Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tumpang sari yang umum dilakukan adalah penanaman dalam waktu yang hampir bersamaan untuk dua jenis budidaya yang sama. Seperti Jagung dan kedelai, atau jagung dan kacang tanah. Dalam kepustakaan, hal ini dikenal sebagai double-cropping. Penanaman yang dilakukan segera setelah tanaman pertama dipanen (seperti jagung dan kedelai atau jagung dan kacang panjang) dikenal sebagai tumpang gilir (relay cropping). Tumpang sari dapat pula dilakukan pada penanaman tunggal (monokultur) suatu tanaman perkebunan besar atau tanaman kehutanan sewaktu tanaman pokok masih kecil atau belum produktif. Hal ini dikenal sebagai tumpangsela (intercropping). Jagung atau kedelai biasanya adalah tanaman sela yang dipilih. Secara umum ada 3 jenis pola tanam “Polykultur” yang dikenal antara lain ;1. SistemTumpang SariTupangsari adalah suatu bentuk sistem pola tanam polykultur (campuran) yang melibatkan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Jenis – jenis tanaman yang ditanam dengan sistem tumpang sari biasanya adalah tanaman semusim. Misalnya tumpang sari tanaman jagung dan kedelai atau tanaman jagung dengan padi gogo (padi darat). Beberapa jenis tanaman yang biasanya dibudidayakan dengan sistem tumpang sari antara lain :a). Cabe danTomat,b). Jagung dan Kacang Tanah,c). Jagung dan Kedelai,d). Tembakau dan Kubise). CabedanMentimun,f). Cabe dan Bawang Merah,g). Cabe dan Sawih). Cabe dan Daun Bawang, dll. 2. Sistem Tumpang GilirSistem tumpang gilir adalah pola tanam polykultur (campuran) antara dua jenis tanaman yang dilakukan secara bergiliran atau bergantian. Pada sistem tumpang gilir, jenis tanaman kedua ditanam beberapa saat menjelang tanaman pertama di panen atau segera setelah tanaman pertama dipanen. Pada sistem ini keuntungan yang paling menonjol adalah penghematan biaya dan tenaga pengolahan tanah. Karena biasanya pengolahan tanah hanya dilakukan sekali, yaitu sebelum penanaman jenis tanaman pertama saja. Beberapa tanaman yang biasanya dibudidayakan dengan sistem tumpang gilir adalah ;a). Jagung dan Kacang Panjang,b). Jagung dan Kacang Koro,c). Cabe dan Kacang Panjangd). Cabe dan Mentimun,e). Melon dan Kacang Panjang, atauf). Melon dan Buncis, dll. 3. Sistem Tumpang SelaSistem Tumpang sela adalah suatu bentuk pola tanam polykultur (campuran) yang dilakukan antara jenis tanaman semusim dengan tanaman tahunan. Sistem ini biasanya dilakukan pada tanaman perkebunan atau tanaman kehutanan, misalnya perkebunan kelapa sawit, karet atau jati. Pada sistem ini tanaman semusim ditanam sewaktu tanaman tahunan masih kecil dan belum produktif. Beberapa jenis tanaman yang biasanya dilakukan dengan sistem tumpang sela antara lain ;a). Kelapa Sawit dan Padi, Jagung, Kedelai atau Kacang Tanah, b). Karet Dan Padi, Jagung atau Kedelai ,c). Jeruk dan Jagung, d). Kelapa Sawit dan Cabe, e). Kelapa Sawit dan Semangka atau Melon, atauf). Tanaman Perkebunan dengan berbagai jenis tanaman semusim lainnya sesuai dengan selera petani dan kondisi setempat.Untuk yang dilakukan di wilayah binaan kami di lahan H. Modessir (DesaGiliTimur, Poktan Al-Muchlisin) dilakukan system tumpang sari tiga jenis tanaman, yaitu jagung, kacang panjang dan timun. Pola penanaman tumpang sari dapat memaksimalkan lahan dibandingkan pola monokultur karena: 1. Hasil panen pada lahan tidak luas bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenis tanaman berbeda,2. Petani mendapat hasil jual yang saling menguntungkan atau menggantikan dari tiap jenis tanaman berbeda dan,3. Risiko kerugian dapat ditekan karena terbagi pada setiap tanaman.Penggunaan pupuk majemuk dalam tumpang sari lebih menguntungkan karena: • Lebih murah dibandingkan dengan pupuk tunggal dan,• Pemakaiannya sekali.Keuntungan Penerapan Pola Tanam Polykultur (Campuran)Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari sistem pola tanam polykultur, antara lain ;– Memperoleh hasil yang maksimal dengan lahan yang sempit, karena panen bisa beberapa kali dengan usia panen dan jenistanaman yang berbeda.– Hemat biaya pengolahan lahan dan perawatan.– Hemat biaya pemupukan.– Hemat waktu dan tenaga.– Mendapatkan keuntungan hasil jual yang lebih, karena setiap tanaman memiliki nilai jual yang berbeda.– Menekan resiko kerugian, karena hasil jual setiap jenis tanaman saling menguntungkan atau menggantikan.– Dengan sistem tumpang sela, tanaman perkebunan tidak atau hampir tidak memerlukan pemupukan. Karena pupuk yang diberikan pada tanaman sela semusim bisa diserap juga oleh tanaman perkebunan (Tanaman tahunan).– Tanaman perkebunan tidak memerlukan perawatankhusus, karena perawatan bisa dilakukan bersamaan dengan perawatan tanaman sela. (created by. Mufaidah, SP).