Loading...

SEDERHANA MEMBUAT GULA SEMUT “SRIKANDI” MENIGKATKAN PENDAPATAN ANGGOTA KWT PUTRI HANDAYANI PEKON SIDOKATON KEC GISTING

SEDERHANA MEMBUAT GULA SEMUT  “SRIKANDI” MENIGKATKAN PENDAPATAN ANGGOTA  KWT PUTRI HANDAYANI PEKON SIDOKATON KEC GISTING
Gula aren atau Gula merah adalah pemanis yang dibuat dari nira yang berasal dari tandan bunga jantan pohon enau. Bunga jantan pohon enau yang dikumpulkan terlebih dahulu dalam sebuah bumbung bambu. Untuk mencegah nira mengalami peragian maka ke dalam bumbung bambu tersebut ditambahkan larutan kapur ingjet yang berfungsi sebagai pengawet alami. Setelah jumlahnya cukup, nira direbus di atas tungku dalam sebuah wajan besar. Kayu terbaik untuk memasak gula aren berasal dari batang kayu kopi. Karena kalori ini lebih tinggi dari kayu bakar biasa maka proses memasaknya juga lebih cepat. Sekalipun demikian, api tidak juga boleh terlalu besar. Kalau ini terjadi gula akan hangus, rasanya akan pahit dan warnanya menjadi hitam. Gula aren sudah terbentuk bila nira menjadi pekat, berat ketika diaduk dan kalau diciduk dari wajan dan dituangkan kembali adukan akan putus-putus. Dan kalau tuangkan ke dalam air dingin, cairan pekat ini akan membentuk benang yang tidak putus-putus.Kalau sudah begitu, adonan diangkat dari tungku dan dicetak dengan cetakan bambu seberat 100 gram percetakan. Inilah kegiatan keseharian dari salah satu anggota dari KWT Putri Handayani Pekon Sidokaton Kecamatan Gisting yang berada di daerah lereng gunung Tanggamus Kabupaten Tanggamus, ibu Indun Juariyah dalam membantu suami membantu perekonomian keluarga. Gula aren yang sudah dicetak dikemas diplastik berukuran 500 gram per kemasan. Setelah pengemasan selesai gula aren siap dijual ke penampung. Namun tidak cukup sampai disini, permasalahan timbul ketika kualitas nira aren kurang baik karena musim penghujan sehingga harga beli penampung rendah bahkan gula aren dikembalikan karena gula aren mudah mencair.atau produksi gula aren di pekon Sidokaton cukup tinggi. Teknologi sangat sederhana dalam pembuatan gula semut yang ajarkan penyuluh kepada KWT Putri Handayani Pekon Sidokaton disambut baik oleh ibu Indun untuk mengatasi permasalahan yang menimpa industri rumah tangga (IRT) gula aren ini. Gula semut merupakan gula merah versi bubuk dan sering pula disebut orang sebagai Gula Kristal. Dinamakan gula semut karena bentuk gula ini mirip rumah semut yang bersarang di tanah. Permintaan akan gula semut terus meningkat dari waktu ke waktu. Selain daya simpan yang lama karena kadar air yang sangat rendah, efisiensi juga menjadi alasan permintaan konsumen mendapatkan kepraktisan dari menkonsumsi gula semut dibandingkan dengan menggunakan gula merah biasa. Konsekuensi dari tingginya permintaan konsumen maka harga jual gula semut pun relatif lebih tinggi dari pada harga jual gula merah biasa. Pembuatan gula semut pada awalnya sama dengan pembuatan gula merah biasa, namun perbedaannya ketika nira menjadi pekat wajan harus diangkat dari tungku. Setelah itu, adonan diaduk-aduk terus hingga adonan hancur sampai menjadi pasir dan kering. Untuk mendapatkan kualitas gula semut yang baik diperlukan pengayakan agar ukuran bubuk seragam. Untuk mengurangi kadar air diperlukan penjemuran langsung dibawah sinar matahari. Terakhir adalah pengemasan gula semut dengan kemasan plastik yang menarik untuk menambah nilai jual. Harga jual eceran gula semut di tingkat produsen IRT Pekon Sidokaton saat ini mencapai Rp. 40.000,- hingga Rp. 60.000,- per kilogram. Marjin yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan penjualan gula merah biasa yang berada di level harga Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- per kilo gram. Penjualan gula semut produksi KWT Putri Handayani Pekon Sidokaton Kecamatan Gisting hingga sekarang tidak hanya dijual pada konsumen lokal melainkan konsumen di luar daerah. Disajikan olehTISNA MUNAJAT, S.KHTHL TBPP Kecamatan Gisting, Tanggamus