Loading...

Kemana Kentang Dipasarkan ?

Kemana  Kentang Dipasarkan ?
Dalam budidaya kentang (Solanum tuberosum) belumlah cukup bila belum disertai pemasaran, terutama bagi petani yang menanam kentang untuk dipasarkan. Pemasaran atau marketing pada prinsipnya adalah aliran barang (kentang) dari produsen (petani kentang) ke konsumen (pembeli) Produsen adalah mata rantai yang pertama dan konsumen adalah mata rantai terakhir. Aliran barang ini dapat terjadi karena adanya peranan lembaga pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan. Oleh karena itu dikenal istilah " saluran pemasaran" atau "marketing channel". Fungsi saluran pemasaran amat penting, khususnya dalam melihat tingkat harga di masing-masing lembaga pemasaran. Pemasaran tidak dipungkiri lagi merupakan aspek yang sangat penting. Soalnya, bila mekanisme pemasaran berjalan baik, maka semua pihak yang terlibat akan diuntungkan. Oleh karena itu peranan lembaga pemasaran yang biasanya terdiri darii produsen, tengkulak, pedagang pengumpul, broker, eksportir, importir atau lainnya menjadi amat penting. Lembaga pemasaran, khususnya bagi negara berkembang, termasuk Indonesia yang dicirikan oleh lemahnya pemasaran hasil pertanian, termasuk kentang atau lemahnya kompetisi pasar yang sempurna akan menentukan mekanisme pasar. Hal ini karena produk pertanian, termasuk kentang umumnya dicirikan oleh sifat : (1) Diproduksi musiman; (2) Dibutuhkan dalam keadaan segar; (3) Mudah rusak; (4) Jumlahnya banyak tetapi nilainya relatif sedikit; dan (5) Lokal dan spesifik (tidak dapat diproduksi di semua tempat) sehingga mempengaruhi mekanisme pemasaran. Oleh karena itu sering sekali terjadi harga produksi pertanian , termasuk kentang yang dipasarkan menjadi naik-turun (berfluktuasi). Jika hal ini terjadi, maka yang sering dirugikan adalah pihak petani. Dengan kejadian yang semacam ini, maka petani memerlukan kekuatan, entah dilakukan sendiri atau berkelompok dengan petani lain untuk melaksanakan pemasaran ini. Oleh karena itu, petani kentang perlu memahami cara pemasaran komoditas hortikultura tersebut. Bagi petani yang belum biasa memasarkan produk kentang yang dipanennya, tentu ada yang bertanya, kemana hasil kentang yang dipanennya itu harus dipasartkan agar diperoleh harga yang pantas? Banyak Jalur Kentang dari petani sampai di tangan konsumen umumnya melalui banyak jalur. Semakin panjang jalur tersebut umumnya harga kentang semakin mahal. Soalnya, semua pihak yang ikut dalam jalur pemasaran tersebut mengambil keuntungan. Jalur pemasaran kentang untuk setiap daerah penghasil kentang bisa berbeda-beda. Jalur pemasaran komoditas bentuk umbi ini dapat melalui : 1. Pedagang Jalur pemasaran melalui pedagang biasanya dilakukan pada saat panen dimana pedagang yang datang ke kebun kentang atau lahan panenan kentang. Pada saat itu, pedagang melakukan tawar menawar dimana yang menentukan harga umumnya pedagang tersebut sehingga petani biasanya menerima saja harga yang ditentukan oleh pedagang. Hal ini tidak menjadi masalah asalkan ke dua belah pihak sudah merasa sama-sama untung. 2. Bandar Cara pemasaran ini dilakukan oleh petani itu sendiri yang mendatangi dan menawarkan dagangannya kepada bandar, pedagang besar, pedagang pengepul atau penampung. Cara ini umumnya kurang menguntungkan petani karena harga yang diminta atau ditawarkan di bawah harga yang ditawar bandar , pedagang besar, pedagang pengepul atau pengumpul tersebut. Biasanya antara pedagang besar dengan pedagang pengepul atau calo sudah ada kerjasama dalam menetapkan harga kentang . Petani yang mendatangi dan menawarkan dagangannya kepada pembeli tersebut tinggal menerima saja harga yang telah ditentukan oleh pembeli tersebut. Cara memasarkan kentang melalui bandar bisa saja dilakukan, asal petani merasa sudah mendapat keuntungan yang memadai dari harga yang telah ditentukan oleh pembeli tersebut. Bila transaksi/harga sudah disepakai, pihak pedagang mendatangi lahan panenan. Soal ongkos angkutan dan lain-lain umumnya ditanggung oleh pedagang. Sedang ongkos pemanenan tetap ditanggung petani yang bersangkutan. Dikirim Ke Pasar Bisa saja hasil panenan kentang dikirim ke pasar. Contohnya, petani kentang di Pengalengan (jawa Barat) mengirim hasil panenannya ke Pasar Induk Ciroyong, Bandung dan Pasar Induk Kramatjati, Jakarta atau ke pasar-pasar lain yang mau membeli hasil panen kentang petani tersebut. Pengirimannya ada yang dilakukan langsung dari lahan panenan atau dari bandar. Kentang yang yang pengirimannya melalui bandar, kentang-kentang hasil panen petani dikumpulkan dahulu di bandar., kemudian bandar tersebut menyeleksi dan yang mengurus pengirimannya ke pasar yang dituju. Pemasaran kentang yang dilakukan di pasar-pasar dapat dilakukan dengan cara : 1. Petani yang menjadi pedagang. Artinya, petani itu sendiri yang menjual hasil panenan kentangnya. 2. Pedagang yang menjadi petani. Artinya, pedagang yang menjual kentang tersebut sekaligus juga sebagai penanam kentang. 3. Petani sebagai pedagang pengumpul.Artinya, petani yang mempunyai modal menjadi pedagang pengumpul di sentra produksi kentang kemudian langsung memasok sendiri ke pasar yang dituju, misalnya menjual ke Pasar Induk Ciroyom, Bandung atau ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta. Secara umum, pemasaran kentang di Indonesia dilakukan melalui : 1. Pekebun (produsen) --------- pengumpul (tengkulak) --------- pemborong (Pasar Induk) ------- penecer (retailer). 2. Pekebun ------------- pemborong -------------- pengecer 3. Pekebun ------- penampung (eksportir) ------- luar negeri (importir), misalnya ke Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. 4. Pekebun -------- grosir ---------- pengecer 5. Pekebun -------- pengumpul ---------- pengecer. Penulis : Ir. Muchdat Widodo,MM Penyuluh Pertanian Madya Pusat Penyuluhan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Sumber : 1. Dr.Ir.Muchjidin Rachmat,MS. Standar Operasional Prosedur Budidaya Kentang Varietas Granola (Solanum tuberosum L). Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010. 2. Setjo Pitojo. Benih Kentang. Penerbit Kanisius,Jakarta,2004. 3. Drs.H.Hendro Sunarjono. Petunjuk Praktis Budidaya Kentang. Penerbit PT.Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan 12630, 2007.