Konsep Sekolah Lapang bukanlah hal baru di bidang pertanian Indonesia. Sekolah Lapang mengajak petani untuk belajar langsung di sawah, mengamati masalah dan penyebabnya, serta menganalisis perkembangan tanaman mereka. Pelaksanaan sekolah lapang selama bertahun-tahun di berbagai daerah di Indonesia dinilai berperan besar dalam membantu petani menekan penggunaan pestisida dan meningkatkan hasil panen. Tujuan kegiatan Sekolah Lapang (SL) adalah : Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam melakukan kegiatan budidaya dan pengelolaan usahatani; Meningkatkan kemampuan dan kesadaran petani dalam memanfaatkan lahan usahataninya secara produktif; Meningkatkan kepercayaan diri petani dalam mengadopsi praktek-praktek budidaya dan pengelolaan usahatani yang lebih baik dan Membangun kemandirian petani dalam pengelolaan proses pembelajaran dari, oleh, dan untuk petani Sekolah Lapang IPDMIP (Integrated Participactory Development and Management Irrigation Project) dilaksanakan di Desa Pante Baro Kumbang Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Kabupaten Bireuen dengan mengangkat tema pokok “Sosialisasi Budidaya Tanamam Padi”. Sebagai perwujudannya, sekolah lapang IPDMIP turut hadir Kepala BPP Kecamatan Peusangan Siblah Krueng Armia,SP, Ka BPP Safrizal, SP, Dahlianti, SP sebagai PPL desa tersebut, Miswaruddin dari bidang Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman dan Nurlaili dari TPM IPDMIP. Sedangkan dari Kelompok Tani turut Hadir Mahdi Ismail sebagai Ketua Kelompok Tani Tgk Diseunong Desa Pante Baro Kumbang beserta bapak ibu tani. Pada pelaksanaannya, sekolah lapang meliputi tiga tahap, yaitu penguatan teori, kunjungan lapangan, dan evaluasi. Penguatan teori dilakukan dengan 2 cara, yaitu: 1) cara peneliti ke petani, yakni dengan mengundang para ahli komoditas untuk berbagi informasi-informasi terbaru kepada petani; 2) cara petani ke petani, di mana petani yang mengikuti kegiatan peneliti ke petani berbagi informasi kepada petani lain yang tidak menghadiri kegiatan tersebut. Setelahnya, tahap kunjungan lapang dilakukan dengan bertandang ke sawah petani, sementara evaluasi digelar dengan menggali informasi ke petani guna mengetahui dan merencanakan tindak lanjut dari sekolah lapang. Pembahasan materi tidak hanya dilakukan melalui sesi presentasi di dalam ruangan, namun juga lewat praktik ke sawah untuk menerapkan langsung ilmu yang didapat.