Loading...

SEKOLAH LAPANGAN PETANI

SEKOLAH LAPANGAN PETANI
Tulisan ini mengangkat studi kasus di Indonesia dalam pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) di Indonesia, tepatnya di Desa Rejomulyo, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada tahun 1991 - 1992. Studi kasus ini mengamati proses pembelajaran petani yang dilaksanakan seminggu sekali pada beberapa unit SL-PHT, baik yang diikuti oleh 25 orang eksklusif perempuan, campuran laki-laki dan perempuan, maupun oleh 25 orang eksklusif laki-laki. Hasil studi menemukan bahwa sekolah lapangan petani merupakan salah satu model pembelajaran petani yang efektif dalam rangka merubah pengetahuan, keterampilan dan perilaku petani ke arah yang diinginkan. Sekolah lapangan sebagai model pembelajaran petaniSekolah lapangan petani pertama kali ditemukan sebagai model pembelajaran yang efektif dalam membekali petani padi mengendalikan hama dengan pendekatan terpadu melalui SL-PHT. Pendekatan yang diterapkan dalam SL-PHT adalah pendekatan pembelajaran orang dewasa (experiential learning cycle) sederhana yang meliputi pemanasan (ice breaker), pengamatan lapangan, diskusi dan pembulatan. Proses belajar dalam sekolah lapangan tersebut berlangsung santai, menggunakan bahasa lokal dan peserta belajar dibagi atas kelompok-kelompok kecil. Para peserta terlibat secara aktif dalam mengidentifikasi masalah; mengamati kondisi lapangan; mengumpulkan data, membuat catatan, menganalisis, menyimpulkan; dan menyajikan hasil pengamatan sebagai bahan dikusi dalam kelompok yang lebih besar. Pada awalnya fasilitator SL-PHT adalah petugas dari Direktorat Perlindungan Tanaman yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan mengenai pengendalian hama terpadu pada padi selama empat bulan. Selain fasilitator, juga ada pemandu lapangan dan Penyuluh Pertanian yang bertanggungjawab terhadap kegiatan penyuluhan di wilayah kerja setempat. Pemandu lapangan berperan untuk memberi dukungan terhadap fasilitator dan mensupervisi sekitar delapan fasilitator; sementara Penyuluh Pertanian membantu pelaksanaan identifikasi lokasi dan pengorganisasian awal SL-PHT.Hasil evaluasi proses pembelajaranBerdasarkan evaluasi terhadap proses pembelajaran dalam SL-PHT, studi kasus tersebut menyimpulkan beberapa hal terkait sebagai berikut:1. Proses pembelajaran, kelompoktani merasa senang dengan pendekatan yang diterapkan, sehingga banyak diantara peserta apabila berhalangan hadir merasa bersedih. Kondisi ini berbeda dengan proses penyuluhan biasa yang sering kali dinilai "membosankan";2. Hubungan fasilitator-peserta, hubungan diantara fasilitator dengan peserta bersifat tidak formal dan tidak didominasi oleh fasilitator, namun berlangsung secara lebih natural sebagaimana hubungan antarmanusia (kemitraan);3. Tujuan pembelajaran, peserta menilai bahwa tujuan pembelajaran tidaklah sebatas meningkatkan pengetahuan serta memperoleh sertifikat, namun lebih jauh untuk merubah "nasib" petani. Perubahan dalam teknik budidaya diyakini akan mampu mengubah kondisi ekonomi dan sosial petani; 4. Lingkungan belajar, peserta merasa bahwa hadir dalam sekolah lapangan membantu mereka memecahkan sebagian dari masalah yang dihadapi, sehingga mereka menyenangi suasana belajar yang ada;5. Evaluasi kegiatan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan oleh fasilitator setiap minggunya dan dimaksudkan tidak hanya untuk mengevaluasi aktivitas peserta saja, namun juga memperbaiki kinerja fasilitator dan peserta, kurikulum, serta proses belajar;6. Kurikulum, sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari peserta, karena memang dirancang agar sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan penting oleh peserta. Mereka menilai bahwa kurikulum yang dibuat memberi manfaat dan meyakini bahwa tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dampak proses pembelajaranStudi kasus ini juga mengungkapkan pelaksanaan SL-PHT memberi dampak positif terhadap tumbuhkembangnya rasa percaya diri peserta dan kesadaran akan pentingnya pelestarian fungsi lingkungan hidup untuk kesinambungan usahatani. Menyadari efek buruk penggunaan pestisida, mereka menjadi pengguna yang rasional, yaitu hanya menngunakan apabila diperlukan saja, tergantung kepada hasil pengamatan dan analisis kondisi lapangan. Keterampilan berdiskusi yang pada umumnya dimiliki oleh petugas atau lulusan perguruan tinggi, kini dimiliki pula oleh para alumni SL-PHT. Diskusi menjadi aktivitas sehari-hari; mereka mampu mengaktualisasikan gagasan secara logis bahkan di depan kumpulan banyak orang. Petani alumni SL-PHT mampu menjadi peneliti di lahannya sendiri, karena selama mengikuti SL-PHT mereka belajar menerapkan pendekatan penelitian yang logis. Mereka juga terampil melakukan percobaan, baik di rumah maupun di lapangan. Hal-hal ini mendorong petani untuk bersikap kritis dan tidak menerima sesuatu yang baru tanpa mengujinya terlebih dahulu.Proses pembelajaran yang ditempuh selama mengikuti SL-PHT berhasil membawa petani memahami isu-isu yang berkaitan dengan organisasi, pengambilan keputusan, peningkatan pengetahuan, perlindungan lingkungan dan pengembangan ekonomi. Melalui SL-PHT ternyata petani tidak hanya belajar mengenai hama, namun lebih dari itu, petani belajar melakukan gerakan yang memungkinkan petani melakukan kontrol dan penguasaan atas kehidupannya. Dalam konteks ini, penguasaan pengetahuan merupakan inti dari upaya pemberdayaan. Melalui mekanisme pengorganisasian sekolah lapangan, petani belajar untuk melaksanakan proses pembelajaran, pengkajian dan pengambilan keputusan (tindakan), sehingga proses transformasi melalui sekolah lapangan berlangsung secara berkelanjutan. Walaupun SL-PHT telah berakhir, namun petani telah menjadi terbiasa untuk selalu melakukan kaji tindak (action research) Sumber informasi:Anonim. 1993. IPM Farmer Training: The Indonesian Case. Yogyakarta: FAO – IPM SecretariatePenulis : Ir. Diana. P, M.Si