Pada prinsipnya proses pembuatan silase yaitu proses ensilase diupayakan dilakukan dalam waktu yang relative singkat. Tujuanya, agar lingkungan dapat menjadi bebas udara/hampa udara/an-aerob.Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan usaha peternakan. Selain itu juga bagian terbesar dari komponen biaya produksi. Tanpa ketersediaan pakan yang cukup baik kuantitas maupun kualitas, dapat dipastikan usaha peternakan akan mengalami kegagalan. Atau, paling tidak memberikan hasil yang tidak optimal. Berbagai cara dapat dilakukan untuk memenuhi ketersediaan pakan ternak, khususnya ternak ruminansia. Salah satu diantaranya adalah dengan memanfaatkan limbah atau hasil ikutan pertanian yang berlebihan dan sudah pasti melimpah setiap musim panen tiba. Limbah ini dikenal juga dengan jerami yang berasal dari padi atau jagung. Pemanfaatan limbah jerami ini sudah barang tentu sangat menguntungkan. Disamping limbahnya tidak terbuang sia-sia juga dapat dijadikan stok pakan karena dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Caranya tentu saja setelah melalui proses pegolahan terlebih dulu menjadi silase.Silase adalah suatu cara pemanfaatan pakan hijauan/hasil ikutan pertanian yang berlebihan pada suatu musim agar tidak terbuang yaitu dengan mengawetkan/mengolah bahan tersebut terlebih dahulu. Pengawetan atau pengolahan dilakukan dalam bentuk segar. Bahan yang telah diawetkan pada umumnya dipergunakan pada saat ketersediaan pakan hijauan dilapangan telah habis. Atau, pada saat ternak dalam perjalanan/transportasi maupun sebagai komoditi untuk diperdagangkan.Pada prinsipnya proses pembuatan silase yaitu proses ensilase diupayakan dilakukan dalam waktu yang relative singkat. Tujuanya, agar lingkungan dapat menjadi bebas udara/hampa udara/an-aerob. Keadaan yang demikian pada umumnya akan diikuti oleh kondisi lingkungan yang menjadi asam. Dalam kondisi bebas udara dan suasana asam yang optimal akan menyebabkan bakteri pembusuk dan jamur yang tidak dinginkan akan berhenti beraktivitas/mati sehingga hijauan akan dapat bertahan lama dalam penyimpanan.Untuk mendapatkan hasil silase yang baik, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Lokasi tempat proses ensilase dilakukan pada daerah yang tidak mudah tergenang air, dan untuk itu disarankan untuk diberi naungan; (2) Produk ikutan dicacah/dipotong-potong (misalnya jerami) untuk menghasilkan cacahan berukuran 5 – 10 cm. Hal ini bertujuan agar memudahkan dalam pemadatan produk ikutan saat diproses dan disimpan; (3) Hasil cacahan dikering-anginkan selama 1 – 2 hari, agar kandungan airnya berkurang; (4) Campurkan secara merata tetes (1 % dari bobot jerami), dedak padi (3 %) dan probion (0,03 %). Dapat pula ditambahkan urea sejumlah 3 %. Campuran dimasukkan kedalam silo (wadah pembuat silase) yang terbuat dari beton atau dalam kantong/wadah plastik dan dipadatkan/diinjak-injak agar tidak terdapat rongga udara; (5) Hal ini penting untuk menghindari terjadinya proses pembusukan yang mungkin terjadi; (6) Silo ditutup rapat agar tidak ada udara ataupun air yang masuk; (7) Biarkan selama 3 minggu, dan setelah melewati proses tersebut, silo dapat dibuka dan silase siap digunakan yang didahului dengan diangin-anginkan untuk menghilangkan bau amonia yang terjadi; (8) Dengan demikian silase siap digunakan sebagai pakan pengganti hijauan/rumput.Dalam membuat silase, diperlukan alat dan bahan sebagai berikut : (1) Silo, tempat membuat silase, dapat terbuat dari tanah, beton, kantong plastik dll; (2) Chopper, alat pemotong/pencacah bahan baku; (3) Bahan baku silase, sebaiknya hasil pemotongan hijauan yang tidak terlalu tua; (4) Bahan pengawet, antara lain : molasse, tepung jagung, dedak, onggok, ampas sagu, asam phosphate dan natrium bisulfat; (5) Bahan penutup kedap air (plastik, dll.).Tahapan/Prosedur yang perlu ditempuh dalam proses Pembuatan Silase sebagai berikut : (1) Bahan baku (hijauan pakan) segar/telah dilaykan dicacah dengan ukuran 2 -5 cm; (2) Dapat langsung dimasukkan kd dalam silo jika tidak diberi tambahan bahan pengawet. Bila diberi bahan pengawet, maka sebaiknya dilakukan dengan baik agar cukup homogen; (3) Hijauan dalam silo dipadatkan dengan tekanan/injakan sampai diperkirakan tidak terdapat rongga udara; (4) Silo yang telah padat ditutup dengan tanah, permukaan hijauan ditutup terlebih dahulu dengan jerami ataupun plastik untuk menghindari kontaminasi dan rembesan air; (5) Setelah proses berlangsung 21 hari maka silo siap dibuka dapat diberikan pada ternak.Ciri-cri proses ensilase yang berhasil ditandai : pH rendah, bau dan rasa asam, warna produk hijau dan tidak coklat, tidak terdapat lendir atau jamur, tekstur bahan aslinya terlihat jelas, tidak bergumpal dan pengujian secara laboratorium menunjukkan bahwa banyak asam laktat, sedikit N, tidak mengandung asam butirat dan tidak terjadi penguraian protein. (Inang Sariati)Sumber : 1. Pedoman Teknis "Integrasi Ternak Dengan Tanaman", Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2009.2. https://www.google.co.id/search?q=PROSEDUR+PEMBUATAN+SILASE&newwindow