Efektif mikroorganisme (EM) adalah kultur campuran dari berbagai mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, dapat diaplikasikan sebagai inokulan untuk meningkatkan jenis dan jumlah mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman. Teknologi, konsep dan penerapan EM dibidang pertanian telah dilakukan secara mendalam oleh Prof. Dr. Teruo Higa di Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Dalam skala luas EM telah diterapkan oleh petani organik di Jepang, Thailand, Brazil, Amerika Serikat, Indonesia, Filifina, Srilangka, China, Korea Selatan, Taiwan, India, Prancis, Malaysia, New Zealand, Laos, Myanmar, dll. Dari tahun 1989 sampai kini pengembangan teknologi EM masih terus dilakukan. EM selain dapat diterapkan di dalam tanah dan tanaman, juga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan limbah untuk mempercepat penguraian air limbah., memperbaiki dasar tambak untuk mempercepat partumbuhan ikan dan udang, menghilangkan polusi bau pada kandang ternak, dicampur pada air minum dan makanan untuk memperbaiki mikroorganisme yang ada dalam perut ternak, sehingga pertumbuhan dan produksi ternak menjadi meningkat. EM terbuat dari kultur campuran species mikroorganisme alami yang terdapat dalam lingkungan alam dan tidak mengandung mikroorganisne asing, bukan hasil rekayasa genetik, EM yang dipasarkan di Indonesia adalah jenis mikroorganisme alami yang hidup di Indonesia. Konsep EM adalah mengisolasi dan menyeleksi berbagai mikroorganisme yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi tanah dan tanaman. Mikroorganisme yang dapat hidup bersama dalam kultur campuran dan mempunyai kecocokan diantara mikroorganisme tersebut, ketika dikembalikan ke dalam lingkungan alaminya berpengaruh menguntungkan dan bertambah secara cepat melalui aksi sinergik / saling menunjang. Mikroorganisme yang terkandung dalam EM adalah : Lactobacillus (bakteri asam laktat) serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetis, Actinomycetes, strepmyces sp dan ragi. EM meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman serta menekan aktifitas serangga hama dan mikroorganisme patogen lain. Cara kerja EM adalah : menekan pertumbuhan patogen tanah, mempercepat fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman, meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan seperti Mykoriza, Rhizobium, Bakteri pelarut fosfat dll., memfiksasi nitrogen, mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Dengan cara tersebut EM dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen yang selalu menjadi masalah pada budidaya monokultur dan tanam sejenis terus menerus (continuous croping). EM mempermentasikan sisa pakan dan kulit ikan / udang pada tanah dasar tambak, sehingga gas beracun (metan , H2S dan mercaptan) dan panas pada dasar tambak jadi hilang, sehingga lingkungan yang baik ini meningkatkan kehidupan ikan / udang dengan lebih baik. EM yang disemprotkan ke kandang ternak dapat memfermentasikan limbah pakan dan kotoran ternak, sehingga kandang menjadi tidak bau, ternak tidak stres, napsu makan meningkat. EM yang diminumkan pada ternak, hidup pada usus ternak, menekan mikroorganisme lain yang bersifat patogen sehingga ternak menjadi sehat. Limbah organik termasuk kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos mempunyai mikroorganisme asli. Diantara mikroorganisme tersebut ada yang meng-untungkan dan ada juga yang merugikan yaitu yang bersifat patogen. Sewaktu limbah organik dimasukan kedalam tanah mikroorganisme yang merugikan secara cepat menyebar dan menjadi dominan di dalam tanah, oleh karena itu mikroorganisme yang menguntungkan yang terdapat dalam bahan organik, hidup dalam jangka waktu pendek. Demikian pula mikroorganisme pada EM mengalami hidup dalam jangka waktu tertentu, dengan menggunakan EM populasi mikroorganisme yang menguntungkan dalam tanah / bahan organik menjadi dominan dari populasi mikroorganisme yang merugikan, dengan demikian kehidupan mikroorganisme yang menguntungkan akan menjadi lebih lama. Efektifitas EM akan meningkat dengan menambah interval penyemprotan pada tanaman. Pengalaman membuktikan EM yang disemprotkan dalam tanaman setahun sebanyak 4 kali (minggu I – IV interval 7 – 10 hari) memperpanjang efektifitas EM. Pada tanaman tahunan interval pemberian EM setiap 3 – 4 minggu sekali secara kontinyu akan meningkatkan efektifitas EM, tanaman akan mampu melewati masa kritis akibat stres lingkungan seperti kekeringan, kepanasan, gulma dan patogen. Dengan demikian tanaman akan tetap tegar, sehat dan tahan terhadap stres tersebut. Kombinasi perlakuan EM dengan Bahan Organik (pupuk kandang, kompos, pupuk hijau) akan mempercepat perkembangan populasi EM dalam tanah sehingga efektifitasnya pun meningkat. Penambahan bahan organik ke dalam tanah merupakan kegiatan yang mutlak dilakukan dalam rangka mempertahankan kelestarian sumberdaya tanah. Bahan organik selain memperbaiki sifat fisik, kimia juga biologi tanah. Bahan organik dalam tanah sangat diperlukan untuk kehidupan mikroorganisme tanah. Bahan Organik akan difermentasi oleh EM menjadi gula alkohol, asam laktat, asam amino dan senyawa organik lainnya yang dapat diserap langsung oleh akar tanaman melalui proses osmosis. Idealnya penambahan bahan organik ke dalam tanah sebanyak 1 – 10 ton per hektar, sehubungan tonase yang begitu banyak dan bersifat ruah serta memerlukan ruang yang luas dalam pengadaannya maka pemberiannya secara bertahap. Untuk tanaman setahun diberikan seminggu sebelum tanam, sedangkan pada tanaman tahunan setiap 3 bulan sekali. Para petani harus sudah mulai memperhatikan pentingnya bahan organik dalam meningkatkan kesuburan tanah. Bahan organik dalam pertanian di Indonesia sangat berlimpah dan mudah didapat, akan tetapi bahan-bahan tersebut umumnya dibuang atau dibakar, padahal itu merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan sentuhan teknologi yang cukup murah yaitu fermentasi dengan EM menjadi Bokashi / kompos. EM selain diaplikasikan pada tanah, juga pada seluruh permukaan tanaman, pada batang, akar dan daun. Penyemprotan EM pada permukaan daun dapat meningkatkan aktifitas fotosintesis tanaman, dan menekan pertumbuhan patogen yang terdapat pada permukaan tanaman. Konsentrasi EM anatara 3 – 10 cc / liter air, bila disemprotkan di atas permukaan tanah memerlukan dosis 8 –10 liter EM / hektar . Jika EM dalam dosis tinggi sekalipun secara kontinyu diaplikasikan ke permukaan tanah tidak akan merusak lingkungan karena EM bukan merupakan mikroorganisme asing dan secara alami sudah terdapat di tanah. Populasi EM di alam akan dikendalikan / diseimbangkan oleh lingkungan (bahan organik, suhu, air, oksigen dll) yang ada di tanah. Penggunaan EM yang lebih luas adalah pada penanggulangan limbah organik yang menyebabkan bau seperti sampah kota, hotel, restoran, rumah tangga, limbah industri, yaitu melalui proses yang dapat mempercepat penguraian bahan organik. Sumber : PT Songgo Langit Persada JakartaPenyunting : 1.Mokhammad Muslikh (PP BPP Pasekan) 2. Ir. Endang Kirno K. (Admin Kabupaten)