Loading...

Refugia, Rumah Musuh Alami dan Sahabat Petani

Refugia, Rumah Musuh Alami dan Sahabat Petani
Refugia, Rumah Musuh Alami dan Sahabat Petani Oleh: Roaita Mustika Haryanti, S.P. BPP Kecamatan Jatirejo Ketergantungan petani Indonesia terhadap pestisida sintetis sejak refolusi hijau sangatlah tinggi. Banyak petani Indonesia beranggapan bahwa dengan aplikasi pestisida sintetis yang secara berlebihan dapat memusnahkan serangga hama lebih cepat, tanpa mereka sadari bahwasannya aplikasi pestisida sintetis yang tidak tepat dosis dapat mengakibatkan resistensi dan resusgensi terhadap serangga hama sasaran. Usaha pengendalian hama dengan menggunakan pestisida sintetis yang berlebihan dapat dikatakan suatu bentuk usaha pengendalian yang semata-mata hanya ditujukan untuk memusnahkan serangga hama, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ekologi. Oleh karena itu mulai saat ini sangat penting untuk memberikan pengetahuan terhadap masyarakat mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida sintetis dan mulai beralih ke konsep pengelolaan hama yang berwawasan ekologi, yaitu merunut kepada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) salah satunya yaitu dengan memanfaatkan tanaman refugia. Apa itu Refugia? Refugia merupakan tumbuhan (baik tanaman ataupun gulma) yang tumbuh disekitar tanaman budidaya yang dapat dijadikan tempat tinggal maupun tempat berlindung, sebagai penyedia sumber pakan bagi musuh alami seperti parasitoid dan predator. Predator merupakan serangga yang memangsa hama pada tanaman budidaya. Sedangkan parasitoid adalah serangga yang hidup menumpang atau sebagai parasit pada serangga lain, dalam hal ini adalah serangga hama. Menurut (Pradikta, 2017) terdapat beberapa jenis tanaman yang berpotensi sebagai refugia: Tanaman hias Bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas zinnia (Zinnia peruviana), (Zinnia acerosa), (Zinnia bicolor), (Zinnia grandiflora), (Zinnia elegans), kenikir (Cosmos caudatus) dll. Gulma Gulma yang selama ini terkesan sebagai tanaman pengganggu ternyata bisa dijadikan refugia. Terutama yang berasal dari famili asteraceae seperti babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa L.), Bunga tahi ayam (Tagetes erecta). Tumbuhan liar yang ditanam atau yang tumbuh sendiri di areal pertanaman Tumbuhan liar yang sengaja ditanam atau tumbuh dengan sendirinya di area pertanaman antara lain, bunga legetan (Synedrella nodiflora),pegagan (Centella asiatica), rumput setaria (Setaria sp.), rumput kancing ungu (Borreria repens), dankacang hias atau kacang pentoi (Arachis pentoi). Sayuran Sayuran yang berpotensi sebagai refugia sekaligus bahan pangan antara lain kacang panjang (Vigna unguiculata ssp. sesquipedalis), bayam (Amaranthus spp.), jagung (Zea mays). Tanaman yang dijadikan sebagai refugia sebaiknya dipilih yang memenuhi kriteria antara lain: Pilih tanaman yang memiliki bunga dan warna yang mencolok, Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan, Benih atau Bibit mudah diperoleh, Mudah ditanam Dapat ditumpang sarikan dengan tanaman pematang lain (Praddikta, 2017). Penanaman refugia pada area lahan pertanian merupakan suatu usaha konservasi serangga musuh alami. Tujuannya adalah membuat agroekosistem di lahan pertanian bisa terjaga. Apabila agroekosistem lahan pertanian stabil maka populasi hama akan seimbang dengan populasi musuh alami sehingga tidak akan terjadi ledakan serangan hama pada tanaman budidaya. Sumber: Pradikta, A.A. 2017. Refugia Sebagai Alternatif Pengendalian alami organisme pengganggu tumbuhan (OPT). online. https://bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/refugia-sebagai-alternatif-pengendalian-alami-organisme-pengganggu-tumbuhan-opt. Diakses 6 Juni 2019.