Loading...

Sistem Tanam Zigzag pada Budidaya Jagung: Peningkatan Produksi melalui Penambahan Populasi

Sistem Tanam Zigzag pada Budidaya Jagung: Peningkatan Produksi melalui Penambahan Populasi
PENDAHULUAN Tanaman Jagung merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi. Pemanfaatan komoditas jagung cukup luas, tidak hanya untuk pemenuhan pangan, jagung juga digunakan untuk bahan baku industri pakan ternak. Sebagai salah satu sentra produksi jagung di Indonesia, Provinsi lampung memiliki luas total panen pada tahun 2018 mencapai 451.665 ha dengan produksi 2.449.016 ha (Dinas TPH Lampung, 2019). Berdasarkan luas panen dan produksi, produktivitas jagung di Provinsi Lampung sekitar 5,2 t/ha. Produktivitas ini masih jauh lebih rendah dari potensi hasil. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan populasi tanaman. Akan tetapi peningkatan populasi tanaman tidak berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas karena terdapat ambang batas kerapatan yang dapat meningkatkan produksi, setelah melewati ambang tersebut, pertanaman yang terlalu rapat dapat menurunkan hasil akibat adanya kompetisi dalam penyerapan unsur hara, air, sinar matahari dan ruang tumbuh (Subandi dkk., 1988). Adanya batas toleransi tanaman terhadap persaingan unsur hara, air dan sinar matahari menjadikan dasar Badan Litbang Pertanian untuk memperbaiki sistem tanam pada budidaya jagung. Teknologi sistem tanam zig-zag merupakan alternatif teknologi dalam upaya meningkatkan populasi tanaman tanpa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. KEUNGGULAN TEKNOLOGI Keunggulan utama penggunaan teknologi sistem tanam Zig-Zag pada budidaya jagung adalah meningkatkan populasi tanaman mencapai 80% tanpa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga mampu meningkatkan produksi 30-40%. Jarak tanam pada sistem tanam Zig-Zag diatur sedemikian rupa sehingga kerapatan tanaman tidak mengganggu penyerapan sinar matahari yang dibutuhkan pada proses fotosintesis. Selain itu, penerapan sistem tanam zigzag relatif mudah tidak memerlukan teknologi yang kompleks dan keahlian khusus. Sedangkan kemungkinan kendala yang akan dihadapi dalam penerapan sistem tanam zigzag adalah penambahan biaya tanam dan pupuk. RAKITAN KOMPONEN INOVASI TEKNOLOGI Secara garis besar, terdapat dua komponen teknologi yang berbeda dibandingkan dengan budidaya dengan sistem tanam konvensional yaitu sistem tanam dan dosis pemupukan. Sistem Tanam Jarak Tanam Berdasarkan tingkat kesuburan lahan, terdapat 2 (dua) jarak tanam yang disarankan yaitu 35x17,5x75 cm dan 25x12,5x75 cm. Pada lahan yang kurang subur, gunakan jarak tanam yang lebih rapat yaitu 25x12,5x75 cm. Sedangkan untuk lahan yang subur, gunakan jarak tanam yang lebih lebar yaitu 35x17,5x75 cm. Maksud jarak tanam ini adalah 35 atau 25 cm dalam barisan, 75 cm antar barisan inti dan 17,5 atau 12,5 cm jarak antar barisan inti dan barisan zigzag. Dengan menggunakan jarak tanam ini, populasi tanaman sekitar 76.000-100.000 batang. Cara Tanam Sistem tanam yang umum dilakukan petani adalah sistem tanam lurus yaitu dengan cara membuat lobang tanam sama rata sehingga membentuk empat persegi panjang. Hal yang berbeda dengan sistem tanam zigzag, pada sistem tanam ini lubang tanam antar barisan sama rata diujung pinggir sesuai dengan jarak tanamnya, selanjutnya dalam barisan sama (sesuai dengan jarak tanamnya). Kemudian, dengan jarak setengah jarak dalam barisan, dibuat barisan tanam baru. Lubang tanam dimulai menjorok kearah dalam setengah jarak antar barisan. Setelah itu, penanaman dalam barisan sesuai dengan jarak tanam. Dosis Pemupukan Mengingat populasi tanaman pada sistem tanam Zig-zag lebih tinggi daripada sistem tanam konvensional, penambahan dosis pupuk harus dilakukan untuk menghindari terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pupuk yang diberikan adalah NPK 400 kg/ha, Urea 350 kg/ha, SP36 350 kg/ha, Dolomit 1000 kg/ha dan Pupuk Kandang 2000 kg/ha. Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BPTP Lampung) Sumber: dari berbagai sumber