Adanya pemanasan global menimbulkan adanya fenomena penyusutan radiasi sinar matahari, atau lebih dikenal dengan sebutan global dimming yang telah menjadi bahasan para ahli dan ilmuwan dunia. Teori yang berkembang menjelaskan bahwa, sinar matahari dapat membawa partikel (dalam bentuk aerosol dan sejenisnya) kembali ke angkasa. Polusi yang terjadi di atmosfer menyebabkan meningkatnya proses kondensasi pada tetes air (droplet) di udara, menjadi awan tebal yang lebih gelap dan dapat menahan serta mengurangi intensitas transmisi sinar matahari (dimming) mencapai permukaan bumi. Intergovernmental Panel on Climate Change, 2001 telah melaporkan bahwa telah terjadi perbedaan radiasi matahari yang dipantulkan dan yang diterima bumi (albedo) dari 15% menjadi 30%. Kuantitas yang sama dengan energi hilang sebesar 50 W/m2. Awan mengurangi emisi sinar infra merah sebesar 30 W/m2, sehingga pengaruh awan dalam sistem keseimbangan global telah menyebabkan kehilangan energi sebesar 20 W/m2. Bila kuantitas tersebut dibandingkan dengan pengaruh efek rumah kaca yang memicu pemanasan global sebesar 4 W/m2. Fenomena global dimming juga telah terjadi di wilayah Indonesia (Syamsudin, 2005), Berdasarkan analisis perubahan penyusutan radiasi sinar matahari yang dilakukan secara kuantitatif dengan membandingkan perubahan fluk rata-rata radiasi sinar matahari selama kurun waktu 14 tahun. Intensitas radiasi matahari pada wilayah Indonesia Tengah terjadi penurunan yang yang ditandai dengan perubahan kontur intensitas radiasi 240 W/m2 (1979) menjadi 200 W/m2 (1993). Besarnya penurunan yang terjadi selama 14 tahun tersebut sekitar 16,6, jauh lebih besar dari nilai 3% per dekade seperti di wilayah kutub selatan dan utara. Hal ini menunjukkan polusi udara dalam bentuk aerosol dan partikel sejenis lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia sangat signifikan dalam menyumbang penyusutan intensitas radiasi matahari di seluruh dunia yang berdampak sangat luas pada perubahan iklim, daur hidrologi dan bidang pertanian. Penurunan radiasi matahari yang mempengaruhi produksi pertanian Salah satu dampak dari fenomena global dimming di bidang pertanian adalah penurunan radiasi aktif photosintesis (Photosynthetically Active Radiation/PAR) langsung dan baur skala harian yang mencapai permukaan bumi. PAR merupakan Radiasi global yang digunakan oleh tanaman untuk proses photosintesis. Radiasi matahari yang ditangkap klorofil pada tanaman yang mempunyai hijau daun merupakan energi dalam proses photosintesis. Hasil photosintesis akan menjadi bahan utama dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Selain meningkatkan laju photosintesis, cahaya matahari juga mempercepat proses pembungaan dan pembuahan. Sebaliknya penurunan intensitas radiasi matahari akan memperpanjang masa pertumbuhan tanaman. Jika air cukup maka pertumbuhan pertumbuhan dan produksi tanaman hampir seluruhnya ditentukan oleh suhu dan radiasi matahari ini. Tanaman yang dipanen buah atau bijinya akan tumbuh dengan baik pada intensitas radiasi matahari yang tinggi. Pada tanaman kedelai penurunan intensitas radiasi matahari akan menurunkan hasil polong dan biji kering. Intensitas matahari yang rendah sejak penanaman dapat menurunkan hasil yang sangat besar jika dibandingkan pada fase pengisian polong. Radiasi matahari merupakan faktor penting dalam metabolisme tanaman yang berklorofil, karena itu semua produksi pertanian baik tanaman pangan maupun perkebunan dan hortikultura, sangat dipengaruhi oleh tersedianya cahaya matahari. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Agroklimat dan Hidrologi, BB Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor, 2009; Klimatologi Pengaruh Iklim Terhadap Tanah dan Tanaman, Kartasapoetra, Ance Gunarsih, Ir, 1993, Bumi Aksara, Jakarta.