Loading...

Proses pembuatan hay

Proses pembuatan hay
Prinsip Pembuatan Hay yaitu menurunkan kadar air sampai dibawah 15 % merupakan kunci kesuksesan pembuatan hay. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan bantuan panas yang berasal dari sinar matahari, panas buatan, aliran udara panas dan lain-lainnya.Banyak cara dapat dilakukan untuk memenuhi kecukupan pasokan pakan ternak khususnya ruminansia. Salah satu diantaranya adalah dengan pemanfaatan pakan hijauan/hasil ikutan pertanian yang berlebihan pada suatu musim agar tidak terbuang. Metode ini sering dilakukan dengan mengawetkan/mengolah bahan tersebut. Pengawetan/Pengolahan dapat dilkakukan baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering ataupun lebih sering diketahui dengan nama hay. Teknologi pengolahan bahan pakan dilakukan selain untuk dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan dan bahkan untuk meningkatkan kualitas pakan. Kualitas di sini baik ditinjau dari segi nutrisi maupun nilai biologis produk.Hay adalah hijauan pakan yang sengaja dicacah dan dikeringkan sehingga tidak sesegar bahan bakunya. Namun demikian, produk pengeringan tersebut masih layak dimanfaatkan oleh ternak ruminansia karena mengandung nutrien yang cukup baik. Tujuan pembuatan adalah penyediaan pakan untuk ternak pada saat tertentu dimana ketersediaan pakan hijauan segar sulit diperoleh. Penyebabnya antara lain, situasi pada masa paceklik dan dalam kondisi transpotasi/pengangkutan yang sulit. Dalam kondisi ini, kualitas hay sangat tergantung pada beberapa faktor, di antaranya adalah : (1) Umur dan komposisi nutrien hijauan serta bentuk fisik yang dipergunakan sebagai bahan baku hay; (2) Lamanya waktu pengeringan. Semakin lama waktu pengringan maka makin tinggi tingkat kerusakan kandungan nutrien produk olahan (karoten, pro vit-A dan protein); (3) Lamanya penyimpanan dan lingkungan tempat penyimpanan, serta kadar air hay pada saat disimpan. Hay yang mengandung air lebih dari 15 % akan cepat rusak dan membusuk; (4) Cara penanganan hay selama pengangkutan.Prinsip Pembuatan Hay. Menurunkan kadar air sampai dibawah 15 % merupakan kunci kesuksesan pembuatan hay. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan bantuan panas yang berasal dari sinar matahari, panas buatan, aliran udara panas dan lain-lainnya.Proses Pengeringan, yaitu hijauan pakan yang baru dipanen pada umumnya mengandung air sejumlah 75 – 85 %. Bahan baku tersebut sebaiknya dicacah dan dikeringkan dalam waktu sesingkat mungkin namun pada suhu yang tidak terlalu tinggi, untuk menghindari terjadinya kerusakan yang berlebihan. Proses pengeringan/pembuatan hay dapat dilakukan dengan cara :pengeringan matahari, pengeringan fermentasi, pengeringan buatan dan pengeringan aliran udara panas. Lebih jelasnya proses pembuatan hay sebagai berikut :Proses pengeringan/pembuatan hay dengan : A. Pengeringan matahari : (1) Bahan baku/hijauan dicacah/dipotong-potong, diserakkan pada pelataran pengeringan; (2) Hijauan dibalik-balik setiap 1 – 2 jam; (3) Lama pengeringan 4 – 8 jam sampai kadar air hijauan mencapai 15 %. B. Pengringan fermentasi : (1) Bahan baku/hijauan dikeringkan sesaat dibawah matahari; (2) Tumpuk dan padatkan dalam gudang sehingga terjadi fermentasi secara alamiah dan akan menghasilkan panas; (3) Upayakan ada aliran udara pada tumpukan tersebut. Selanjutnya, kipas angin dapat dipergunakan untuk tujuan ini. C. Pemanasan buatan : (1) Bahan baku/hijauan dipotong-potong; (2) Masukkan dalam alat pengering/oven, atur temperatur hingga kadar air mencapai 15 %. Produk dengan proses ini kurang baik, dan membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Pengeringan dengan udara panas : (1) Hijauan diserahkan atau ditumpuk dalam gudang; (2) Aliran udara panas melalui massa bahan baku/hijauan. Produk melalui proses ini pada umumnya sangat baik.Untuk menghasilkan hay berkualitas baik, maka harus mengetahui ciri-ciri hay yang baik. Adapun ciri-ciri hay yang berkualitas baik sebagai berikut : (1) Warna hijau kekuning-kuningan; (2) Baunya cukup harum; (3) Bentuk daun masih jelas; (4) Tekstur lemas, tidak keras atau tidak mudah patah dan (4) Tidak terkontaminasi denfan bahan lain, bersih dan tidak ditumbuhi jamur. (Inang Sariati) Sumber : 1. Pedoman Teknis "Integrasi Ternak Dengan Tanaman", Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2009.2. https://www.google.co.id/search?q=PROSES+PEMBUATAN+HAY Prinsip Pembuatan Hay yaitu menurunkan kadar air sampai dibawah 15 % merupakan kunci kesuksesan pembuatan hay. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan bantuan panas yang berasal dari sinar matahari, panas buatan, aliran udara panas dan lain-lainnya.Banyak cara dapat dilakukan untuk memenuhi kecukupan pasokan pakan ternak khususnya ruminansia. Salah satu diantaranya adalah dengan pemanfaatan pakan hijauan/hasil ikutan pertanian yang berlebihan pada suatu musim agar tidak terbuang. Metode ini sering dilakukan dengan mengawetkan/mengolah bahan tersebut. Pengawetan/Pengolahan dapat dilkakukan baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk kering ataupun lebih sering diketahui dengan nama hay. Teknologi pengolahan bahan pakan dilakukan selain untuk dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama, tujuan utamanya adalah untuk mempertahankan dan bahkan untuk meningkatkan kualitas pakan. Kualitas di sini baik ditinjau dari segi nutrisi maupun nilai biologis produk.Hay adalah hijauan pakan yang sengaja dicacah dan dikeringkan sehingga tidak sesegar bahan bakunya. Namun demikian, produk pengeringan tersebut masih layak dimanfaatkan oleh ternak ruminansia karena mengandung nutrien yang cukup baik. Tujuan pembuatan adalah penyediaan pakan untuk ternak pada saat tertentu dimana ketersediaan pakan hijauan segar sulit diperoleh. Penyebabnya antara lain, situasi pada masa paceklik dan dalam kondisi transpotasi/pengangkutan yang sulit. Dalam kondisi ini, kualitas hay sangat tergantung pada beberapa faktor, di antaranya adalah : (1) Umur dan komposisi nutrien hijauan serta bentuk fisik yang dipergunakan sebagai bahan baku hay; (2) Lamanya waktu pengeringan. Semakin lama waktu pengringan maka makin tinggi tingkat kerusakan kandungan nutrien produk olahan (karoten, pro vit-A dan protein); (3) Lamanya penyimpanan dan lingkungan tempat penyimpanan, serta kadar air hay pada saat disimpan. Hay yang mengandung air lebih dari 15 % akan cepat rusak dan membusuk; (4) Cara penanganan hay selama pengangkutan.Prinsip Pembuatan Hay. Menurunkan kadar air sampai dibawah 15 % merupakan kunci kesuksesan pembuatan hay. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan bantuan panas yang berasal dari sinar matahari, panas buatan, aliran udara panas dan lain-lainnya.Proses Pengeringan, yaitu hijauan pakan yang baru dipanen pada umumnya mengandung air sejumlah 75 – 85 %. Bahan baku tersebut sebaiknya dicacah dan dikeringkan dalam waktu sesingkat mungkin namun pada suhu yang tidak terlalu tinggi, untuk menghindari terjadinya kerusakan yang berlebihan. Proses pengeringan/pembuatan hay dapat dilakukan dengan cara :pengeringan matahari, pengeringan fermentasi, pengeringan buatan dan pengeringan aliran udara panas. Lebih jelasnya proses pembuatan hay sebagai berikut :Proses pengeringan/pembuatan hay dengan : A. Pengeringan matahari : (1) Bahan baku/hijauan dicacah/dipotong-potong, diserakkan pada pelataran pengeringan; (2) Hijauan dibalik-balik setiap 1 – 2 jam; (3) Lama pengeringan 4 – 8 jam sampai kadar air hijauan mencapai 15 %. B. Pengringan fermentasi : (1) Bahan baku/hijauan dikeringkan sesaat dibawah matahari; (2) Tumpuk dan padatkan dalam gudang sehingga terjadi fermentasi secara alamiah dan akan menghasilkan panas; (3) Upayakan ada aliran udara pada tumpukan tersebut. Selanjutnya, kipas angin dapat dipergunakan untuk tujuan ini. C. Pemanasan buatan : (1) Bahan baku/hijauan dipotong-potong; (2) Masukkan dalam alat pengering/oven, atur temperatur hingga kadar air mencapai 15 %. Produk dengan proses ini kurang baik, dan membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Pengeringan dengan udara panas : (1) Hijauan diserahkan atau ditumpuk dalam gudang; (2) Aliran udara panas melalui massa bahan baku/hijauan. Produk melalui proses ini pada umumnya sangat baik.Untuk menghasilkan hay berkualitas baik, maka harus mengetahui ciri-ciri hay yang baik. Adapun ciri-ciri hay yang berkualitas baik sebagai berikut : (1) Warna hijau kekuning-kuningan; (2) Baunya cukup harum; (3) Bentuk daun masih jelas; (4) Tekstur lemas, tidak keras atau tidak mudah patah dan (4) Tidak terkontaminasi denfan bahan lain, bersih dan tidak ditumbuhi jamur. (Inang Sariati) Sumber : 1. Pedoman Teknis "Integrasi Ternak Dengan Tanaman", Direktorat Jenderal Peternakan Tahun 2009.2. https://www.google.co.id/search?q=PROSES+PEMBUATAN+HAY