Anomali iklim yang akhir akhir ini sulit diprediksi oleh petani mengakibatkan dampak yang tidak baik bagi petani palawija dan hortikultura .Informasi oleh BMKG bahwa pada Musim Tanam III atau musim kemarau 2016 April September sudah diinformasikan bahwa kemarau 2016 bersifat basah atau musim LANINA.Walaupun informasi dari BMKG tentang Lanina,progran upsus pajale oleh pemerintah yang berkaitan dengan komoditas palawija dan hortikultura tetap berlanjut, dimulai dari tanam sampai dengan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan seterusnya.Petani dan beberapa pelaku usaha lainnya juga terkadang belum percaya betul dengan informasi dari BMKG atau kalau percaya sulit akan tau kapan Lanina dengan hujan curah hujan tinggi itu datang,sehingga programpun tetap dilaksanakan tanpa memperhitungkan kejadian serta kerugian yang akan datang. Siklus Lanina memang benar ada ,Tahun 2016 ini hujan turun terus menerus sepanjang kemarau bahkan pada bulan September dan Oktober hujan turun cukup ekstrim yang mengakibatkan banjir dan longsor dibeberapa daerah.Sektor pertanian merupakan sektor yang berdampak paling parah utamanya untuk tanaman palawija diantaranya kacang hijau, kedele,jagung serta hortikultura diantaranya cabe, semangka, melon dan sebagainya.Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo,merupakan wilayah yang sangat potensial untuk budidaya tanaman pangan khususnya padi,kedele dan kacang hijau,dengan luas sawah 2.472 ha dengan IP 300 % setiap tahunnya dapat tercapai. Namun pada MT III 2016 ini petani di Kecamatan Pituruh Purworejo mengalami nasib yang kurang beruntung .Tanaman kedele(900 ha),Kacang hijau(1200 ha),cabe besar(70 ha),bengkoang(18ha),semangka(6 ha) semua mengalami kerusakan akibat hujan dengan curah hujan yang tinggi beberapa hari menjelang panen,bahkan banyak diantaranya yang mengalami gagal panen.Petani mengalami kerugian kurang lebih total kerugian sebesar 24,33 Milyard,sebuah nilai yang tidak sedikit bagi petani dan kerugian tidak hanya di petani saja namun juga di pihak pemerintah karena banyak benih yang ditanam merupakan benih bantuan.Walaupun ada yang bisa panen namun hasil panenannya tidak baik kualitasnya sehingga harganya murah ,untuk kedele harga saat panen Rp 5.000,00. Sangat disayangkan bagi kita semua jerih payah petani dalam mensukseskan program upsus Pajele,kuhusunya komoditas kedele tidak dapat berhasil dengan baik,padahal kedele merupakan harapan besar untuk bisa berswasembada. Ini merupakan hal yang perlu dievaluasi oleh kita semua khususnya kalangan pengambil kebijakan.dimana program yang diluncurkan dari pemerintah manakala program itu berhasil maka semua akan menikmatinya bahkan akan menyanjungnya, namun manakala program itu tidak berhasil dan petani sendiri mengalami kerugian secara material tidak sedikit ,yang ada hanya pada diam dan kasihan mereka para petani.Oleh karena penting sekali kiranya untuk komoditas kedele dan lainnya dimasukkan dalam program Asuransi Pertanian,selama ini baru komoditas padi saja yang masuk dalam program asuransi pertanian, sehingga petani akan sedikit merasa tertolong manakala usahataninya tidak berhasil yang dikarenakan oleh bencana alam ataupun iklim yang kurang menguntungkan.Semoga kekurang berhasilan akan beberapa komoditas yang strategis hanya dikarenakan oleh iklim tidak terulang lagi ,sukses pajale sukses petaniOleh :Turoso,STP. Penyuluh Pertanian MadyaDPPKP Kab.Purworejo