dan pestisida), dan memastikan insentif harga kedelai bagi petani. Selain itu, pemberian pupuk N, P, dan K untuk petani kedelai harus berdasarkan PHSL (Pemupukan Hara Spesifik Lokasi) untuk mencapai produktivitas yang diharapkan. Dalam rangka upaya untuk mencapai produktivitas yang tinggi perlu juga petani menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) kedelai yang mempunyai ukuran biji besar yang disukai pengrajin olahan kedelai seperti tempe, tahu, kecap hitam (kedelai hitam), susu kedelai, dan tauco. Sampai saat ini produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memenuhi 30-44% kebutuhan nasional, sedangkan kebutuhan sekitar 3 juta ton perlu diimpor. Keadaan untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan perluasan panen kedelai baik dilahan kering maupun di lahan sawah. Penyunting:Yulia Tri S Email: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber: 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,2007, Kedelai Teknik Produksi dan Pengembangannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian2. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=412535&val=924&title=Pemberian%20Pupuk%20N,%20P,%20dan%20K%20Berdasarkan%20Pengelolaan%