Judarul, seorang petani muda kelahiran 1977 (38 tahun) lahir dan bertempat tinggal di Kunangan, Nagari Kunangan Parik Rantang, Kecamatan Kamang Baru, Kabupaten Sijunjung. Dikaruniai 4 orang anak laki-laki dengan seorang istri. Berbekal pendidikan di bangku SMA, beliau mengelola usaha di sektor pertanian. Beliau memiliki lahan sawah seluas 1 ha yang dikelola untuk penangkaran benih padi, kebun sawit seluas 4 ha yang telah berproduksi, kebun karet muda seluas 1 ha, memiliki 6 ekor kambing, dan kolam ikan lele seluas 24 m². Sebagai seorang ketua di kelompoktani Batu Kapur I, beliau juga aktif dalam mengembangkan kelompoktaninya. Dalam rangka usaha peningkatan produksi dan produktivitas dari usaha yang dilaksanakannya, Judarul selalu berkoordinasi dan berkonsultasi dengan Instansi terkait yaitu BP4KKP Kabupaten Sijunjung melalui UPTB-BPK Kecamatan Kamang Baru dan Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung. Pelatihan yang pernah diikuti yaitu pelatihan penangkar benih padi di Dharmasraya (2009) dan Padang (2014), pelatihan manajemen pemasaran di Solok (2010), pelatihan teknis penangkar benih padi di Muaro Sijunjung (2014) dan di Padang Panjang (2014). Usahatani yang menonjol dari Judarul adalah sebagai petani muda penangkar benih padi yang berhasil di Kabupaten Sijunjung. Nama Judarul sebagai "si penangkar benih padi sawah" sudah tidak asing lagi terdengar oleh petani maupun penyuluh pertanian di Kecamatan Kamang Baru bahkan di Kecamatan lainnya di Kabupaten Sijunjung. Program LUEP (Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan) diberikan Pemerintah kepada Judarul pada tahun 2005 sampai tahun 2007. Bersamaan dengan adanya program LUEP, kegiatan penangkaran benih padi sawah seluas 5 ha dilaksanakan secara swadaya oleh Judarul yang pada saat itu merupakan salah satu anggota dalam kelompoktani Batu Kapur I. Kemudian Dinas Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Sijunjung memperkenalkan program penangkaran benih padi sawah. Pada saat itu, Judarul masih ragu untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Melalui proses penyuluhan oleh penyuluh dan petugas pertanian mengenai keuntungan dan teknis penangkaran benih padi serta pemasarannya sehingga Judarul mampu melaksanakan kegiatan penangkaran benih padi sawah dengan baik dan berhasil. Kini, beliau mengembangkan usaha penangkaran benih padi sawah secara swadaya bersama kelompoktani Batu Kapur I (berdiri tahun 1998) seluas 23 ha. Seluas 1 ha sawah yang dimiliki Judarul dapat menghasilkan rata-rata 4-5 ton GKP/MT. Penanaman padi dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo yang dikombinasikan dengan padi tanam sebatang (PTS). Bersama PT. Pertani dan PT. Sang Hyang Sri, beliau selalu bekerjasama dengan pola kemitraan dalam pengadaan benih padi berlabel. Beliau juga bermitra dengan beberapa kelompoktani lain di Kunangan seperti Batu Kapur II dan Sungai Jambak dalam penangkaran benih padi sawah. Bahkan, petani dan pengusaha dari daerah lain di luar Kabupaten Sijunjung seperti Kabupaten Dharmasraya dan Propinsi Riau berminat untuk bermitra dalam pengadaan benih padi berlabel. Atas kerja kerasnyalah yang menjadi dampak terhadap kelompoktani lain dalam penangkaran benih padi sehingga Nagari Kunangan Parik Rantang saat ini menjadi Desa Mandiri Benih. Judarul tidak berhenti dalam berinovasi, batubara yang biasanya dipergunakan sebagai bahan bakar industri dipergunakannya dalam mengendalikan atau mengusir hama walang sangit terhadap pertanaman padi sawah. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa. Melalui asap yang dikeluarkan oleh batubara yang dibakar di beberapa tempat pada hamparan sawah inilah yang berhasil mengatasi penyebaran hama walang sangit. Inovasi ini kemudian diikuti oleh petani lainnya di Kunangan sehingga saat ini serangan hama walang sangit menjadi berkurang. Untuk memperoleh bahan batubara di Kunangan tidaklah begitu sulit, karena Nagari Kunangan Parik Rantang merupakan salah satu penghasil batubara. Kegiatan penangkaran benih padi memiliki peran penting dalam Upaya Khusus (UPSUS) dalam pencapaian swasembada beras secara Nasional. Selain usaha penangkaran benih padi, Judarul juga memiliki huller (usaha penggilingan padi), kebun kelapa sawit (TM) seluas 4 ha dengan produksi 6 ton/ha/bulan, kebun karet seluas 1 ha (TBM), ternak kambing sebanyak 6 ekor dan kolam ikan lele seluas 24 m² dengan produksi 200 kg/panen. Total penghasilan bersih yang didapat oleh Judarul dari seluruh usahanya berkisar Rp. 11 juta/bulan, jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. (M. Iwan K, SP)