Loading...

PROSES PENUMBUHAN KELOMPOKTANI SEBAGAI WADAH KERJASAMA EKONOMI

PROSES PENUMBUHAN KELOMPOKTANI SEBAGAI WADAH KERJASAMA EKONOMI
PROSES PENUMBUHAN KELOMPOKTANI SEBAGAI WADAH KERJASAMA EKONOMI Oleh : Ir. Isnaeni Penyuluh Pertanian Madya DINAS PERTANIAN KABUPATEN LUMAJANG Tahun 2019 PROSES PENUMBUHAN KELOMPOKTANI SEBAGAI WADAH KERJASAMA EKONOMI PENDAHULUAN Pada saat ini peranan Kelompoktani masih berkembang pada taraf peranannya sebagai kelas belajar mengajar, karena hampir sebagian besar interaksinya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggotanya dalam berusahatani yang lebih baik, dengan berbagai macam teknologi produksi baik dibidang on farm maupun off farm, untuk diterapkan dalam kegiatan budidaya maupun pengolahan hasil sehingga diperoleh peningkatan produktivitas dan mutu hasil usahatani. Produktivitas dan mutu hasil yang tinggi merupakan syarat pertama yang harus dilakukan petani untuk mendapatkan penerimaan (hasil penjualan) usahatani yang lebih banyak, syarat berikutnya adalah bagaimana menawarkan produksinya yang telah dihasilkan dengan susah payah dan penuh resiko itu dengan harga yang wajar, akan tetapi pada umumnya petani pada tahap ini berada pada posisi yang sangat lemah, kebanyakan petani begitu saja menyerahkan hasilnya kepada pembeli yang pada umumnya merupakan pedagang-pedagang pengumpul itu dengan harga seadanya sesuai yang terjadi pada umumnya hari itu, kelompoktani sebagai kelembagaan yang telah mengantarkan petani untuk mendapatkan produktivitas dan mutu hasil yang tinggipun tak berdaya untuk membantu anggotanya menerima harga yang lebih tinggi. Bahkan ketika pada suatu saat kelompoktani sebagai organisasi petani, bertemu dengan mitra usahanya, eksportir maupun pabrikan yang membutuhkan barang dengan harga yang lebih tinggi, pada umumnya pengurus kelompoktani belum siap menjawab pertanyaan yang sangat sederhana sekalipun seperti “Anda memproduksi apa, berapa yang Anda punya, serta Anda minta harga berapa” kalaupun toh dijawab biasanya jawaban yang disampaikan adalah kapasitas produksinya sendiri sebagai individu-individu sehingga volumenya sangat kecil, karenanya para eksportir maupun pabrikan merasa tidak efisien untuk berhubungan bisnis seperti itu dilanjutkan, mereka lebih tertarik untuk berhubungan dengan siapa saja yang mampu memasok bahan baku dengan jumlah yang lebih ekonomis dan konsisten. Dari fenomena seperti diuraikan di atas maka kedepan agar kelompoktani dapat mewujutkan tujuannya dalam meningkatkan produktivitas dan mutu hasil serta posisi tawar petani, perlu ada pergeseran peranan kelompoktani dari hanya sebagai kelas belajar harus ditingkatkan menjadi Kelompoktani Sebagai wahana kerjasama, yang mampu menghasilkan barang dan jasa dalam satu mata rantai agribisnis yang mencapai skala ekonomi. Sehubungan dengan itu, Kelompok tani perlu segera mengembangkan diri menjadi Kelembagaan Ekonomi petani produsen yang kuat sehingga dapat melaksanakan pengembangan penerapan teknologi produksi usahatani dan kegiatan ekonomi disektor hilirnya sekaligus mampu bekerjasama dengan mitra usahanya, baik untuk mendapatkan sumber pembiayaan kebun, pengolahan maupun pemasaran hasil. Faktor penentu untuk mengembangkan kelembagaan ekonomi petani yang kuat tersebut adalah bagaimana tingkat kerjasama mereka, baik kerjasama antar anggota, pengurus dengan anggota, maupun pengurus dengan mitra usahanya dalam menggunakan potensi ekonomi yang dimilikinya dalam Sistem Kebersamaan Ekonomi PRINSIP KEBERSAMAAN Kerjasama tidak serta merta selalu muncul ketika dalam suasana orang bekerjasama, kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama yang pada saat bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan melalui kerjasama. Kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama untuk saling menguntungkan dan saling melindungi serta adanya pembagian tugas yang jelas merupakan prinsip-prinsip dalam kerjasama yang efektip. Dalam perkembangan selanjutnya, adanya aturan-aturan bersama, keahlian-keahlian tertentu, diperlukan bagi mereka yang bekerjasama agar supaya rencana kerjasama yang telah disepakati dapat terlaksana dengan baik. Prinsip-prinsip kerjasama seperti tersebut harus menjadi dasar bagi upaya pemberdayaan kelompoktani, sedangkan kekompakan kelompok tergantung kepada faktor pengikat yang dapat menciptakan keakraban individu-individu yang menjadi anggota kelompok. Faktor pengikat yang paling umum biasanya adalah kesamaan perasaan yang menciptakan keakraban dalam kehidupan sehari-hari, kesamaan kepentingan , sumberdaya alam, social ekonomi, keakraban, saling mempercayai misal adanya perasaan seketurunan, sekepercayaan, sekampung dan sebagainya merupakan factor pengikat untuk keberdayaan Kelompoktani, sehingga setiap anggota dapat merasa memiliki dan menikmati manfaat sebesar-besarnya dari apa yang ada dalam kelompok. Faktor penentu lain yang sering menjadi ganjalan dalam upaya menumbuhkan kebersamaan petani adalah soal kepercayaan anggota pada kelembagaan tersebut dan pengurusnya. Tanpa ada rasa kepercayaan dari anggotanya, maka kelembagaan yang dibangun tidak akan kuat dan tidak akan berfungsi dengan baik dan berkelanjutan. Sebab itu, penumbuhan rasa kepercayaan dan keterbukaan adalah suatu proses yang tidak bisa diremehkan dalam proses pemberdayaan petani dan kelembagaannya secara keseluruhan. Penumbuhan kepercayaan tersebut bisa dilakukan dengan memfasilitasi para pengurus dan pelaksana agar kelembagaan tersebut memiliki sistem keuangan yang transparan, sehingga tidak ada lagi saling curiga antar anggota dan antara anggota dengan para pengurusnya. Karena umumnya saling curiga muncul dari masalah keuangan. Dengan keterbukaan dan kepercayaan tersebut akan tumbuh kebersamaan secara alamiah, yang dipupuk melalui kegiatan silaturahmi yang dilakukan pengurus secara terus menerus baik kepada anggotanya maupun kepada mitra usahanya sehingga tumbuh kebersamaan fisik sampai tercipta kebersamaan pola pikir. Kedua kebersamaan ini, yakni kebersamaan fisik dan kebersamaan pola pikir merupakan “ruh” yang akan akan menjadi ‘kekuatan’ beberapa individu dalam kelompok dan juga kekuatan beberapa kelompok dalam kesatuan kelompok atau ekonomi dalam format kemitraan, faktor penggerak untuk membangun “ruh kemitaraan” kepada para petani seperti ini adalah adanya keuntungan antara kedua belah pihak yg bermitra. Petani mendapatkan keuntungan dalam kemitraan ini, demikian juga mitra usahanya. Secara sederhana Wawasan Kedepan Kelompoktani Kopi untuk membangun kebersamaan tersebut dapat di gambarkan sebagai berikut : PROSES PENUMBUHAN KELOMPOKTANI SEBAGAI WADAH KERJASAMA EKONOMI PENUTUP Sebagai Penutup perlu ditegaskan kembali bahwa tujuan Pemberdayaan Kelompoktani adalah untuk mengembangan kemandirian Petani dan Kelompoktaninyanya agar dapat menggerakkan potensi ekonomi yang ada sehingga produktivitas, mutu hasil dan efisiensi usaha dapat meningkat secara berkelanjutan, ada dua aspek yang sangat strategis dalam mengembangkan kemandirian Petani dan kelompoktaninya yaitu : Pertama, aspek manajemen sumber daya manusia ( SDM ). Pembinaan SDM petani ditingkatkan dan diberdayakan, sehingga terjadi komunikasi dan interaksi diantara anggotanya sehingga tumbuh kerjasama ekonomi yang merupakan embrio tumbuhnya sendi-sendi dari bangunan koperasi. Kedua, aspek manajemen keuangan. manajemen keuangan yang efisien, transparan, sempurna dan aman, dengan pengaturan keuangan yang transparan maka akan membuat semua anggota merasa aman dan tidak saling mencurigai. Selain itu dalam sistem keuangan ini juga perlu dilengkapi dengan sistem pengendalian internal, sehingga setiap anggota manapun dapat berperan serta mengawasi. Lumajang, Maret 2019 DINAS PERTANIAN KABUPATEN LUMAJANG