Loading...

Prinsip Pengendalian Opt Pada Agribisnis Tanaman Cabai

Prinsip Pengendalian Opt  Pada Agribisnis Tanaman Cabai
Pengendalian OPT dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah suatu cara pendekatan atau falsafah pengendalian OPT yang berdasar paada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan agroekosistem yang bertanggung jawab. Pengamatan rutin untuk mengikuti keadaan ekosistem, baik populasi OPT maupun populasi musuh alami, pertumbuhan tanaman, keadaan cuaca, dan lain-lain perlu dilakukan. Keputusan tindakan pengendalian harus selalu didasarkan pada data aktual lapanagan yang diperoleh dari kegiatan pemantauan ekosistem. Pengamatan. Pengamatan merupakan salah satu komponen penting dalam sistem PHT, karena hasil pengamatan akan merupakan bahan yang berguna untuk pengambilan keputusan pengendalian OPT. Pengamatan bertujuan untuk mengetahui intensitas serangan atau kepadatan populasi OPT, luas serangan, dan daerah penyebaran serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT. Perkembangan OPT ditentukan oleh faktor biotik (musuh alami OPT, tanaman, tindakan manusia) dan faktor abiotik (temperatur, kelembaban udara, sinar matahari, hujan, angin, tanah, air, dsb.) Pengambilan Keputusan Kegiatan pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan hasil analisis data pengamatan. Keputusan dapat berupa diteruskannya kegiatan pengamatan atau dilaksanakannya tindakan pengendalian. Apabila hasil analisis data pengamatan masih di bawah ambang pengendalian maka pengamatan dilanjutkan dan belum perlu dilakukan tindakan pengendalian. Ambang pengendalian kutu daun persik 0,7 ekor nimfa per tanaman contoh, ulat grayak adalah 12,5% kerusakan daun per tanaman contoh, hama-hama pengisap thrips, tungau, kutu daun adalah 15% kerusakan daun per tanaman contoh. Ambang pengendalian untuk penyakit pada tanaman cabai sampai saat ini belum ada yang pasti. Tindakan Pengendalian Tindakan pengendalian dilakukan apabila populasi dan atau tingkat serangan OPT dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis, atau hasil analisis data pengamatan sudah mencapai ambang pengendalian. Beberapa tindakan pengendalian yang dapat dipilih dan digunakan dalam menyusun operasional pengendalian sesuai dengan rakitan teknologi yang memungkinkan antara lain: Pengendalian secara teknik budidaya Pengolahan tanah yang baik dan benar Penggunaan benih dari varietas tahan OPT, bermutu, dan sehat Pengaturan jarak tanam, pola tanam, dan waktu tanam yang tepat Pemupukan berimbang Pengaturan drainase atau tata air, dan Menanam tanaman perangkap/pemikat Pengendalian secara fisik/mekanik Sanitasi/eradikasi selektif terhadap tanaman terserang OPT Sanitasi terhadap tumbuhan pengganggu yang kemungkinan menjadi tanaman inang lain dari OPT, Pengambilan kelompok telur/ulat dari tanaman secara langsung, Pemasangan perangkap feromoid seks (ME atau MMB untuk lalat buah), perangkap likat warna biru, putih atau kuning untuk thrips, atau perangkap air berwarna kuning untuk kutu daun. Pengendalian biologi Pemanfaatan musuh alami, agensia hayati yang bersifat spesifik. SINPV adalah patogen penyakit untuk mengendalikan ulat grayak dan agen antagonis Trichoderma dan Gliocladium spp. Untuk mengendalikan penyakit antraknose dan layu fusarium. Aplikasi Pestisida Pestisida hayati/biopestisida, diartikan sebagai pestisida yang dieksplorasi dari makhluk hidup, berasal dari tumbuhan atau mikroba/agens hayati golongan bakteri, cendawan, virus. Contoh daun sirsak untuk menegendalikan Trips sp pada tanaman cabai. Pestisida sintetis, bahan aktif dari hasil sintesa kimia yang vterdiri dari beberapa golongan. Untuk meminimalkan kandungan residu pestisida sampai di bawah batas maksimum residu yang diizinkan dan menibngkatkan efektifitas dalam aplikasi pestisida perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Pemilihan pestisida Memilih jenis pestisida yang efektif sesuai dengan OPT sasaran Memilih jenis pestisida yang tidak persisten (mudah terurai pada kondisi lapangan) atau mempunyai waktu paruh (DT50) yang pendek. Waktu paruh adalah waktu yang diperlukan agar separuh (50%) dari senyawa tersebut telah terurai. Mengatur cara aplikasi Waktu aplikasi pestisida, hanya dilaksanakan apabila berdasarkan hasil pengamatan OPT telah melebihi ambang batas pengendalian, dan pestisida diaplikasikan pada waktu sebagian besar populasi OPT pada stadium yang peka terhadap pestisida Mengaplikasikan pestisida dengan dosis minimum yang efektif terhadap OPT sasaran, Usahakan bagian tanaman yang diaplikasi pestisida bukan bagian yang akan dikonsumsi, hanya pada bagian tanaman yang terserang secara spot atau ada populasi OPT-nya, Aplikasi pestisida sejauh mungkin sebelum panen jangan menjelang atau sesudah panen Hindari atau kurangi penggunaan stiker dalam cairan semprot, kecuali pada musim hujan, Menggunakan alat dan cara aplikasi yang tepat, sesuai dengan jenis pestisida dan OPT sasaran serta jenis tanamannya. (Noviza Fitri). (Sumber: Pedoman Penerapan PHT pada Agribisnis tanaman Cabai, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura Jakarta, Tahun 2004).