Lahan pegunungan adalah lahan pertanian dan kehutanan pada ketinggian > 350 m diatas permukaan air laut (dpl). Zona sistem usaha tani (SUT) konservasi atau wanatani beriklim basah (curah hujan > 1.500 m mm/tahun) dan beriklim kering (curah hujan Memberikan keuntungan Hampir separuh (45%) wilayah Indonesia adalah daerah perbukitan dan pegunungan yang dicirikan dengan topo-fisiografi yang sangat beragam sehingga pengembangan budidaya pertanian di lahan pegunungan memiliki posisi strategis dalam pembangunan pertanian nasional, karena selain memberikan manfaat bagi jutaan petani, lahan pegunungan juga berperan penting dalam menjaga fungsi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) dan penyangga daerah di bawahnya.Berbagai tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, tanaman pangan dan ternak dihasilkan di lahan pegunungan. Sebagian besar tanaman sayur-sayuran dan bunga-bungan dihasilkan ditanah Andisol (tanah yang terbentuk dari bahan volkanik) dengan elevasi (ketinggian) berkisar antara 350-1.500 meter diatas permukaan laut (dpl). Tanaman perkebunan seperti kopi, teh, kina dan berbagai jenis buah-buahan juga banyak diproduksi di lahan pegunungan. Lahan pegunungan yang merupakan hulu DAS juga berperan penting dalam menjaga tata air DAS itu sendiri, mempertahankan keanekaragaman hayati, mengendalikan erosi dan menambah karbon di atmosfir sehingga mengurangi pemanasan global. Bila budidaya pertanian di wilayah pegunungan dikelola dengan baik, dapat memberikan keuntungan langsung kepada petani disamping menghasilkan berbagai jasa yang dibutuhkan masyarakat pada umumnya, antara lain sebagai obyek wisata agro, penyedia lapangan kerja, penggalang ketahanan pangan, dan penyedia berbagai fungsi lingkungan seperti pengendali erosi dan longsor, penghasil oksigen, dan pengatur tata air DAS. Walaupun berpeluang untuk budidaya pertanian, lahan pegunungan rentan terhadap longsor dan erosi, karena tingkat kemiringannya, curah hujan relative tinggi dan tanah tidak stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam banjir dan lonsor makin meningkat, baik daya rusak maupun intensitasnya. Bencana tersebut telah menimbulkan banyak korban manusia, harta, lahan pertanian, infrastruktur dan sebagainya. Degradasi lahan juga makin meningkat dan meluas, terutama akibat tingginya tingkat erosi tanah, khususnya di daerah pegunungan. Penerapan Sistem Usahatani KonservasiMengacu Pementan Nomor : 47/Permentan/OT.140/10/2006, budidaya pertanian pada lahan pegunungan yang sesuai dengan kondisi alam, seyogyanya menerapkan sistem usahatani (SUT) konservasi yang tepat. SUT konservasi mengintegrasikan dan mensinergikan tanaman di bidang olah, tanaman penguat bibir teras dan ternak ruminansia kecil atau besar yang dikandangkan. Integrasi dan sinergi tersebut harus menguntungkan petani. Ada tiga komponen teknologi SUT konservasi dari sisi tanaman yaitu dengan: 1) pengaturan pola tanam pada bidang olah; 2) peningkatan kesuburan tanah; dan ketersediaan air; dan 3) sistem wanatani.1. Pengaturan pola tanam pada bidang olah ini bertujuan untuk memaksimalkan penutupan lahan, untuk mengurangi daya pukul butiran hujan langsung ke permukaan tanah. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan pola tanam ini adalah iklim, tingkat kesuburan tanah, ketersediaan tenaga kerja dan permintaan pasar. Faktor iklim yang paling penting adalah curah hujan, terutama jumlah bulan basah dengan curah hujan > 200 mm, jumlah bulan kering dengan curah hujan Ada dua pola tanam yang dapat digunakan yaitu tumpang gilir dan tumpang sari. Tumpang gilir ( relay cropping) adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. Tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman. Sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua, sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup. Tumpang sari (tanam bersisipan), adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan, dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperti : gogo + jagung - jagung + kacang tanah. Pada musim pertama di awal musim hujan, padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Pada musim tanam kedua (musim kemarau) jagung ditumpangsarikan dengan kacang tanah. 2. Peningkatan kesuburan tanah dan Ketersediaan air. Lahan pertanian di pegunungan yang berlereng dapat mengalami kemunduran kesuburan tanah apabila dibudidayakan tanpa memperhatikan kaedah konservasi. Kesuburannya dapat dikembalikan dengan pemupukan bahan organik berupa sisa-sisa tanaman atau pupuk hijau. Selanjutnya peningkatan kesuburan tanah dapat dilakukan pula dengan menanam tanaman penutup tanah yang umumnya menggunakan tanaman jenis legume menjalar yang ditanam diantara tanaman tahunan, secara bergilir dengan tanaman semusim atau tanaman tahunan dan sebagai tanaman pemula (pioneer) untuk rehabilitasi lahan kritis. Kita kenal berbagai tanaman legume seperti stilo (Stylosanthes sp.), sentro (Centrosema sp.) kalopo (Calopogonium sp), puero atau kudzu (Pueraria sp.) dan Arachis sp. Peningkatan kesuburan tanah dapat dilakukan melalui mulsa yang berasal dari hijauan hasil pangkasan tanaman pagar, tanaman strip rumput dan sisa tanaman. Bahan tersebut disebarkan diatas permukaan tanah secara rapat untuk menghindari kerusakan permukaan tanah dari terpaan hujan. Bahan hijauan atau sisa tanaman juga dapat ditumpuk memanjang searah kontur, terutama bagi bahan hijauan yang mempunyai struktur memanjang seperti batang dan daun jagung atau jerami padi dengan maksud menghambat laju aliran permukaan. Mulsa biasanya merupakan kombinasi antara sisa tanaman yang cepat melapuk dan lambat melapuk. Bahan hijauan atau biomasa yang cepat melapuk (seperti sisa tanaman kacang-kacangan) berguna untuk memperbaiki struktur tanah dan menyediakan hara secara cepat, sedangkan biomasa yang relative lambat melapuk (jerami padi, batang jagung) berguna untuk menghambat laju aliran permukaan. 3. Sistem Wanatani, merupakan sistem usahatani yang menggabungkan tanaman tahunan (kayu-kayuan) dengan komoditas lain yang paling menguntungkan. Wanatani sering disamakan dengan sistem pertanaman lorong (alley cropping). Budidaya lorong adalah system dimana tanaman semusim (pangan dan sayuran) ditanam di lorong antara barisan tanaman pagar. Pangkasan dari tanaman pagar digunakan untuk sebagai mulsa yang dapat menyumbangkan hara terutama nitrogen, bagi tanaman lorong. Setelah berumur sekitar 6 bulan atau setelah mencapai ketinggian yang dapat menaungi tanaman utama, tanaman pagar dipangkas pada ketinggian 50 – 60 cm dari permukaan tanah. Daun-daun tanaman pagar yang dipangkas disebarkan di permukaan tanah. Pemangkasan tanaman pagar dilakukan dengan interval 2-4 bulan sekali, tergantung pada kecepatan pertumbuhannya. Jarak antara dua baris tanaman pagar pencegah erosi ditentukan dengan menggunakan rumus VI/HI = % kemiringan lahan (VI = tinggi vertical, dan HI = jarak horizontal). Untuk mendapatkan jarak horizontal (HI), VI harus ditetapkan terlebih dahulu, berkisar antara 0,50-1,00 m untuk lereng 25%. Jenis tanaman pagar yang sesuai untuk pengendali erosi dan sekaligus sebagai pakan ternak antara lain: a) gamal (Gliricidia sepium); b) lamtoro gung (Leucaena leucocephala); c) turi (Sebania grandiflora); d) janti (Sebania sesban); e) kaliandra (Calliandra calothyrsus) Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber :1) Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 47/Permentan/OT.140/10/2006 tentang "Pedoman Umum Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan;2) Dihimpun dari berbagai sumber