Oleh: Eni Suliawati,SP BPP KECAMATAN KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini petani cenderung menggunakan pestisida sintetis secara berlebihan, berharap serangan OPT segera berkurang atau musnah. Usaha pengendalian hama tersebut semata-mata hanya ditujukan untuk memusnahkan organisme pengganggu tanaman, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah ekologi seperti keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Oleh karena itu cara pengendalian hama semacam ini harus segera ditinggalkan dan beralih ke konsep pengelolaan hama yang berwawasan ekologi (Mahmud T. 2006). Kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan bahan kimia, mendorong para peneliti di bidang pertanian untuk mengembangkan teknik pengendalian OPT yang berbasis lingkungan, dan diharapkan tetap menjaga kelestarian agroekosistem di lapangan, dengan merunut kepada prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Untuk itu BPP Kebonpedes melaksanakan kerjasama dibidang pertanian dengan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyyah Sukabumi (UMMI) Sukabumi baik dibidang penelitian,praktek perlindungan tanaman,agripreneur,metoda pemberdayaan masyarakat,dan sport dan art agribisnis (EO). Mahasiswa dan mahasiswi tersebut melaksanakan kegiatan dan praktikum serta kuliah lapang dari beberapa mata kuliah yang telah didapatkan ditambah dengan pendampingan dari penyuluh BPP Kebonpedes. Tidak hanya dibidang pendidikan ,kerjasama dibidang pengabdian kapada masyarakatpun dilaksanakan oleh mahasiswa didampingi penyuluh pertanian bpp kebonpedes. Untuk memotivasi dan membantu kelompoktaninuntuk meningkatkan pendapatannya dengan melakukan INOVASI dalam berbudidaya, meningkatkan nilai tambah produk pertanian melalui pengolahan panen dan pasca panen. Mahasiswa dan penyuluh menumbuhkembangkan minat GENERASI MUDA dibidang pertanian melalui kegiatan Agroeduwisata Refu –Omon ( Refugia dan Feromon Sex) “PANONPOE SASAGARAN” yang memberikan pembelajaran kepada generasi muda mulai dari tingkat PAUD,SD,sampai SMA /SMK mengenai sistem budidaya dari hulu hingga hilir,sambil berwisata edukasi. PHT menitikberatkan pemanfaatan berbagai teknik pengendalian yang dikombinasikan dalam satu kesatuan program, sehingga dicapai keuntungan ekonomi yang maksimal, dan memberikan dampak yang aman bagi pekerja, konsumen dan lingkungan hidup. Secara prinsip, berbagai cara pengendalian diterapkan harus secara teknis efektif dan dapat diterapkan, secara ekonomi menguntungkan, secara ekologi aman dan secara sosial budaya dapat diterima[Prabaningrum 2015]. Pengendalian hama dengan cara bercocok tanam seperti pemanfaatan tanaman pinggir atau ada yang menyebutnya dengan tanaman perangkap, dapat mendorong stabilitas ekosistem sehingga populasi hama dapat ditekan dan berada dalam kesetimbangannya. Jenis tanaman pinggir yang dipilih harus mempunyai fungsi ganda yaitu, disamping sebagai penghalang masuknya hamake pertanaman pokok, juga sebagai tanaman refugia yang berfungsi untuk berlindung sementara dan penyedia tepung sari untuk makanan alternatif predator, jika mangsa utama populasinya rendah atau tidak ada di pertanaman pokok. Teknik bercocok tanam seperti penanaman tanaman pinggir dapat mendorong konservasi musuh alami seperti predator (Mahmud T. 2006). B. Deskripsi Tanaman Refugia dan Jenisnya Tanaman Refugia Menurut para ahli definisi refugia adalah pertanaman beberapa jenis tumbuhan yang dapat menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan atau sumberdaya yang lain bagi musuh alami seperti predator dan parasitoid ((Nentwig, 1998; Wratten et al., 1998) dalam Allifah et.al2013 dan Pertiwi 2014)). Refugia berfungsi sebagai mikrohabitat yang diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam usaha konservasi musuh alami. Letourneaua et al., (2003) dalam Allifah et.al2013 dan Pertiwi (2014), mengemukakan bahwa alternatif habitat pada agroekosistem dapat dilakukan dengan pengelolaan gulma. Hal ini akan berdampak pada dinamika serangga dan meningkatnya peluang lingkungan musuh alami dalam pengendalian hama biologis. Dengan kata lain bahwa refugia adalah tumbuhan (baik tanaman maupun gulma) yang tumbuh disekitar tanaman yang dibudidayakan, yang berpotensi sebagai mikrohabitat bagi musuh alami (baik predator maupun parasitoid), agar pelestarian musuh alami tercipta dengan baik. Bagi musuh alami, tanaman refugia ini memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai sumber nektar bagi musuh alami sebelum adanya populasi hama di pertanaman.Suatu konsep pemecahan masalah yang dapat diterapkan dalam pengendalian hama adalah dengan cara menanam tanaman yang digunakan sebagai refugia sehingga konservasi predator dapat terus terjaga (Pertiwi 2014). Jenis-jenis Tanaman Refugia Tanaman Hias. Beberapa penelitian menyebutkan jenis tanaman hias yang berpotensi sebagai refugia antara lain bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas zinnia (Zinnia peruviana), (Zinnia acerosa), C. Syarat Menanam Tanaman Refugia Tanaman yang dijadikan sebagai refugia sebaiknya dipilih yang memenuhi kriteria antara lain (Sinar Tani dan Tanpa nama, 2016) : Pilih Tanaman yang memiliki bunga dan warna mencolok Regenerasi tanaman cepat dan berkelanjutan Benih atau bibit mudah diperoleh Mudah ditanam Dapat ditumpangsarikan dengan tanaman pematang lain. D. Manfaat Menanam Tanaman Refugia Serangga musuh alami seringkali memerlukan tempat berlindung sementara sebelum menemukan inang atau mangsanya.Penanaman tanaman di pinggir lahan dapat dilakukan untuk memenuhi hal tersebut.Selain bertujuan untuk mendapatkan hasil produksi sampingan, penanaman tanaman di pinggir lahan dapat berfungsi sebagai sumber makanan bagi imago baik parasitoid maupun predator dan tempat berlindung berlindung sementara (Pujiastuti et al. 2015). Menurut Wahyuni et al.(2013), Tumbuhan berbunga yang dijadikan tanaman refugia diharapkan dapat menjadi tempat perlindungan serta sebagai penyedia pakan bagi predator dari hama tanaman padi. Makanan yang didapatkan predator dari tumbuhan berbunga adalah madu dan nektar dari bunga serta serangga hama yang bersembunyi pada tumbuhan tersebut. Menurut Norris (2005) dalam Wahyuni et. al (2013), selain dapat memperoleh madu dan nektar dari tumbuhan berbunga yang didatanginya, predator juga dapat menemukan mangsa yang bersembunyi di tumbuhan berbunga tersebut. Sehingga predator dapat dengan mudah memangsa mangsanya. Keberagaman fauna karenaadanya tanaman berbunga (refugia) akan menyebabkan terbentuknya ekosistem yang lebih stabil, yang pada gilirannya akan menjaga terjadinya keseimbangan komponen ekosistem. Kehadiran tumbuhan berbunga dengan demikian sangat penting untuk melestarikan populasi musuh alami di suatu ekosistem seperti agroekosistem (Kurniawati dan Edhi 2015). Menurut Altieri & Nichols (2004) dalam Kurniawati &Edhi (2015), manipulasi habitat dapat dilakukan denganmenanam tumbuhan berbunga (insectary plant) yangberfungsi sebagai sumber pakan, inang/mangsaalternatif, dan refugia bagi musuh alami. Tumbuhanatau gulma berbunga yang berperan penting dalamkonservasi musuh alami ini umumnya berasal darifamili Umbelliferae, Leguminosae, dan Compositae E. Hal yang Harus Diperhatikan dalam Menanam Tanaman Refugia Mengingat peran dari serangga musuh alami yang mengguntungkan untuk membantu pengendalian hama dan penyakit ini, maka perlu ada usaha konservasi musuh alami dengan menanam tanaman refugia bersamaan atau mendahului tanaman utama. Menurut Purwantiningsih et al. (2012) sebaiknya tanaman refugia ditanam sebelum tanaman utama agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat berlindung dan berkembang biak bagi musuh alami dan serangga pollinator yang berperan dalam polinasi yaitu perantara penyerbukan tanaman. Refugia cocok ditanam di pematang sawah.Diusahakan agar penanaman refugia sejajar dengan sinar matahari sehingga tidak menutupi atau mengganggu penyerapan sinar matahari bagi tanaman utama. Selain itu pengolahan lahan dan pemupukan yang tepat sangat dianjurkan agar tanaman refugia tumbuh sesuai yang diharapkan (Tanpa nama 2016). F. Penerapan Tanaman Refugia Berdasarkan penelitian Pujiastuti et al. (2015), penggunaan tanaman refugia berupa tanaman kacang panjang dan jagung pada plot tanaman padi pasang surut menunjukkan kelimpahan jumlah serangga herbivora yang di dapat pada subplot dengan tanaman refugia lebih rendah dibandingkan dengan tanaman padi yang tanpa refugia, baik pada vase vegetatif dan generatif. Menurut Wahyuni et. al(2013), tumbuhan berbunga yang secara alami berada pada pertanaman padi lahan konvensional di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, yaitu Alternanthera philoxeroides, Alternanthera sessilis, Eclipta prostrate (orang aring). Sedangkan tumbuhan berbunga Ruellia malacosperma, Cosmos caudatus(kenikir), Wedelia trilobata, Impatiens balsamina(pacar air), Euphorbia milii dan Arachis hypogaea(kacang tanah), merupakan tumbuhan berbunga yang ditanam oleh petani di pertanaman padi organik.Tumbuhan berbunga yang paling beragam didatangi predator pada fase vegetatif di lahan organik yaitu Alteranthera sessilis.Serangga predator yang mendatangi tumbuhan berbunga ini berasal dari famili Pentatomidae, Gryllidae, Oxyopidae dan Formicidae.SedangkanAlternanthera philoxeroides pada fase vegetatif memiliki tingkat keragaman predator tertinggi di lahan konvensional.Predator yang mendatangi tumbuhan ini yaitu berasal dari famili Coccinelidae, Dolichopodidae, Reduviidae dan Oxyopidae. Jumlah hama di lahan padi konvensional lebih tinggi dibandingkan jumlah predator di lahan tersebut. Sedangkan jumlah hama di lahan organik lebih rendah dari predatornya. Tingginya jumlah predator pada lahan organik ini dikarenakan lahan organik memiliki keragaman tumbuhan berbunga yang lebih tinggi dibandingkan keragaman tumbuhan berbunga lahan konvensional.Predator mendatangi tumbuhan berbunga untuk berlindung maupun mendapatkan makanan (Wahyuni et. al 2013). Demikianlah artikel ini disusun semoga bermanfaat untuk semua nya baik untuk mahasiswa, penyuluh, kelompoktani khususnya dan masyarakat pada umumnya. Daftar Pustaka [Allifah et.al2013] Allifah AF.AN.; Bagyo Yanuwiadi; Zulfaidah Panata Gama; Amin Setyo Laksono.Refugia sebagai microhabitat untuk meningkatkan peran musuh alami di lahan pertanian.Prosiding FMIPA Universitas Pattimura 2013.ISBN : 978-602-97522-0-5. Jurusan Biologi. Fakultas MIPA. Universitas Brawijaya Malang. [Aqilah 2016] Aqilah, A.R. 2016. Pengaruh Tanaman Refugia dalam Meningkatkan Populasi dan Diversitas Musuh Alami Wereng Batang Cokelat.Yogyakarta. Universitas Gajah Mada. [Astuti 2013] Astuti, U.P.; Tri Wahyuni; Bunaiyah Honorita. 2013. Petunjuk Teknis Pembuatan Pestisida Nabati. Bengkulu. Balai Pengkajian Teknologi Bengkulu.