BPP Kota Agung Barat: Sekolah lapang yang disingkat SL petani untuk Daerah Irigasi (DI) Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program (IPDMIP) Kabpaten Tanggamus memasuki tahap pertengahan. Dari 12 kali pertemuan yang terencana sampai saat ini sudah berjalan 5 kali tatap muka. Kegiatan Sl berjalan lancar dan kondusif. Semua petani peserta SL mengikuti kegiatan pembelajaran dengan semangat. Mereka terlihat sibuk mencatat materi materi yang disampaikan oleh nara sumber. Di DI Way Maja Kecamatan Kota Agung Barat menggelar sekolah lapang di desa atau Pekon Kesugihan. Sekolah lapang yang digelar hari ini Selasa (8/9) menggabungkan materi dan praktek lapangan. Materi tentang program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) online disampaikan oleh Roni Sepriyono, SP, Plt. Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Agung Barat. Sedangkan praktek lapangan mengangkat pembuatan pupuk kompos dipandu oleh Andi Purwanto, selaku PPL BPP Kota Agung Barat. Para peserta SL yang terdiri dari 12 wanita dan 13 laki laki nampak seksama memngikuti kegiatan ini. Mereka sibuk mencatat semua ulasan yang disampaikan. Bahkan ada petani yang protes. "Pak penyampaian jangan cepat cepat, saya ketinggalan," sanggah Jayusman (45) salah seorang peserta SL. gelak tawapun pecah. "Ulangi pak, apa fungsi dari arang ini," ujarnya. Dengan seksama Andi Purwant pun mengulangi jenis dan fungsi bahan bahan dalam pembuatan pupuk kompos. Pada kesempatan ini, Roni Sepriyono menegaskan kepada peserta SL bahwa tujuan utama dari proses pembelajaran petani ini ada dua. Pertama, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani dalam hal budidaya pertanian terkhusus tani padi. Kedua, peningkatan produktivitas tanaman padi di daerah irigasi kesepakatan. "Tujuan besarnya adalah peningkatan kesejahteraan petani," tegas Roni. Untuk asuransi, Roni mengharapkan semua petani padi ikut berperan aktif dalam program ini. "Untuk menggantikan kerugian operasional petani dalam berbudiddaya padi bila mengalami gagal panen atau puso," jelasnya. Pendaftaran asurasi dilakukan setiap musim tanam padi dengan biaya asurasi Rp 36 ribu per hektar per musim. "Bila mengalami kerusakan akibat banjir, kekeringan atau serangan hama penyakit, sama atau lebih dari 70 persen maka akan digantkan Rp 6 juta rupiah," terangnya. Semoga para petani memanfaatkan kegiatan ini. Oleh Tim IPDMIP DI May Maja BPP Kobar