[SUBANG] Keamanan pangan merupakan syarat penting yang harus melekat pada pangan yang hendak dikonsumsi oleh semua masyarakat Indonesia. Pangan yang bermutu dan aman dapat dihasilkan dari dapur rumah tangga maupun dari industri pangan. Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan pentingnya untuk benar-benar menjaga berbagai aspek terkait keamanan pangan di tengah pandemi COVID-19 saat ini.Kita menghadapi tantangan besar di negeri ini, medical solution menjadi bagian tetapi food security makannya rakyat menjadi sesuatu yang penting," ujar Menteri Pertanian SYL Sekali lagi saya katakan bahwa sektor pertanian memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu permasalahan pangan dan gizi yang saat ini dihadapi banyak negara harus kita pecahkan bersama," tegas Mentan. Sejalan dengan hal tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian mengadakan kegiatan Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 32, Selasa (09/08/2022) di Subang,Jawa Barat. Agenda Ngobras bertemakan Sehat Panganku Sehat Bumiku”. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang hadir pada acara Ngobras mengatakan pangan lokal sehat bagi tubuh dan sehat bagi dompet, konsumsi pangan lokal berarti kita membeli pangan ke petani Indonesia. Pangan yang kita konsumsi harus aman dari pencemaran pestisida, logam berat dan mikroba patogen dan pencemaran lainnya. Pangan lokal pembusukannya lama, pangan organik lebih lama segarnya. Pangan organik itu orientasinya aman dan sehat”. jelas Dedi. Lebih lanjut Dedi mengatakan manfaat pangan organik yaitu untuk memenuhi kebutuhan tubuh atau makhluk hidup, yang kedua pangan harus menjadi sumber kehidupan yang layak, petani harus mendapatkan keuntungan dari pangan. Narasumber Ngobras Dedi Mulyadi yang merupakan ketua P4S agrospora mengatakan bahwa pada tahun 2012 beras organik tidak terlalu berkembang, susah mengubah mindset petani. Di informasikan bahwa pada tahun 2016 berasnya sudah mendapat sertifikat organik (domestik) yang difasilitasi oleh Kementerian Pertanian. ”Produk organik mempunyai karakteristik lahan, untuk pertanian organik itu berdasarkan cluster”.jelas Dedi Mulyadi Untuk pemasaran saat ini sedang menggarap market online, ada webstore, dikembangkan di digital marketing. Dede Sapaat, Penyuluh Pertanian kabupaten Subang yang mendampingi petani dalam bertani secara organik menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi yaitu pengembangan, terutama ada konversi hasil produksi. Jadi harus dipikirkan agar petani tidak jomplang untuk penghasilannya”.ungkap Dede Sapaat. Hadir pada agenda Ngobras, Dea Vialdo yang berprofesi sebagai chef mencoba masakan yang dibuat oleh ibu-ibu PKK kabupaten Subang dengan mengolah sayuran organik yang ditanam di pekarangan rumah. Dea Vialdo mengatakan bahwa masyarakat harus lebih aware dengan kesehatan, tidak hanya badan yang sehat tetapi lingkungan juga sehat. Perubahan dilakukan secara bertahap, tetapi konsisten. Karena yang mau diubah adalah lifestyle, kita harus sayang sama kesehatan”. tutup Dea Vialdo.hvy