Loading...

RATUN DAN SRI ADA DI FFD KECAMATAN BINUANG

RATUN DAN  SRI ADA DI FFD  KECAMATAN BINUANG
Budidaya padi Tatun masih jarang terdengar oleh petani padi di kecamatan Binuang. Padahal dengan cara ini banyak keuntungan yang didapatkan oleh petani. Budidaya padi ratun adalah cara budidaya padi dengan cara memotong rumpun/tunggul batang padi yang telah dipanen, sehingga tumbuh tunas baru dan dipelihara sampai panen lagi. Beberapa literature menyebutkan bahwa produksi dapat mencapai 70% dari hasil panen pertamanya. Kebiasaan petani selama ini adalah setelah dipanen lahan padi dibiarkan begitu saja, dan kalau pun dipanen lagi hanya memanen/menghabiskan malai-malai yang tersisa/belum dipanen sebelumnya. Memanen (bahasa banjar: mangatam) turiang begitu para petani menyebutnya. Namun hasilnya sangat-sangat rendah karena hanya mengandalkan sisa dan tidak dirawat. Hasil diskusi dengan beberapa orang petani, mereka, pengalaman mereka bahwa malai-malai turiang ini lebih pendek dan gabahnya pun lebih kecil dari sebelumnya. Berbeda dengan metode tanam SRI, metode tanam ini sudah dicoba dalam tiga tahun terakhir oleh poktan sumber mulia desa Pulau Pinang Utara dan pada dua musim tanam ini sudah dicoba oleh poktan Mekar Sari Desa Padang Sari. Petani sudah membuktikan bahwa dengan metode tanam SRI anakan padi lebih banyak, mencapai 60 anakan, dan ada peningkatan produksi dari musim tanam sebelumnya. Tetapi ketika disampaikan pad petani, banyak yang masih ragu untuk melaksanakan rekomendasi tanam model SRI. Melihat uraian singkat di atas, maka ketika rapat rencana pelaksanaan Farmer Field Day (FFD) Kecamatan Binuang, tim pelaksana menitik beratkan pada dua topic tersebut yaitu Budidaya Padi ratun dan tanam model SRI. Kegiatan dilaksanakan pada hari rabu tanggal 10 Juni 2015 dan dihadiri oleh 50 orang peserta . Diawali dengan kegiatan dilapangan/sawah percontohan milik Balai Penyuluhan kecamatan(BPK) Binuang untuk melihat dan ikut mempraktikan cara Budidaya padi ratun. Sehingga petani dapat melihat rumpun padi yang masih baik untuk padi ratun, pengairan di awal, cara pemotongan dan tinggi pemotongan. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi di aula. Dalam sesi diskusi, tim pelaksana menghadirkan bapak salian dari poktan Bunga Kemuning, Kelurahan Karangan Putih, yang pada musim tanam ini sudah melaksanakan Budidaya padi ratun. Beliau menjelaskan bahwa budidaya padi ratun sangat mudah dan murah. Modalnya hanya pupuk dan waktu untuk memotong rumpun-rumpun padi saja. Pada umur 17 hari tanaman padi nya sudah hijau, seperti tanam pertama. Perawatannya pun seperti biasanya saja, tetapi lebih mudah karena tidak perlu menyemai dan mengolah tanah lagi, tanaman padi cepat tumbuh. Pada diskusi tentang metode tanam SRI, tim kami juga menghadirkan bapak Supardi dari Poktan mekar sari Desa Padang Sari yang pada dua musim tanam terakhir sudah melaksanakan tanam model SRI. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan bahwa tanam Model SRI itu sangat mudah. dilaksanakan dan murah dari segi biaya. Terutama karena pengunaan bibit sangat jauh berkurang dari 40 kg/Ha menjadi hanya 5 kg/Ha. Kegiatan tanam lebih cepat dan anakan padi lebih banyak. Menurut beliau tanaman padi beliau yang baru berumur 30 HST anakannya sudah mencapai 60 anakan. Bapak Sakino dari poktan sumber mulia menyampaikan bahwa metode SRI yang telah dilaksanakan cukup berhasil. Hal dibuktikn oleh beliau bahwa pada hasil ubinan (2,5m x 2,5m) tanam sebelumnya dengan cara tanam yang digunakan selama ini adalah 2,6 kg sedangkan dengan metode pada tanam selanjutnya adalah SRI 4,6 kg.Hanya saja persoalan yang dihadapi adalah 1) karena bibit yang digunakan berumur 8 HSM, menjadi sasaran empuk keong mas, 2) karena tanamn kecil jadi sering tidak terlihat akibanya banyak tanam padi terinjak-injak oleh para pencari kodok sawah.Selanjutnya untuk budidaya padi ratun petani masih banyak yang mengatakan ingin mencoba tetapi masih akan melihat keadaan air. Menurut mereka, tanam ini dilakukan setelaha tanam pertama , dengan estimasi tanam pada bulan Februari maka akan panen di bulan Mei untuk padi unggul, yang menjadi kekhwaritan petani adalah ketersedian air irigasi. Pengalaman tahun ini air sawah baru ter-air-i pada bulan Januari, dan pada bulan Mei sudah banyak sawah yang tidak dapat di-air-i.FFD di Kecamatan Binuang ini kami tutup pada jam 12.00 Wita, karena tidak terasa sudah berjalan hampir tiga jam. Kegiatan diakhiri dengan makan bersama konsumsi yang telah dipersiapkan tim dan penyelesaikan administrasi peserta. Semoga dengan adanya FFD ini dapat menjadi informasi , tolak ukur, respon semua terhadap kegiatan penyuluhan dalam rangka peningkatan produksi padi dan kesejahteraan bersama..dan akan terus lebih baik lagi. Penulis: M. Aminudin, S.Pt (Penyuluh Pertanian, BPK Binuang)