PGPR BAHAN MURAH MENINGKATKAN KESUBURAN TANAH, TAPI BUKAN MURAHAN. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) adalah sekelompok bakteri tanah yang menghuni sekitar/pada permukaan akar dan secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui produksi dan sekresi berbagai bahan kimia pengatur di sekitar rizosfer. Beberapa mikroorganisme yang umum ditemukan pada PGPR dan dapat dihasilkan sendiri oleh petani adalah: Bacillus, Pseudomonas, Azospirillum, Azotobacter. Streptomyces, Trichoderma sp APA SAJA MANFAATNYA? Pemberian pupuk hayati yang mengandung PGPR mampu mengurangi pemakaian pupuk NPK sebanyak 25% dari dosis pemupukan (Hendarto et al., 2021). Konsorsium dari Azotobacter dan Azospirillum pada PGPR mampu mengurangi penggunaan pupuk N anorganik sebanyak 25% dari dosis rekomendasinya yakni 100 kg N/ha. Peningkatan ini terjadi karena peran dari kedua bakteri tersebut yang mampu memfiksasi N dari udara dan pupuk sehingga mampu menyuplai kebutuhan hara N pada tanaman. (Widiyawati et al., 2014). Hasil kajian menunjukkan bahwa PGPR mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui mekanismenya yang dapat memfiksasi nitrogen, melarutkan fosfat, dan mampu menghasilkan hormon asam indol asetat. Pengurangan jumlah penggunaan pupuk an-organik dengan penggunaan PGPR melalui mekanisme fiksasi nitrogen sebanyak 25-50% dan melalui pelarutan fosfat terikat sebanyak 50 %. dan melalui mekanisme penghasil AIA sebanyak 50%. (Jannah, M. et al, 2022). Dengan penggunaan PGPR yang dapat dibuat sendiri oleh petani, biaya produksi dapat ditekan. Disamping itu pengurangan penggunaan pupuk kimia karena pemanfaatan mikroba, menyebabkan potensi kerusakan tanah akan semakin berkurang. Efek ini tentunya mempunyai nilai ekonomis yang lebih besar dan menguntungkan petani serta terjaminnya keberlanjutan usaha pertanian. Menurut Narsian dan Patel (2000) pelarutan P oleh mikroorganisme pelarut fosfat selain terjadi karena proses kelasi dan reaksi pertukaran, juga disebabkan oleh menurunnya pH rizosfer akibat adanya asam oragnik. Mekanisme utama agar tanaman dapat mengekstrak P dari sumbersumber yang tidak dapat larut terjadi melalui: produksi asam organik yang dapat menyebabkan pH rizosfer menurun (penurunan pH itu menjadi penting jika banyak asam organik yang diekskresikan). Akibat masivenya pemupukan pupuk P anorganik serta kondisi tingkat kemasaman tanah (PH) yang rendah, mengakibatkan tingginya kandungan FE (zat besi) dan Al (Aluminium) dalam tanah, sehingga unsur Posfat terikat oleh Fe dan Al, tidak tersedia bagi tanaman. Hal ini mengakibatkan Posfat tidak dapat diserap secara maksimal oleh tanaman. Kandungan P tersedia di sebagaian besar tanah di Indonesia yang tidak terserap oleh tanaman perlu dicarikan solusinya melalui konsorsium mikroba pelarut posfat. Pemanfaatan PGPR secara massive, akan menguntungkan bagi berkembangnya pertanian ramah lingkungan dan mengurangi pemupukan Posfat kimia, sehingga dapat menekan biaya produksi khususnya penggunaan pupuk. PERSPEKTIF DAN STRATEGI MEMASIFKAN Produktivitas pertanian bertumpu pada dasar keanekaragaman mikroba di dalam tanah, dan dalam beberapa tahun terakhir, PGPR telah muncul sebagai alat yang penting dan menjanjikan untuk pertanian berkelanjutan. PGPR adalah bakteri tanah yang hidup di sekitar/di permukaan akar dan secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam mendorong pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara langsung atau tidak langsung, baik dengan melepaskan fitohormon pertumbuhan tanaman atau zat aktif biologis lainnya, mengubah kadar fitohormon endogen, meningkatkan ketersediaan dan penyerapan nutrisi melalui fiksasi dan mobilisasi, atau mengurangi efek berbahaya dari mikroorganisme patogen pada tanaman dan/atau dengan menggunakan berbagai mekanisme aksi. Selain menawarkan rute yang menarik secara ekonomi dan ramah lingkungan untuk menambah pasokan nutrisi dan melindungi dari patogen tular tanah, PGPR memainkan peran penting untuk meningkatkan kesuburan tanah, bioremediasi dan manajemen stres untuk pengembangan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan (Prasad,M. et. al., 2019) Dalam upaya memasifkan penggunaan PGPR, antara lain : Memberdayakan petani dengan mengedukasi, membina dan pendampingan dalam mengeksplorasi dan pembuatan serta pemanfaatannya. Pemanfaatan program Corporate social responsibility (CSR) untuk membantu petani mengembangkan sarana produksi ramah lingkungan. Kolaborasi dengan aparat pedesaan dalam pengembangan dan pemanfaatan dana desa untuk produksi dan pengembangan sarana produksi ramah lingkungan. BAGAIMANA CARA MEMBUAT ISOLAT PGPR Berikut link cara membuat isolate PGPR dari akar bambu : https://www.youtube.com/watch?v=Y6u4zTntN9U&t=127s Ditulis Oleh : M. Takdir Mulyadi (Penyuluh pada Pusluhtan, BPPSDMP) Sumber Bacaan : Hendarto, K., Widagdo, S., Ramadiana, S., & Meliana, F. S. (2021). Pengaruh Pemberian Dosis Pupuk NPK dan Jenis Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Jurnal Agrotropika, 20(2), 110. https://doi.org/10.23960/ja.v20i2.5086 Miftahul Jannah, Rabiatul Jannah, Fahrunsyah Fahrunsyah. (2022). Kajian Literatur : Penggunaan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Mengurangi Pemakaian Pupuk Anorganik pada Tanaman Pertanian. Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab. Fakultas Pertanian. Narsian dan Patel. 2000. Mikrobiologi Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Widiyawati, I., Sugiyanta, Junaedi,A. dan Widyastuti,R. (2014). Peran Bakteri Penambat Nitrogen untuk Mengurangi Dosis Pupuk Nitrogen Anorganik pada Padi Sawah. Jurnal Agron. Indonesia 42 (2) : 96 – 102. Prasad,M.,Srinivasan, Manoj Chaudhary, Mukesh Choudhary, Lokesh Kumar Jat. 2019. Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) for Sustainable Agriculture: Perspectives and Challenges. Food Security and Environmental Management, Pages 129-157.