Loading...

POTENSI LIMBAH KELAPA SAWIT DAN HASIL SAMPING INDUSTI KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNA

POTENSI LIMBAH KELAPA SAWIT DAN HASIL SAMPING INDUSTI KELAPA SAWIT SEBAGAI PAKAN TERNA
Definisi Limbah adalah Suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber aktivitas manusia, maupun proses-proses alam. Dalam pengolahan produksi dilakukan pengolahan dengan jumlah berat tandan buah segar (TBS) ton/ha yang dihasilkan, yang selanjutnya diolah menjadi minyak kelapa sawit (CPO) ton/ha, dan minyak inti sawit (PKO) ton/ha, dan hasil samping antara lain bungkil inti, cangkang dan tandan kosong, serta limbah cair (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2003). Tanaman kelapa sawit menghasilkan limbah berupa daun pelepah kelapa sawit yang didapat pada waktu panen TBS dan industri kelapa sawit menghasilkan 3 jenis hasil samping utama yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak yaitu serat buah sawit, lumpur minyak sawit dan bungkil inti sawit. Hasil samping dan limbah ini cukup melimpah sepanjang tahun, namun sebagai pakan ternak ruminansia belum banyak digunakan secara maksimal dan komersial sampai sekarang. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) mencapai 23 % dari jumlah pemanfaatan limbah kelapa sawit Kompos TKKS memiliki beberapa sifat yang menguntungkan antara lain : · Memperbaiki struktur tanah berlempung menjadi ringan, · Membantu kelarutan unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman, · Bersifat homogen dan mengurangi risiko sebagai pembawa hama tanaman, · Merupakan pupuk yang tidak mudah tercuci oleh air yang meresap dalam tanah, · Dapat diaplikasikan pada sembarang musim kandungan 30 - 40 % K2O, 7 % P2O5, 9 % CaO, dan 3 % MgO ; unsur hara mikro yaitu 1.200 ppm Fe, 1.000 ppm Mn, 400 ppm Zn, dan 100 ppm Cu; Fungsi lain TKKS juga sebagi bahan serat untuk bahan pengisi jok mobil dan matras, polipot, dll. · Pelepah pohon dan CPO dapat dijadikan ekstrak untuk Vitamin E; · Batang pohon dapat dijadikan "Fiber Board" untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari .Ampas tandan/buangan sisa pabrik dapat dijadikan serbuk pengisi kasur, bantalan kursi. Serat buah sawit merupakan hasil samping dari pengolahan kelapa sawit yang dipisahkan dari buah setelah pengutipan minyak dan biji dalam proses pemerasan. Tingkat penggunaan serat buah sawit dalam pakan sapi dan kerbau adalah 10 – 20% dan untuk domba dan kambing adalah sebesar 10 – 15% (Hutagalung dan Jalaludin, 1982). Sedangkan Aritonang (1986) melaporkan bahwa serat buah sawit dapat digunakan dalam ransum ternak ruminansia sebesar 25 - 30%. Serat buah sawit yang diamoniasi dapat diberikan kepada ternak domba sebesar 50%, namun belum dapat menggantikan peranan dari rumput (Zain, 1999). Sebelumnya Hasan dan Ishida (1991) telah melaporkan bahwa serat buah sawit dapat digunakan dalam ransum ternak ruminansia sebesar 20%. Lumpur minyak sawit adalah larutan terbuang yang dihasilkan selama proses pemerasan dan ekstraksi minyak. Bahan ini merupakan emulsi yang mengandung sekitar 4 – 5% padatan, 0,5 – 1% sisa minyak dan sekitar 94 % air. Untuk setiap ton hasil minyak sawit, dihasilkan sekitar 2 – 3 ton lumpur minyak (Hutagalung dan Jalaludin, 1982). Larutan buangan ini langsung dialirkan kedalam parit, kolam atau sungai di sekitar pabrik sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Lumpur minyak sawit dapat digunakan dalam ransum domba sebanyak 25 – 30% (Devendra, 1977). Hasil penelitian Agustin (1991) menunjukkan lumpur sawit dapat digunakan sebagai pengganti dedak padi sampai 100 % pada sapi perah yang sedang tumbuh, dinilai dari responnya terhadap pertambahan bobot hidup, kecernaan zat makanan, retensi nitrogen dan kadar NH3. Pemberiannya tidak dalam bentuk lumpur basah, tetapi dalam bentuk kering. Pengeringannya dilakukan dengan menggunakan alat pengering yaitu sludge dryer yang juga terdapat di pabrik pengolahan kelapa sawit. Bungkil inti sawit adalah hasil samping proses ekstraksi inti sawit. Bahan ini dapat diperoleh dengan proses kimia atau dengan cara mekanik. Walaupun proteinnya rendah tetapi kualitasnya cukup baik, serat kasarnya tinggi dan palatabilitasnya rendah menyebabkan kurang cocok untuk ternak monogastrik dan lebih sering diberikan kepada ruminansia terutama sapi perah (Devendra, 1977). Bungkil inti sawit dapat diberikan sebesar 30% dalam pakan domba. Menurut Batubara et al. (1993) bungkil inti sawit dapat digunakan sampai sebesar 40% dalam konsentrat untuk penggemukan domba yang ditambah dengan 20% molases. Pakan yang hanya terdiri atas 75% bungkil inti sawit dan 25% molases dapat diberikan untuk pakan domba dengan daya cerna sebesar 82,6%, tidak berbeda nyata dengan daya cerna pakan konsentrat kualitas tinggi yaitu sebesar 84,3%, sedangkan tanpa molases hanya 77,8% (Batubara et al., 1993). Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Madya Pusluhtan BPPSDMP Email : agussutarman56@gmail.com Sumber : Pengukuhan Guru Besar Prof. Hasnudi, Peranan Limbah Kelapa Sawit dan Hasil Samping Industri Kelapa Sawit terhadap Pengembangan Ternak Ruminansia di Sumatera Utara, Kampus USU 12 Desember 2005) http://labagro.blogspot.com/2011/11/potensi-limbah-kelapa-sawit-dan-hasil.html https://endrikawidyastuti.files.wordpress.com/2014/06/27-28-pemanfaatan -hasil-samping-pengolahan-sawit.pdf