Loading...

REHABILITASI TANAMAN JAMBU METE

REHABILITASI TANAMAN JAMBU METE
REHABILITASI TANAMAN JAMBU METEBerdasarkan sejarah pengembangannya di Indonesia, penanaman jambu mete dapat dikelompokan menjadi dua kategori. Pertama,kelompok tanaman jambu mete yang penanamannya untuk tujuan konservasi atau penghijauan lahan kritis (marginal) pada tahun 1970 an, yang dicirikan oleh penggunaan jarak tanam rapat (2 m x 3 m; 4 m x 4 m) atau populasi tanaman per satuan luas tinggi. Kondisi pertanaman jambu mete demikian, banyak dijumpai di beberapa daerah pengembangan seperti kabupaten Muna provinsi Sultra dan Daerah Istimewa Yogyakarta serta daerah lainnya. Kelompok tanaman jambu mete ini sebagian besar telah berumur lebih dari 30 tahun. Kedua, kelompok tanaman jambu mete yang dikembangkan untuk tujuan produksi, yaitu ditanam sebagai sumber pendapatan petani. Kelompok tanaman jambu mete ini dikembangkan setelah tahun 1980 an, baik yang pengembangannya diinisiasi melalui proyek pemerintah maupun swadaya masyarakat. Jarak tanam yang digunakan umumnya lebih lebar dan teratur. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa meskipun telah menggunakan jarak tanam yang relatif lebar, bervariasi 6 m x 6 m, 7 m x 7 m atau kombinasinya, tetapi setelah berumur lebih dari 9 – 10 tahun kondisi pertanaman jambu mete tampak terlalu rapat. Akibatnya, produktivitas tanaman jambu mete mulai menurun. Sistem percabangan dan ranting yang terbentuk mulai berkurang atau mati karena pencahayaan matahari rendah. Ketika tanaman masih muda, yaitu sebelum mencapai umur tanaman 5 - 6 tahun, petani biasanya memanfaatkan lahan di antara pohon mete dengan menanam tanaman sela seperti padi gogo, jagung, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar dan wijen. Setelah kanopi (tajuk) tanaman jambu mete bersinggungan (overlap), dan jumlah cahaya matahari yang masuk di bawah tajuk mulai berkurang, maka lahan (ruang) diantara pohon jambu mete tidak bisa ditanami tanaman sela lagi. Dengan kata lain, tanaman jambu mete pada akhirnya diusahakan secara monokultur. Dengan bertambahnya umur tanaman, jarak tanam menjadi rapat. Akibatnya, produktivitas jambu mete mulai menurun dari tahun ke tahun.Untuk itu, dalam manajemen kebun diperlukan upaya ke arah perbaikan atau rehabilitasi untuk memperbaiki produktivitas tanaman, baik melalui pemangkasan atau penjarangan (Zaubin, et al, 2004). Bahkan tindakan penebangan dan/penggantian dengan tanaman baru yang mempunyai potensi genetik produksi tinggi (Suryadi dan Zaubin, 1999) mungkin tidak dapat dihindari apabila kedua cara tersebut tidak ekonomis. PEREMAJAANPada kondisi kebun jambu mete yang sebagian besar tanamannya mati atau rusak berat dan jarak tanam tidak beraturan, maka tempat (lobang tanam) yang kosong sebaiknya disulam atau diganti tanaman baru dengan mutu genetik unggul (potensi produksi tinggi). Yang perlu diperhatikan, tanaman sulaman (baru) tidak terganggu oleh tanaman lama yang ada, terutama dalam hal penerimaan sinar matahari.Tindakan peremajaan diperlukan apabila kondisi tanaman secara ekonomis sudah tidak menguntungkan lagi atau produksinya sangat rendah.Kondisi kebun jambu mete yang dianggap rusak tidak hanya banyak dijumpai pada areal pertanaman jambu mete bekas tanaman reboisasi yang sudah tua tetapi juga pada tanaman mete produksi yang tidak dipelihara dengan baik KESIMPULANPenanaman jambu mete saat ini telah bergeser lebih ke arah alasan ekonomi atau sumber pendapatan dari pada untuk konservasi lahan. Harga kacang atau gelondong mete yang mahal dan cenderung meningkat telah mendorong petani mengembangkan tanaman tersebut secara swadaya. Sentra produksi jambu mete Indonesia adalah Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, yang menghasilkan sekitar 90 % jambu mete Indonesia. Namun, produktivitasnya dianggap masih rendah, jauh dibawah produktivitas yang dicapai oleh negara penghasil utama jambu mete lain. Banyak faktor yang diperkirakan menjadi penyebab rendahnya produktivitas jambu mete Indonesia, termasuk semakin meningkatnya luas areal tanaman jambu mete yang rusak karena berbagai sebab, dan perlu direhabilitasi. Rehabilitasi kebun (tanaman) jambu mete dapat ditempuh melalui penjarangan dan bahkan penggantian dengan tanaman baru. Agar kesehatan tanaman segera pulih, maka perlu disertai dengan penerapan manajemen kebun yang baik seperti pemupukan dan penanggulangan hama dan penyakit yang baik. Penulis, NursalimNursalimsp777@gmail.comAdmin Cyber Ektension Bp3k KontunagaSumber : Usman Daras dan Bambang Eka Tjahjana, TEKNOLOGI REHABILITASI PADA TANAMAN JAMBU METE. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri Jalan Raya Pakuwon km 2 Parungkuda, Sukabumi 43357balittri@gmail.comZaubin, R., R. Suryadi dan YT. Yuhono. 1999. Diversifikasi produk dan rehabilitasi perkebunan jambu mete untuk meningkatkan pendapatan petani. Jurnal Litbang pertanian 23 (2): 53 – 60Zaubin, R., dan R. Suryadi. 2004. Demonstrasi Plot Pemangkasan tanaman jambu mete.Laporan Kerjasama Proyek P2RWTI/EISCDP-IFAD. Direktorat Jenderal Perkebunan dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor (Unpublished).